Beranda » Artikel » Prof. Ahmad Najib Burhani: Ma’had Aly Harus Melampaui Romantisme Sejarah dan Menjadi Pelopor Inovasi Sains

Prof. Ahmad Najib Burhani: Ma’had Aly Harus Melampaui Romantisme Sejarah dan Menjadi Pelopor Inovasi Sains

Pesantren dan Ma’had Aly memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi yang berkontribusi terhadap kemajuan peradaban.

Namun, potensi itu tidak akan berkembang apabila tradisi keilmuan Islam hanya berhenti pada kebanggaan terhadap kejayaan masa lalu tanpa diikuti upaya menghasilkan pengetahuan dan menjawab tantangan zaman.

Baca Juga: Kuliah Umum Marhalah Tsaniyah: Gus Reza Jelaskan Sinergi Sains dan Agama

Gagasan ini menjadi salah satu pokok pemaparan Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani, M.A., M.Sc., Ph.D.

Dalam Plenary Session I Al-Multaqa Ad-Dawli Lid Dirasat Al-Islamiyah Wal Hadariyah (Mu’tamad) 2026 di Aula Al-Muktamar, Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, pada Jumat (30/10/2026).

Di forum tersebut, Prof. Najib mengajak kalangan pesantren dan Ma’had Aly untuk meninjau kembali orientasi pengembangan keilmuan Islam di tengah pesatnya kemajuan sains, globalisasi, dan transformasi digital.

Menurutnya, lembaga pendidikan Islam tidak cukup hanya mempertahankan warisan intelektual para ulama semata, tetapi juga perlu mengembangkannya menjadi sumber pengetahuan dan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.

Melampaui Romantisme Sejarah Keemasan Islam

Mengawali pembahasannya, Prof. Najib menyoroti kecenderungan sebagian masyarakat muslim yang masih terjebak dalam romantisme sejarah kejayaan peradaban Islam pada masa lampau.

Kemajuan ilmu pengetahuan dalam peradaban Islam, khususnya pada abad ke-8 hingga ke-12 Masehi, kerap menjadi sumber kebanggaan yang terus dikenang.

Nama-nama ilmuwan besar seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Al-Biruni, hingga Ibnu Khaldun kerap dihadirkan sebagai bukti besarnya kontribusi intelektual Islam terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dunia.

Meski demikian, menurut Prof. Najib, kebanggaan terhadap sejarah itu tidak semestinya berhenti pada kekaguman terhadap pencapaian para pendahulu.

Generasi muslim masa kini, termasuk kalangan pesantren, perlu melanjutkan tradisi keilmuan tersebut melalui pengembangan pengetahuan, penelitian, dan inovasi yang mampu menjawab persoalan kontemporer.

Generasi pesantren, tegasnya, tidak boleh hanya menjadi pengagum sejarah kejayaan Islam.

Mereka harus berani melampaui romantisme masa lalu dan mengambil peran sebagai penghasil ilmu pengetahuan serta inovator yang mampu berkontribusi terhadap kemajuan peradaban dunia.

Dalam konteks ini, pesantren dan Ma’had Aly didorong untuk bertransformasi dari sekadar pewaris dan pengkaji khazanah intelektual Islam menjadi lembaga yang turut memproduksi ilmu pengetahuan.

Dengan begitu, kontribusi keilmuan Islam tidak hanya menjadi bagian dari catatan sejarah, melainkan pula terus berkembang dalam kehidupan modern.

Lebih jauh, Prof. Najib turut menyoroti maraknya fenomena pseudoscience atau sains semu di tengah masyarakat muslim.

Fenomena ini muncul ketika suatu pandangan atau praktik diklaim memiliki dasar ilmiah, padahal tidak ditopang oleh metodologi dan pembuktian yang memadai.

Kecenderungan tersebut, ujarnya, perlu menjadi perhatian lantaran tradisi intelektual Islam sesungguhnya memiliki warisan keilmuan yang kaya, termasuk dalam pengembangan penalaran rasional dan pendekatan empiris.

Salah satu contoh yang ia kemukakan adalah ilmu falak, disiplin keilmuan yang selama ini dipelajari dan dikembangkan dalam tradisi pendidikan pesantren serta Ma’had Aly.

