Beranda » Artikel » Pentingnya Menghargai Waktu dalam Menuntut Ilmu, Begini Nasihat Para Ulama

Pentingnya Menghargai Waktu dalam Menuntut Ilmu, Begini Nasihat Para Ulama

Waktu merupakan aset berharga yang sudah sepantasnya disyukuri oleh setiap individu.

Sebab, waktu bersifat terbatas dan tidak dapat kembali setelah berlalu. Bagaimana seseorang menggunakan waktunya akan sangat memengaruhi kualitas kehidupan yang ia jalani.

Menghargai waktu tidak hanya berkaitan dengan produktivitas atau seberapa banyak pekerjaan yang dapat diselesaikan.

Baca Juga: Dari Kaum Rebahan Menjadi Penggerak Perubahan: Saatnya Gen Z Bangkit dari Jeratan Algoritma

Lebih dari itu, menghargai waktu berarti memahami nilai setiap kesempatan dalam kehidupan dan menggunakannya untuk sesuatu yang bermanfaat. Apa yang dilakukan hari ini akan turut menentukan kehidupan seseorang pada masa mendatang.

Karena itu, waktu perlu dikelola sebaik mungkin. Dalam kehidupan seorang penuntut ilmu, pengelolaan waktu bahkan memiliki kedudukan yang sangat penting.

Kesempatan belajar yang tersedia perlu dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh, mulai dari masa muda hingga akhir kehidupan.

Belajar Sepanjang Hayat

Dalam tradisi keilmuan Islam, dikenal ungkapan yang cukup populer yakni:

اُطْلُبُوا الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إِلَى اللَّحْدِ

“Carilah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat.”

Ungkapan tersebut menggambarkan bahwa belajar tidak mengenal batas usia. Seseorang dituntut terus belajar sejak masa kecil hingga akhir hayatnya.

Semangat semacam ini dapat ditemukan dalam kisah Hasan bin Ziyad, salah seorang murid Imam Abu Hanifah.

Dikisahkan bahwa ia baru mulai mendalami ilmu fikih ketika berusia 80 tahun. Setelah itu, ia mencurahkan kesungguhannya untuk mempelajari fikih selama 40 tahun.

Kemudian, ia menghabiskan 40 tahun berikutnya untuk memberikan fatwa hingga mencapai usia 160 tahun. (Lihat: Ibrahim bin Ismail, Syarh Ta’limul Muta’allim, [Kediri: Dar Al-Kotob Assalafi], h. 86)

Kisah itu menunjukkan bahwa menuntut ilmu bukanlah sebuah fase terbatas yang selesai tatkala seseorang meraih gelar atau menamatkan pendidikan formal.

Menuntut ilmu merupakan perjalanan panjang tanpa titik henti, yang membentang sejak awal kehidupan hingga seseorang mengembuskan napas terakhir.

Sejak masa kecil, ketika dunia pertama kali menyapa dengan berbagai hal baru, manusia terus menyerap pengetahuan. Pada fase awal kehidupan, penglihatan, pendengaran, dan pengalaman menjadi sarana belajar yang membentuk karakter dasar seseorang.

Seiring bertambahnya usia, proses belajar tidak lagi sebatas mengenali berbagai hal di sekitarnya, tetapi berkembang menjadi upaya memahami kehidupan, menajamkan cara berpikir, serta memperdalam pengetahuan agama dan realitas sosial.

Hakikat pembelajaran sepanjang hayat tersebut menegaskan bahwa tidak ada istilah terlambat atau terlalu tua untuk menuntut ilmu.

Pikiran dan hati seorang pencari ilmu tidak mengenal masa pensiun. Saat usia bertambah dan kekuatan fisik mulai berkurang, semangat untuk memahami serta memperbaiki diri semestinya justru semakin matang.

Setiap tahap kehidupan membawa pelajaran baru yang menuntut manusia untuk tetap menjadi seorang pembelajar.

Pada akhirnya, menjadikan kehidupan sebagai proses belajar yang terus berlangsung merupakan salah satu bentuk terbaik dalam menghargai waktu.

Karena, ketika seseorang berhenti belajar, ia kehilangan banyak kesempatan untuk mengembangkan dirinya dan memberi manfaat kepada orang lain.

Memanfaatkan Masa Muda untuk Menuntut Ilmu

Meskipun belajar berlangsung sepanjang hayat, masa muda memiliki keistimewaan tersendiri. Syekh Az-Zarnuji mengatakan:

أَفْضَلُ الْأَوْقَاتِ شَرْخُ الشَّبَابِ

“Waktu yang paling utama adalah masa awal usia muda.” (Az-Zarnuji, Ta’limul Muta’allim, [Kediri: Dar Al-Kotob Assalafiy], h. 86)

Masa muda merupakan salah satu fase paling berharga dalam kehidupan. Pada usia itu, pikiran berada dalam kondisi relatif segar, sementara tubuh memiliki energi yang besar untuk menjalani berbagai aktivitas.

