Beranda » Berita » Para Pakar Bahas Pelestarian Turats hingga Daya Saing Global Ma’had Aly, dalam Sesi Pleno Mu’tamad

Para Pakar Bahas Pelestarian Turats hingga Daya Saing Global Ma’had Aly, dalam Sesi Pleno Mu’tamad

Kediri – Setelah menyelesaikan rangkaian sesi paralel, Konferensi Internasional Al-Multaqa Ad-Dawli Lid Dirasat Al-Islamiyah Wal Hadariyah (Mu’tamad) 2026 berlanjut ke Plenary Session II yang berlangsung di Aula Al-Muktamar, Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jumat (30/10/2026) siang, mulai pukul 13.30 WIB.

Para peserta yang sebelumnya mengikuti diskusi paralel di tiga lokasi berbeda kembali berkumpul guna menyimak pemaparan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang keilmuan.

Baca Juga: Panelis Mu’tamad Bahas Transformasi Pesantren hingga Isu Kemanusiaan dalam Sembilan Ruang Diskusi Parallel

Sesi pleno ini menjadi salah satu agenda utama Mu’tamad yang menghadirkan pembahasan mengenai pelestarian khazanah keilmuan Islam klasik (turats), hubungan Islam dan sains, penguatan daya saing Ma’had Aly, hingga pengembangan jaringan keilmuan internasional.

Melalui forum itulah, para narasumber menyampaikan gagasan dan pandangan yang berkaitan dengan tema besar Mu’tamad 2026, yakni “Menuju Pesantren Transformatif dalam Kajian Islam, Kemanusiaan, dan Peradaban Dunia”.

Syekh Muhyiddin Awwamah Tekankan Pentingnya Pelestarian Turats

Sesi pleno II menghadirkan Prof. Dr. Syekh Muhyiddin Awwamah dari Darul Hadits Al-Awwamiyah, Istanbul, Turki yang menyampaikan materinya secara daring melalui platform Zoom.

Dalam pemaparannya, Syekh Muhyiddin menekankan pentingnya menjaga keberlangsungan tradisi keilmuan Islam klasik di tengah perkembangan zaman.

Menurutnya, umat Islam, khususnya di Indonesia, memiliki tanggung jawab untuk terus menghidupkan dan mengembangkan khazanah intelektual yang diwariskan para ulama terdahulu.

“Salah satu kewajiban orang muslim di Indonesia adalah menghidupkan khazanah keilmuan turats dan tahqiq al-makhtutat,” tuturnya.

Ia juga menyoroti pentingnya pengembangan ensiklopedia kitab-kitab klasik sebagai bagian dari upaya menjaga dan memperluas akses terhadap warisan keilmuan Islam.

Ia berpandangan bahwa pelestarian turats dan pengkajian manuskrip klasik perlu terus diupayakan supaya khazanah intelektual para ulama tidak tergerus oleh perkembangan zaman.

Pesan itu menjadi pengingat akan pentingnya peran lembaga pendidikan Islam, termasuk pesantren dan Ma’had Aly, dalam menjaga kesinambungan tradisi keilmuan melalui pengkajian, penelitian, dan pengembangan literatur klasik.

Islam dan Sains hingga Penguatan Daya Saing Ma’had Aly

Pembahasan berikutnya disampaikan oleh Dr. Farid F. Saenong, M.A., Ph.D., Staf Khusus Menteri Agama Bidang Pendidikan, Organisasi Kemasyarakatan, dan Moderasi Beragama.

Dalam materinya, ia mengulas hubungan erat antara Islam dan perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang sains.

Farid F. Saenong memaparkan bahwa sejarah peradaban Islam memiliki rekam jejak panjang dalam perkembangan ilmu pengetahuan melalui kontribusi para ilmuwan muslim.

Untuk memperkuat penjelasannya, Farid menyebutkan sejumlah ilmuwan muslim yang memiliki kontribusi dalam bidang sains.

Ia juga menyoroti bagaimana kiprah para ilmuwan tersebut cenderung kurang mendapat perhatian dibandingkan dengan tokoh-tokoh sains dari dunia Barat.

Melalui pembahasan ini, ia mengajak peserta melihat kembali hubungan antara tradisi intelektual Islam dan perkembangan sains sebagai bagian dari khazanah peradaban yang perlu terus dikaji.

Sementara itu, Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani, M.A., M.Sc., Ph.D., Direktur Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek RI), menyoroti posisi Ma’had Aly dalam menghadapi persaingan akademik di tingkat internasional.

Menurutnya, kekhasan keilmuan yang dimiliki Ma’had Aly, terutama penguasaan bahasa Arab dan literatur keislaman, dapat menjadi modal penting untuk mengembangkan kapasitas akademik yang mampu bersaing secara global.

“Meskipun kita memiliki spesialis, khususnya bahasa Arab, tapi bukan tidak mungkin kita juga bisa ikut bersaing di dunia internasional,” ungkapnya.

Selain menyinggung penguatan daya saing akademik, Ahmad Najib turut membahas peluang beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) bagi mahasantri yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Pembahasan tersebut membuka wawasan tentang pentingnya pengembangan kompetensi dan akses pendidikan lanjutan bagi lulusan Ma’had Aly agar dapat memperluas kontribusi keilmuan di tingkat nasional maupun internasional.

Regulasi Pendidikan Pesantren dan Jaringan Keilmuan Internasional

Pada sesi berikutnya, Dr. KH. Afifuddin Dimyati dari Ma’had Aly Darul Ulum Jombang turut menyampaikan pemaparan ilmiah dengan menggunakan bahasa Arab.

Ia juga menampilkan makalah berbahasa Arab sebagai bahan presentasi dalam forum pleno tersebut.

Selanjutnya, KH. Muhibbul Aman Aly selaku Dosen Marhalah Tsaniyah Ma’had Aly Lirboyo menyoroti pentingnya penyusunan regulasi yang benar-benar mendukung pengembangan pendidikan pesantren.

Dalam pemaparannya, ia mengingatkan agar penyelenggaraan pendidikan tidak mudah terjebak dalam ketentuan administratif yang justru dapat membatasi tujuan utama pendidikan.

Melalui forum Mu’tamad 2026, Kiai Muhib menyampaikan pesan kepada pemerintah agar regulasi pendidikan pesantren disusun secara tepat dan berorientasi pada pembentukan santri yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga berpegang pada nilai-nilai kebenaran.

Menurutnya, regulasi semestinya menjadi instrumen pendukung bagi lembaga pendidikan dalam mencetak generasi santri yang pintar dan benar, bukan sekadar ketentuan administratif yang harus dipenuhi.

Adapun pemaparan terakhir disampaikan oleh Dr. KH. Reza Ahmad Zahid, Lc., M.A., yang mengangkat materi berjudul “Konstruksi Jaringan Keilmuan Internasional Era Imperial dan Kolonial”.

Baca Juga: Konferensi Internasional Mu’tamad 2026 Resmi Dibuka di Ma’had Aly Lirboyo, Hadirkan 200 Panelis

Melalui tema ini, pembahasan sesi pleno turut menjangkau persoalan jaringan keilmuan internasional dalam konteks sejarah, khususnya pada masa imperial dan kolonial.

Ragam gagasan yang disampaikan para pakar memperlihatkan luasnya cakupan pembahasan dalam forum Mu’tamad.

Dengan demikian Mu’tamad tak hanya memberikan perhatian terhadap pelestarian khazanah intelektual Islam, namun juga membahas pengembangan keilmuan, kebijakan pendidikan, dan peluang kontribusi Ma’had Aly dalam dunia akademik internasional. (ed. Zaeini)

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less