Selama ini, pemanfaatan ilmu falak kerap dikaitkan dengan kebutuhan penentuan kalender Hijriah, waktu ibadah, dan rukyat hilal.

Padahal, menurut Prof. Najib, disiplin itu memiliki peluang pengembangan yang lebih luas apabila dipadukan dengan metodologi dan kemajuan teknologi modern.

Penguasaan ilmu falak, ungkapnya, dapat menjadi landasan guna mengembangkan berbagai teknologi terapan, mulai dari sistem pemetaan, kompas digital, hingga teknologi navigasi berbasis presisi.

Melalui contoh tersebut, Prof. Najib menekankan pentingnya mengembangkan disiplin keilmuan yang telah diwariskan para ulama agar tidak berhenti pada penggunaan konvensional, tetapi terus menghasilkan manfaat baru seiring perkembangan sains dan teknologi.

Pesantren dan Pengembangan Inovasi Berbasis Kebutuhan Masyarakat

Di samping mendorong pengembangan ilmu pengetahuan, Prof. Najib menempatkan pesantren, Ma’had Aly, dan organisasi kemasyarakatan Islam sebagai bagian penting dalam membangun ekosistem sains nasional.

Menurutnya, pengembangan sains tidak harus selalu identik dengan teknologi berbiaya tinggi (high-tech), fasilitas laboratorium modern, ataupun penelitian yang membutuhkan dukungan infrastruktur besar.

Sebaliknya, lembaga pendidikan berbasis pesantren memiliki peluang untuk mengembangkan inovasi yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat di lingkungan sekitarnya.

Pendekatan tersebut dikenal sebagai grassroots innovation atau inovasi akar rumput, yakni pengembangan teknologi dan pengetahuan terapan yang lahir dari persoalan masyarakat serta diarahkan untuk memberikan solusi yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Dalam kerangka ini, pengembangan teknologi sederhana (low-tech) tetap memiliki nilai penting selama mampu menjawab persoalan konkret dan memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.

Inovasi, katanya, tidak harus selalu diwujudkan melalui teknologi yang rumit dan mahal.

Pengembangan teknologi sederhana yang mampu menyelesaikan persoalan masyarakat juga merupakan bagian penting dari kemajuan ilmu pengetahuan.

Pandangan demikian sekaligus memperluas pemahaman mengenai kontribusi pesantren terhadap kemajuan sains.

Pesantren tidak harus menunggu tersedianya fasilitas teknologi yang kompleks untuk memulai pengembangan inovasi, tetapi dapat memanfaatkan potensi keilmuan dan sumber daya yang telah dimiliki.

Lebih jauh, Prof. Najib menekankan pentingnya mempertemukan metodologi sains modern dengan tradisi pembacaan literatur klasik Islam atau turats yang selama ini menjadi kekuatan utama pendidikan pesantren.

Kedalaman penguasaan turats dapat dipadukan dengan pendekatan ilmiah yang berbasis pengamatan, penelitian, dan pembuktian empiris.

Integrasi tersebut membuka peluang bagi lahirnya pengembangan keilmuan yang tidak hanya memiliki landasan intelektual kuat, tetapi juga relevan dengan perkembangan pengetahuan modern.

Di sisi lain, tradisi spiritual dan etika yang melekat dalam pendidikan pesantren dapat memberikan orientasi moral bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Dengan demikian, kemajuan sains, menurutnya, tidak semata-mata diukur berdasarkan kecanggihan teknologi atau capaian akademik, tetapi juga melalui kontribusinya terhadap kemaslahatan manusia, baik dalam dimensi kehidupan lahiriah maupun pembentukan akhlak (khalqan wa khuluqan).

Disrupsi Digital dan Tantangan Etika Perkembangan Sains

Memasuki pembahasan perihal tantangan masa depan, Prof. Najib menyoroti perkembangan teknologi yang semakin memengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk tatanan sosial, ekonomi, dan otoritas keagamaan.

Kemajuan teknologi informasi dan media sosial telah mengubah pola interaksi masyarakat serta cara manusia memperoleh, menyebarkan, dan memahami pengetahuan.

Perubahan ini semakin kompleks dengan hadirnya kecerdasan buatan (artificial intelligence), teknologi finansial (financial technology/fintech), serta berbagai inovasi dalam bidang biomedis dan rekayasa teknologi.