Inilah masa ketika seorang pemuda memiliki kesempatan luas untuk menyerap pengetahuan sebelum berhadapan dengan berbagai kesibukan dan tanggung jawab yang semakin kompleks pada usia berikutnya.

Karenanya, memanfaatkan awal masa muda untuk menuntut ilmu bukan sekadar pilihan, namun merupakan kesempatan emas yang tidak akan kembali dalam bentuk yang sama.

Ilmu yang tertanam kuat pada masa ini dapat menjadi fondasi bagi perjalanan seseorang pada masa mendatang.

Ketika ketajaman berpikir berpadu dengan semangat muda yang belum mudah padam, setiap lembar kitab yang dibaca, setiap pelajaran yang dipahami, dan setiap waktu yang digunakan untuk belajar akan menjadi investasi berharga yang manfaatnya dapat dirasakan hingga akhir hayat.

Menentukan Prioritas dan Menghindari Kebiasaan Menunda

Selain memanfaatkan masa muda, langkah penting dalam menghargai waktu ialah menentukan prioritas.

Seseorang perlu mengidentifikasi tujuan jangka pendek maupun jangka panjang yang ingin dicapai, kemudian memusatkan tenaga dan perhatian pada hal-hal yang benar-benar mendukung tujuan tersebut.

Menentukan prioritas dapat membantu seseorang menghindari pemborosan waktu untuk aktivitas yang kurang penting.

Tanpa tujuan yang jelas, waktu mudah habis untuk berbagai kegiatan yang sebenarnya tidak memberikan manfaat berarti bagi perkembangan diri.

Dalam konteks ini, kebiasaan menunda atau prokrastinasi menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pengelolaan waktu.

Keinginan untuk terus menunda pekerjaan harus dikenali dan dilawan secara bertahap.

Sebab, pekerjaan yang terus ditangguhkan tidak hanya menyita waktu, tetapi juga dapat menumpuk menjadi beban yang semakin berat.

Bagi seorang santri atau penuntut ilmu, kesungguhan mempersiapkan pelajaran melalui muthala’ah juga menjadi bagian penting dalam menjaga waktu. KH. An’im Falahuddin Mahrus pernah mengingatkan melalui hadis:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.”

Pesan tersebut dapat menjadi pijakan dalam mengelola waktu. Seseorang perlu mampu memilah kegiatan yang bermanfaat dan meninggalkan hal-hal yang tidak berkaitan dengan tujuan utamanya.

Dengan demikian, waktu tidak mudah terkuras oleh berbagai aktivitas yang kurang diperlukan.

Salah satu langkah praktis yang dapat dilakukan ialah menyusun rencana harian atau mingguan. Mengatur jadwal membantu seseorang membagi waktu sesuai dengan target yang ingin dicapai.

Perencanaan yang baik juga membuat aktivitas lebih terarah sehingga seseorang dapat tetap fokus dan meminimalkan waktu yang terbuang.

Mengelola Kejenuhan dalam Belajar

Meski demikian, belajar secara terus-menerus bukan berarti memaksakan diri hingga melampaui batas kemampuan. Seorang penuntut ilmu juga perlu memiliki kecakapan dalam mengelola energi, kelelahan, dan kejenuhan.

Rasa bosan dan lelah di tengah proses belajar merupakan hal yang manusiawi. Kuncinya bukan berhenti belajar, melainkan mengelola kejenuhan dengan tepat.

Salah satu caranya ialah mengalihkan perhatian sementara kepada cabang ilmu lain yang tetap memberikan manfaat.

Setiap disiplin ilmu memiliki keindahan dan karakteristiknya masing-masing, layaknya menikmati hidangan dengan cita rasa yang beragam.

Ketika suatu kajian mulai terasa berat dan pikiran membutuhkan penyegaran, seseorang dapat berpindah sejenak kepada cabang ilmu lain yang lebih ringan atau menarik. Akibatnya, semangat belajar tetap terjaga tanpa harus meninggalkan proses pencarian ilmu.

Akhirnya, pengelolaan waktu yang efektif dalam menuntut ilmu membutuhkan perpaduan antara prioritas yang jelas, perencanaan yang matang, kedisiplinan dalam menghindari kebiasaan menunda, serta fleksibilitas dalam mengelola energi.

Baca Juga: Qana’ah di Era Digital: Solusi Syekh Nawawi Al-Bantani Menghadapi Tren FOMO dan Flexing

Masa muda perlu dimanfaatkan seoptimal mungkin, tetapi semangat belajar juga harus terus dijaga hingga akhir hayat.

Dengan cara itulah waktu tidak hanya berlalu menjadi hitungan usia semata, melainkan berubah menjadi rangkaian kesempatan yang dipenuhi ilmu dan manfaat.

Sebab, waktu yang digunakan untuk belajar, memperbaiki diri, dan melakukan sesuatu yang berguna merupakan investasi berharga bagi kehidupan sekarang maupun masa mendatang.

(ed. Zaeini)

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less