Beranda » Artikel » Qana’ah di Era Digital: Solusi Syekh Nawawi Al-Bantani Menghadapi Tren FOMO dan Flexing

Qana’ah di Era Digital: Solusi Syekh Nawawi Al-Bantani Menghadapi Tren FOMO dan Flexing

Media sosial perlahan telah mengubah wajah keseharian manusia masa kini. Setiap kali membuka gawai, kita disuguhi beragam unggahan tentang pencapaian, kemewahan, popularitas, hingga gaya hidup yang tampak sempurna.

Di antara fenomena yang nyaris mendominasi ruang digital tersebut adalah flexing, yakni kebiasaan memamerkan kekayaan atau pencapaian, serta FOMO (Fear of Missing Out), yaitu rasa takut tertinggal dari tren dan pengalaman orang lain.

Tanpa disadari, kedua fenomena itu menyeret banyak orang ke dalam perlombaan yang seolah tidak pernah berakhir. Manusia terus mengejar kemewahan material, popularitas, dan pengakuan sosial.

Standar kebahagiaan kemudian tidak lagi ditentukan oleh ketenteraman hati, melainkan oleh penilaian dan validasi orang lain.

Akibatnya, jiwa mudah merasa lelah, cemas, dan selalu merasa kekurangan. Apa yang dimiliki terasa tidak pernah cukup karena terus dibandingkan dengan kehidupan orang lain yang ditampilkan di media sosial.

Di tengah riuh dan distorsi kehidupan digital itulah, Syekh Nawawi Al-Bantani melalui karyanya yang berjudul Salālim al-Fuḍalā’ Syarḥ Hidāyah al-Adzkiyā’ menawarkan sebuah penawar spiritual yang sederhana, tetapi sangat ampuh, yaitu konsep qana’ah.

Meskipun berasal dari khazanah tasawuf klasik, konsep ini tetap kontekstual sebagai terapi spiritual bagi manusia modern yang terjebak dalam budaya FOMO dan flexing.

Menyejajarkan Hati dengan Penguasa Dunia

Dalam pengertian umum, qana’ah sering dimaknai dengan istilah Jawa nerimo ing pandum, yakni sikap puas, rela, dan menerima rezeki yang telah dibagikan oleh Allah SWT. Namun, dalam kajian tasawuf, qana’ah memiliki makna yang jauh lebih mendalam daripada sekadar menerima keadaan.

Qana’ah merupakan kemerdekaan hati dari ketergantungan terhadap materi. Seseorang yang memiliki sifat ini tetap berusaha dan bekerja, namun tidak membiarkan kebahagiaannya bergantung sepenuhnya pada hasil duniawi.

Imam asy-Syafi’i, sebagaimana dikutip dalam tradisi pemikiran tersebut, memberikan sebuah analogi yang menarik:

إذا ما كنت ذا قلب قنوع * فأنت ومالك الدنيا سواء

“Apabila engkau memiliki hati yang qana’ah, niscaya engkau dan penguasa dunia berada dalam kedudukan yang sejajar.” (Salālim al-Fuḍalā’ Syarḥ Hidāyah al-Adzkiyā’, [Kediri: Maktabah al-Kamal], h. 29)

Mengapa orang yang qana’ah dapat disejajarkan dengan penguasa dunia? Sebab, esensi tertinggi dari kekuasaan dan kekayaan bukan terletak pada banyaknya harta, melainkan pada hadirnya rasa cukup.

Seorang penguasa mungkin memiliki kekayaan yang melimpah ruah, tetapi apabila hatinya masih dikuasai keinginan, ia tetap merasa miskin.

Sebaliknya, seseorang yang memiliki sedikit harta, tetapi hatinya merasa cukup, telah mencapai kemerdekaan yang tidak bisa dibeli dengan materi.

Ketika seorang hamba berhasil membebaskan hatinya dari ketergantungan terhadap dunia, ia tidak mudah dikendalikan oleh tren, popularitas, maupun validasi orang lain.

Ia tidak merasa harus membeli sesuatu hanya karena sedang ramai dibicarakan. Ia juga tidak merasa rendah hanya karena kehidupannya tidak semewah unggahan orang lain di media sosial.

Qana’ah Bukan Alasan untuk Bermalas-malasan

Konsep qana’ah juga meluruskan kekeliruan manusia dalam memahami hubungan antara usaha dan rezeki. Syekh Nawawi Al-Bantani menegaskan bahwa sikap tenang dalam bekerja tidak akan mengurangi bagian rezeki yang telah ditetapkan oleh Allah.

Sebaliknya, kerja keras yang melampaui batas hingga mengorbankan kesehatan, ketenteraman jiwa, keluarga, dan kewajiban beribadah juga tidak akan mampu menambah bagian rezeki yang telah digariskan.

Prinsip ini bukan berarti mengajak manusia untuk pasif atau bermalas-malasan. Islam tetap memerintahkan umatnya untuk berikhtiar secara sungguh-sungguh.

