Beranda » Artikel » Sebulan Belajar Ilmu Hadis di Turki: Refleksi tentang Sanad, Manhaj, dan Adab Ulama

Sebulan Belajar Ilmu Hadis di Turki: Refleksi tentang Sanad, Manhaj, dan Adab Ulama

Mempelajari disiplin ilmu hadis, pada hakikatnya tidak cukup hanya dengan membaca kitab dan menguasai teori semata.

Dalam tradisi keilmuan Islam, hubungan antara guru dan murid, keteladanan adab, serta pemahaman terhadap manhaj keilmuan para ulama menjadi bagian penting yang saling berkelindan erat dan menjadi bagian daripada proses menuntut ilmu.

Baca Juga: Syekh Muhyiddin Awwamah: Perbedaan Pendapat Fuqaha Berakar pada Metodologi Memahami Hadis

Tradisi inilah yang saya rasakan secara langsung tatkala berkesempatan mengikuti Dauroh Ilmu Hadis di Darul Hadis Awwamiyyah, Istanbul, Turki, pada 8 September–5 Oktober 2026 lalu.

Selama mengikuti dauroh tersebut, kami berkesempatan belajar langsung kepada sejumlah ulama dan Masyayikh, di antaranya Syekh al-‘Allamah al-Muhaddits Muhammad Awwamah, Syekh Prof. Dr. Muhyiddin Awwamah, dan Syekh Muhammad Harun.

Kesempatan ini memberikan pengalaman berharga, bukan hanya dalam memperdalam ilmu hadis, tetapi juga mengenal lebih dekat tradisi belajar, adab, dan manhaj keilmuan yang mereka warisi dari para ulama terdahulu.

Di antara manfaat terbesar yang kami peroleh dari dauroh ini adalah kesempatan untuk mengamati secara langsung perilaku (haliyah) para ulama sebelum menyelami baris-baris tulisan mereka, serta menyaksikan keadaan dan keseharian mereka sebelum mendengarkan perkataannya.

Bagi saya, pengalaman semacam ini merupakan fragmen penting dalam menuntut ilmu.

Sebab, ada banyak pelajaran perihal adab dan keteladanan yang tidak cukup dipahami hanya melalui bacaan saja, namun perlu disaksikan secara langsung (musyahadah) dari kehidupan seorang guru.

Pembelajaran Intensif dari Pagi hingga Malam

Selama mengikuti dauroh, kami menjalani kegiatan pembelajaran yang cukup intensif sejak pagi hingga malam.

Setiap harinya, kegiatan dimulai pukul 09.00 pagi dengan membaca kitab secara bersama-sama, kemudian berlanjut dengan munaqasyah ilmiah dan musyafahah bersama Syekh Muhyiddin Awwamah.

Pada siang hari, kami juga berkesempatan mengunjungi perpustakaan pribadi Syekh Muhammad Awwamah.

Di sana, kami dapat membaca sekaligus mengenal lebih dekat berbagai literatur keislaman yang beliau miliki, khususnya karya-karya dalam bidang ilmu hadis.

Kesempatan demikian memberikan pengalaman tersendiri bagi kami untuk melihat secara langsung khazanah keilmuan yang selama ini menjadi bagian dari tradisi intelektual para ulama salaf.

Selepas itu, pembelajaran berlanjut bersama Syekh Muhammad Harun dengan mendalami metodologi takhrij hadis, baik secara teoretis maupun praktis.

Kami juga berkesempatan melaksanakan salat Ashar berjamaah bersama Syekh Muhammad Awwamah, sekaligus mengambil berbagai faedah keilmuan dari beliau.

Syekh Muhyiddin Awwamah berfoto bersama penulis & peserta Dauroh di Darul Hadis Awwamiyyah, Istanbul Turki

Memasuki malam hari, kami kembali mengikuti pembelajaran bersama Syekh Muhyiddin Awwamah yang membahas berbagai persoalan terkait manhaj keilmuan.

Setelah seluruh rangkaian kegiatan bersama para guru selesai, kami kemudian melanjutkan pembacaan kitab secara mandiri di asrama dengan target bacaan mencapai puluhan hingga seratus halaman.

Pola pembelajaran itu mengajarkan kepada kami akan pentingnya kesungguhan dan kedisiplinan dalam menuntut ilmu.

Pembacaan kitab, diskusi, praktik, hingga pendalaman materi secara mandiri menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi satu-sama lain.

Dengan cara inilah, kami tak hanya memahami suatu persoalan melalui penjelasan teoretis, tapi juga mempelajari bagaimana para ulama menerapkan metode keilmuan mereka secara langsung.

Mengkaji Hadis, Manhaj Imam, dan Adab Keilmuan

Selama giat dauroh berlangsung, kami mengkaji sejumlah karya Syekh al-‘Allamah al-Muhaddits Muhammad Awwamah dan Syekh Prof. Dr. Muhyiddin Awwamah.

Di antara kitab-kitab yang kami pelajari ialah Atsar al-Hadits fi Ikhtilaf al-A’immat al-Fuqaha’. Adab al-Khilaf, Ma‘alim Irsyadiyyah li Shina‘at Thalib al-‘Ilm, Manhaj al-Imam al-Bukhari.

Manhaj al-Imam Muslim, Manhaj Ahl al-Sunnah, al-Madkhal ila ‘Ilm al-Hadits al-Syarif, al-Hawasyi al-Madaniyyah, dan Hukm al-‘Amal bi al-Hadits al-Dha’if, serta beberapa karya lainnya.