Prof. Najib mencontohkan perkembangan rekayasa genetika (genome editing), teknologi sel punca (stem cell), hingga konsep cybernetic organism atau cyborg, yang menggabungkan unsur biologis dengan perangkat teknologi.

Perkembangan itu, ungkapnya, tidak hanya menghadirkan peluang kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi juga memunculkan persoalan baru yang berkaitan dengan etika, moralitas, dan hukum Islam.

Di sinilah Prof. Najib melihat pentingnya peran Ma’had Aly sebagai lembaga pendidikan tinggi keagamaan yang memiliki tradisi pendalaman fikih dan ushul fikih.

Berbagai persoalan yang muncul akibat perkembangan teknologi membutuhkan respons keilmuan yang komprehensif.

Respons tersebut tidak cukup hanya bertumpu pada penguasaan literatur klasik semata, tapi juga menuntut pemahaman yang memadai terhadap karakteristik dan implikasi teknologi yang sedang berkembang.

Dalam konteks ini, tradisi bahtsul masail memiliki ruang pengembangan yang luas sebagai forum untuk mendialogkan persoalan kontemporer dengan metodologi hukum Islam.

Kajian fikih muamalah, misalnya, memiliki relevansi dalam merespons perkembangan teknologi finansial dan perubahan sistem transaksi ekonomi.

Sementara itu, kemajuan biomedis dan rekayasa genetika menuntut pendalaman persoalan melalui pendekatan fikih medis (al-fiqh al-thibb).

Persoalan-persoalan di atas menunjukkan bahwa perubahan teknologi turut menghadirkan kebutuhan baru dalam pengembangan kajian fikih kontemporer.

Oleh karenanya, mahasantri tidak cukup hanya memiliki kemampuan membaca dan memahami kitab-kitab klasik.

Mereka juga perlu menguasai cara menerapkan prinsip dan kaidah hukum Islam (qawa’id fiqhiyyah) untuk menganalisis berbagai persoalan yang muncul akibat perkembangan sains.

Kemampuan tersebut, tegasnya, menjadi penting agar kajian hukum Islam mampu memberikan panduan etis dan normatif terhadap kemajuan teknologi, sekaligus memastikan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan tetap memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan (al-insaniyyah) dan peradaban (al-hadariyyah).

Integrasi Turats dan Sains untuk Masa Depan Ma’had Aly

Melalui keseluruhan pemaparannya, Prof. Najib menegaskan bahwa pengembangan peradaban Islam tidak dapat dilakukan dengan mengisolasi diri dari perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan zaman.

Sebaliknya, pesantren dan Ma’had Aly perlu membangun keterbukaan terhadap perkembangan sains dan teknologi tanpa meninggalkan karakter serta fondasi keilmuan yang telah diwariskan para ulama.

Tradisi sanad, kedalaman penguasaan literatur turats, serta ketelitian metodologi dalam kajian keislaman tetap menjadi kekuatan yang harus dipertahankan.

Namun, kekuatan itu perlu diimbangi dengan kemampuan membaca realitas, mengembangkan penelitian, dan memperluas jejaring kerja sama keilmuan, termasuk pada tingkat internasional.

Dengan pendekatan tersebut, Ma’had Aly harapannya tidak hanya melahirkan kader ulama yang mendalam pemahamannya terhadap agama (faqih fid-din), tetapi juga memiliki kepekaan intelektual dalam merespons perkembangan sains, teknologi, dan berbagai persoalan kemanusiaan.

Sejumlah gagasan yang disampaikan Prof. Najib di atas, menempatkan pengembangan sains sebagai bagian dari tanggung jawab intelektual lembaga pendidikan Islam.

Baca Juga: Para Pakar Bahas Pelestarian Turats hingga Daya Saing Global Ma’had Aly, dalam Sesi Pleno Mu’tamad

Sebagai penekanan akhir dari gagasannya, Prof. Najib menggarisbawahi pentingnya menjadikan pesantren dan Ma’had Aly bukan hanya sebagai penjaga tradisi keilmuan Islam, melainkan juga sebagai penggerak kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban.

Penguasaan warisan intelektual Islam harus berjalan beriringan dengan keberanian menghadapi perkembangan sains dan teknologi, pungkasnya.

(ed. Zaeini)

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less