Namun, ikhtiar itu harus disertai kesadaran bahwa hasil akhir tetap berada dalam ketentuan Allah.

Dengan demikian, qana’ah mendidik manusia agar tidak meletakkan seluruh kebahagiaannya pada hasil material semata. Kebahagiaan seharusnya ditemukan dalam keberkahan proses, kejujuran usaha, ketenangan hati, serta kesadaran bahwa Allah telah mengatur rezeki setiap makhluk-Nya.

Dalam konteks kehidupan digital, sikap ini penting agar seseorang tidak merasa harus bekerja tanpa batas hanya demi mempertahankan citra, mengikuti gaya hidup tertentu, atau memenuhi standar kesuksesan yang dibentuk oleh media sosial.

Memangkas Keinginan, Meraih Keberuntungan

Bagi orang yang menginginkan kebahagiaan sejati, terutama mereka yang berorientasi pada kehidupan akhirat, qana’ah menjadi salah satu terapi utama.

Penerapannya dapat dimulai dengan melatih diri untuk meninggalkan kebiasaan konsumtif, berlebih-lebihan, dan membanggakan diri melalui kepemilikan materi.

Syekh Nawawi Al-Bantani menjelaskan bahwa latihan tersebut berkaitan dengan tiga kebutuhan mendasar dalam kehidupan manusia, yaitu makanan, pakaian, dan tempat tinggal.

Seseorang perlu belajar merasa cukup dalam memenuhi ketiga kebutuhan itu serta tidak menjadikannya sebagai sarana untuk bersaing dan memamerkan status sosial.

Merasa puas bukan berarti menolak kenikmatan dunia secara mutlak. Qana’ah mengajarkan keberanian untuk menahan diri dari gaya hidup mewah yang berlebihan dan tidak diperlukan. Dalam sebuah hadis disebutkan:

طُوبَى لِمَنْ هُدِيَ لِلْإِسْلَامِ، وَكَانَ رِزْقُهُ كَفَافًا، وَرَضِيَ بِهِ

“Beruntunglah orang yang mendapat petunjuk kepada Islam, memperoleh rezeki yang mencukupi, dan merasa puas dengannya.” (Salālim al-Fuḍalā’ Syarḥ Hidāyah al-Adzkiyā’, [Kediri: Maktabah al-Kamal], h. 30)

Riwayat di atas menunjukkan bahwa keberuntungan tidak selalu identik dengan kekayaan yang melimpah.

Keberuntungan sejati justru dimiliki oleh orang yang mendapatkan petunjuk iman, memiliki rezeki yang cukup untuk menjalani kehidupan, serta dikaruniai hati yang rela dan puas. Dalam riwayat lain disebutkan:

إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا جَعَلَ رِزْقَهُ كَفَافًا

“Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia menjadikan rezekinya berada dalam kadar yang mencukupi.” (Salālim al-Fuḍalā’ Syarḥ Hidāyah al-Adzkiyā’, [Kediri: Maktabah al-Kamal], h. 30)

Rezeki yang mencukupi merupakan keadaan yang menjaga keseimbangan hidup manusia. Ia tidak berlebihan hingga mendorong seseorang bersikap sombong, lalai, maupun sewenang-wenang.

Namun, rezeki itu juga tidak terlalu sedikit hingga menghalangi atau mempersulitnya dalam beribadah.

Kadar yang cukup inilah yang membantu menjaga stabilitas mental dan spiritual manusia. Dalam dunia digital yang terus mendorong konsumsi, qana’ah mengajarkan bahwa tidak semua yang terlihat menarik harus dimiliki dan tidak semua tren harus diikuti.

Dua Kunci Istimewa Menuju Surga

Dalam Kitab Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn karya Hujjatul Islam Al-Ghazali, yang menjadi salah satu rujukan penting dalam tradisi spiritual Islam, mengisahkan sebuah gambaran indah tentang keadaan manusia pada hari kiamat.

Dikisahkan bahwa kelak terdapat sekelompok umat Nabi Muhammad SAW yang dianugerahi sayap oleh Allah Mereka terbang langsung dari kubur menuju surga dan menikmati berbagai kenikmatan di dalamnya.

Mereka tidak melewati proses hisab, tidak meniti jembatan ṣirāṭ, dan tidak melihat neraka Jahanam.

Para malaikat kemudian bertanya dengan penuh keheranan mengenai amal yang mereka lakukan selama hidup di dunia. Kelompok tersebut menjelaskan bahwa mereka senantiasa menjaga dua perkara.

Pertama, mereka memiliki rasa malu yang tinggi kepada Allah. Mereka merasa malu untuk bermaksiat kepada-Nya, bahkan ketika berada dalam keadaan sendirian dan tidak ada seorang pun yang melihat.