Melalui kitab-kitab tersebut, kami mendalami berbagai persoalan dalam ilmu hadis, mulai dari metodologi para imam hadis, perbedaan pendapat di kalangan ulama, tradisi bermadzhab, hingga adab dan metode dalam menuntut ilmu.

Dari pembelajaran ini, saya semakin memahami bahwa kajian hadis tidak hanya melulu berkenaan dengan aspek teknis periwayatan atau penilaian terhadap kualitas suatu hadis semata.

Lebih daripada itu, mempelajari hadis juga menuntut pemahaman terhadap manhaj para ulama dalam mengkaji, memahami, maupun menggunakan hadis sebagai landasan keilmuan.

Hal demikian juga berlaku ketika mempelajari perbedaan pendapat di kalangan ulama (ikhtilaf al-aimmah).

Kita tidak cukup sebatas mengetahui bahwa para imam memiliki pandangan yang berbeda, melainkan pula perlu memahami alasan, metode, serta landasan ilmiah yang melatarbelakangi perbedaan itu.

Dengan demikian, seorang penuntut ilmu dapat menyikapi perbedaan pendapat secara lebih bijak dan tetap menjaga adab sebagaimana yang telah dicontohkan para ulama.

Menjaga Mata Rantai Keilmuan

Salah satu faidah yang saya peroleh dari giat dauroh ini adalah bahwa ilmu hadis tidak semestinya dipahami sebagai disiplin ilmu yang cukup dipelajari melalui kitab atau buku.

lantaran, di balik kitab-kitab yang kita baca terdapat mata rantai keilmuan (sanad) yang menghubungkan para ulama dengan guru-guru mereka, kemudian terus bersambung kepada generasi berikutnya.

Kitab memang menyediakan berbagai rumusan, penjelasan, serta pembahasan ilmiah yang dapat kita pelajari.

Namun, melalui bimbingan sosok guru, kita dapat memahami lebih jauh konteks, metode, dan adab yang menyertai proses keilmuan tersebut.

Karenanya, kesempatan belajar secara langsung kepada para ulama memiliki peranan yang sangat penting.

Melalui pertemuan dan interaksi dalam halaqah atau majelis ilmu, kami tidak hanya memperoleh tambahan pengetahuan, namun juga dapat mengamati bagaimana para ulama menjalani kehidupan, mengajarkan ilmu, serta menjaga tradisi keilmuan yang mereka warisi.

Pengalaman ini semakin menyadarkan saya bahwa menuntut ilmu bukan hanya tentang seberapa banyak kitab yang berhasil kita baca atau seberapa luas pengetahuan yang dapat kita kuasai.

Di samping itu, seorang penuntut ilmu juga perlu memperhatikan bagaimana ilmu tersebut membentuk pola pikir, sikap, dan adab dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam rangkaian dauroh ini, Syekh Muhyiddin Awwamah juga mengajarkan kepada kami sebuah doa berikut:

اللهم صل وسلم على سيدنا محمد مفتاح خزائن رحمتك، اللهم افتح لنا بسيدنا محمد ما أغلق علينا من خيري الدنيا والآخرة، اللهم صل على سيدنا محمد النبي الأمي وعلى آله وصحبه وسلم

Allahumma shalli wa sallim ala Sayyidina Muhammad miftahi khazaini rahmatika. Allahumma iftah lana bi Sayyidina Muhammad ma ughliqa alaina min khairayid dunya wal akhirah. Allahumma shalli ala Sayyidina Muhammad an-nabiyyil ummiyyi wa ala alihi wa shahbihi wa sallim.

Doa di atas menjadi salah satu faedah yang kami peroleh selama mengikuti pembelajaran.

Di samping mendalami berbagai persoalan keilmuan, kami juga memperoleh pengajaran yang mengingatkan pentingnya menjaga hubungan spiritual kepada Allah serta kecintaan kepada Rasulullah SAW dalam perjalanan menuntut ilmu.

Bagi saya, mengikuti Dauroh Ilmu Hadis di Darul Hadis Awwamiyyah merupakan pengalaman yang memberikan banyak pelajaran.

Selain memperluas wawasan mengenai ilmu hadis dan manhaj para ulama, kegiatan ini juga memberikan kesempatan untuk menyaksikan secara langsung keteladanan, kesungguhan, serta adab para guru dalam menjaga tradisi keilmuan Islam.

Pengalaman itu kelak akan menjadi bekal berharga bagi kami untuk senantiasa belajar, memperdalam pemahaman, dan menjaga tanggung jawab keilmuan sebagai seorang penuntut ilmu.

Pasalnya, menjaga khazanah ilmu hadis bukan hanya berarti membaca dan mempelajari karya-karya para ulama, tetapi juga memahami manhaj, meneladani adab, serta meneruskan tradisi keilmuan yang telah mereka wariskan.

Baca Juga: Tuntaskan Dauroh Hadis, Tiga Utusan Ma’had Aly Lirboyo Raih Predikat Mumtaz di Wisuda Awwamah Center Indonesia

Sebagai penutup, melalui giat dauroh ini saya semakin memahami bahwa ilmu tidak hanya hidup dalam baris-baris tulisan, tetapi juga dalam keteladanan para ulama yang mengajarkannya.

Dari merekalah kita belajar bahwa menjaga kesinambungan ilmu sama dengan menjaga adab, manhaj, serta hubungan keilmuan antara guru dan murid lintas generasi. (ed. Zaeini)

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less