Kedua, mereka memiliki mentalitas qana’ah. Mereka selalu merasa puas dan rida terhadap sedikit rezeki yang dibagikan oleh Allah SWT selama hidup di dunia. (Lihat: Salālim al-Fuḍalā’ Syarḥ Hidāyah al-Adzkiyā’, [Kediri: Maktabah al-Kamal], h. 30)

Kisah ini menjadi teguran bagi manusia masa kini yang terkadang rela menanggalkan rasa malu hanya demi membuat konten, meraih popularitas, atau memperoleh perhatian dari pengguna media sosial. Demi mengejar materi dan pengakuan publik, batas-batas halal dan haram tidak jarang diabaikan.

Padahal, pengawasan Allah tidak pernah berhenti meskipun manusia tidak melihat. Kesadaran inilah yang melahirkan rasa malu spiritual, yaitu rasa malu untuk bermaksiat bukan akibat takut diketahui manusia, melainkan karena menyadari bahwa Allah senantiasa mengetahui setiap perbuatan.

Ketika rasa malu kepada Allah dipadukan dengan sikap qana’ah, manusia akan memiliki benteng yang kuat dalam menghadapi godaan dunia digital.

Ia tidak mudah mempertontonkan sesuatu yang merusak kehormatan dirinya dan tidak merasa perlu memamerkan setiap kenikmatan yang dimiliki.

Jebakan Hal-Hal yang Tidak Diperlukan

Pada bagian lain, Syekh Ibrahim Al-Syabarakhiti memberikan sebuah peringatan yang sangat relevan dengan kehidupan di media sosial:

من يطلبن ما ليس يعنيه * فقد فات الذي يعنيه من غير ائتلا

“Barang siapa mencari sesuatu yang tidak diperlukan, niscaya sesuatu yang benar-benar diperlukannya akan hilang tanpa dapat ditunda.” (Lihat: Salālim al-Fuḍalā’ Syarḥ Hidāyah al-Adzkiyā’, [Kediri: Maktabah al-Kamal], h. 31)

Ungkapan tersebut menyadarkan manusia bahwa perhatian, waktu, dan tenaga memiliki batas. Ketika seseorang terlalu sibuk mengejar sesuatu yang tidak bermanfaat, ia berpotensi kehilangan perkara yang jauh lebih penting.

Di era digital, manusia sangat rentan menghabiskan waktu, energi, dan uang untuk hal-hal yang sebenarnya tidak membawa kemanfaatan nyata bagi masa depannya.

Waktu dapat habis untuk permainan tanpa batas, gurauan kosong, perdebatan yang tidak produktif, aktivitas yang merusak kehormatan diri, serta ambisi mengejar popularitas dan pujian warganet.

Ketika manusia sibuk mengejar materi, kedudukan, dan pengakuan yang tidak esensial, ia sebenarnya sedang melakukan pertukaran yang merugikan.

Ia menukar waktu yang sangat berharga dengan kesenangan sesaat yang tidak selalu memberikan ketenteraman.

Waktu yang telah habis untuk aktivitas konsumtif dan berlebihan tidak akan pernah dapat diputar kembali. Pada akhirnya, manusia justru kehilangan hal yang paling dibutuhkannya, yaitu ketenangan jiwa, kedekatan dengan Allah, hubungan yang sehat dengan sesama, dan bekal untuk kehidupan akhirat.

Qana’ah sebagai Rem Spiritual

Qana’ah bukanlah ajaran untuk berhenti berkembang, menghindari kemajuan, atau menolak teknologi. Lebih daripada itu, Qana’ah merupakan kemampuan untuk menempatkan dunia secara proporsional.

Dunia tetap dicari, namun di sisi lain tidak dibiarkan menguasai hati. Teknologi tetap digunakan, tetapi tidak dibiarkan menentukan harga diri manusia.

Melalui qana’ah, seseorang dapat menggunakan media sosial tanpa harus terjebak dalam FOMO. Ia mampu melihat keberhasilan orang lain tanpa merasa rendah. Ia juga dapat menikmati rezeki yang diberikan Allah tanpa terdorong untuk memamerkannya kepada orang lain.

Qana’ah juga membantu manusia membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Tidak semua keinginan harus dipenuhi, tidak semua tren harus diikuti, dan tidak semua pencapaian harus diumumkan.

Ada kenikmatan yang justru menjadi lebih berkah ketika disyukuri dalam keheningan.

Pada akhirnya, qana’ah menjadi semacam rem spiritual yang menghentikan manusia ketika kehidupan digital mulai membawanya kehilangan arah.

Ia mengembalikan pusat kebahagiaan dari pandangan manusia menuju rida Allah, dari banyaknya kepemilikan menuju rasa cukup, serta dari ambisi duniawi menuju ketenangan jiwa dan investasi akhirat.

Di tengah budaya digital yang terus berkata: Kamu masih kurang. Sikap qana’ah mengajarkan manusia untuk menjawab dengan penuh kesadaran: Apa yang Allah berikan telah cukup, dan apa yang berada di sisi-Nya jauh lebih baik. (ed. Zaeini)

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less