Gus Reza Ulas 6 Jalur Penyebaran Ilmu Islam dan Strategi Internasionalisasi Ma’had Aly
- account_circle M. Farid Mujiburrahman
- calendar_month 7/11/2026
- visibility 88
- comment 0 komentar
- label Artikel
Pengembangan keilmuan Islam tidak pernah berlangsung secara terpisah dari jaringan sosial, politik, dan intelektual yang melingkupinya.
Sepanjang sejarah peradaban Islam, penyebaran ilmu pengetahuan selalu ditopang oleh kesinambungan sanad, dukungan kelembagaan, serta hubungan antarpusat keilmuan yang memungkinkan gagasan dan tradisi intelektual berkembang melintasi batas geografis.
Baca Juga: KH. Muhibbul Aman Aly: Transformasi Ma’had Aly Jangan Sampai Menghilangkan Jati Diri Pesantren
Gagasan ini menjadi pokok pemaparan Rektor Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri, Dr. KH. Reza Ahmad Zahid, Lc., M.A., dalam sesi terakhir Plenary Session I.
Al-Multaqa Ad-Dawli Lid Dirasat Al-Islamiyah Wal Hadariyah (Mu’tamad) 2026 yang diselenggarakan di Aula Al-Muktamar, Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, pada Jumat (30/10/2026).
Dalam pemaparannya, ulama yang akrab disapa Gus Reza ini menguraikan enam saluran utama penyebaran keilmuan Islam sepanjang sejarah, sekaligus merumuskan empat strategi yang dapat dikembangkan Ma’had Aly dan pesantren guna memperluas jejaring akademik internasional.
Menurutnya, penguatan jejaring keilmuan tidak cukup jika hanya mengandalkan warisan tradisi, tapi juga memerlukan kemampuan membaca perubahan zaman, membangun kemandirian akademik, serta memanfaatkan teknologi dan dukungan kelembagaan.
Enam Saluran Penyebaran Keilmuan dalam Sejarah Islam
Mengawali pembahasannya, Gus Reza menelusuri perkembangan jaringan intelektual Islam sejak masa kekhalifahan hingga era kolonial.
Ia mengidentifikasi enam saluran yang berperan dalam memperluas pengaruh keilmuan, mazhab, dan tradisi keagamaan ke berbagai kawasan dunia.
1. Dukungan otoritas politik (al-da’m al-hukumi)
Menurut pandangan Gus Reza, kekuasaan politik memiliki pengaruh penting terhadap perkembangan dan penyebaran suatu mazhab atau aliran pemikiran.
Dalam sejarah Islam, dukungan para pemegang kebijakan (ashab al-qarar) kerap menjadi faktor yang memperkuat kedudukan suatu mazhab di tengah masyarakat.
Ia mencontohkan perkembangan pemikiran Muktazilah pada masa Abbasiyah, pengaruh mazhab Syafi’i di Kerajaan Samudra Pasai dan Kesultanan Mataram Islam, serta kedudukan mazhab tertentu dalam sistem keagamaan sejumlah negara modern.
Di antaranya adalah mazhab Syafi’i di Malaysia dan Brunei Darussalam, Hanafi di Afghanistan, serta Hanbali di Qatar.
Melalui contoh di atas, Gus Reza menunjukkan bahwa penyebaran keilmuan Islam tidak hanya berlangsung melalui aktivitas para ulama, melainkan pula berkaitan dengan kebijakan dan dukungan otoritas politik.
2. Gerakan penerjemahan (harakat al-tarjamah)
Aktivitas penerjemahan menjadi salah satu saluran penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan pada masa peradaban Islam klasik.
Gus Reza mencontohkan keberadaan Baitul Hikmah pada era Kekhalifahan Abbasiyah yang berperan dalam penerjemahan berbagai karya filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani ke dalam bahasa Arab.
Melalui gerakan tersebut, khazanah intelektual dari berbagai peradaban dapat dipelajari, dikembangkan, dan dikaji secara sistematis oleh para ilmuwan muslim.
Gerakan penerjemahan, ungkapnya, memperlihatkan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan membutuhkan keterbukaan terhadap sumber-sumber keilmuan dari luar tradisi sendiri.
3. Aktivitas perdagangan (al-tijarah)
Di samping menjadi sarana pertukaran komoditas, perdagangan juga berperan sebagai jalur penyebaran ajaran dan tradisi keilmuan Islam.
Menurut Katib Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Periode 2026-2031 tersebut, jaringan perdagangan maritim memiliki kontribusi penting dalam perkembangan Islam di Nusantara.
Melalui interaksi para pedagang dan guru sufi dari Arab, Persia, serta India, berbagai corak keilmuan Islam turut berkembang di kawasan ini.
Di antaranya adalah mazhab Syafi’i, teologi Asy’ariyah, dan tradisi tarekat sufi yang kemudian menjadi bagian penting dari kehidupan keagamaan masyarakat Nusantara.
Sehingga, hubungan ekonomi dan mobilitas perdagangan tidak hanya membangun jaringan antarmasyarakat, namun juga membuka ruang bagi pertukaran pengetahuan serta penyebaran tradisi keagamaan.
4. Jaringan madrasah, sanad, serta tradisi ifta’ dan istifta’
Gus Reza menempatkan lembaga pendidikan dan kesinambungan transmisi keilmuan sebagai unsur penting dalam pembentukan jaringan intelektual Islam.
Ia mencontohkan Madrasah Nizamiyah di Baghdad serta pusat-pusat keilmuan Haramain, yakni Makkah dan Madinah, yang memiliki peran besar dalam mempertemukan ulama dari berbagai wilayah.
Melalui lembaga-lembaga itulah, proses pembelajaran, transmisi sanad, dan penyebaran tarekat berlangsung melintasi batas geografis.
Jaringan ini juga diperkuat oleh tradisi korespondensi keilmuan, khususnya dalam bidang hukum Islam melalui praktik al-ifta’ wa al-istifta’, yakni penyampaian fatwa dan permohonan jawaban atas persoalan keagamaan.
Salah satu contoh yang dikemukakan Gus Reza adalah hubungan keilmuan antara ulama Nusantara dan Haramain, sebagaimana tercermin dalam kitab Ithaf al-Zaki karya Syekh Ibrahim al-Kurani.
Tradisi demikian, katanya, menunjukkan bahwa hubungan keilmuan antardaerah telah lama menjadi bagian dari perkembangan intelektual Islam, bahkan sebelum hadirnya sarana komunikasi modern.
5. Krisis politik dan sosial (al-azmah al-siyasiyyah)
Menurut Gus Reza, perubahan besar dalam sejarah politik Islam juga dapat memengaruhi arah penyebaran keilmuan dan spiritualitas.
Ia mencontohkan invasi Mongol yang mengakhiri kekuasaan Abbasiyah di Baghdad.
Peristiwa tersebut tidak hanya membawa perubahan politik, tetapi juga berkaitan dengan perkembangan kebutuhan spiritual masyarakat.
Dalam situasi itu, tradisi tasawuf memperoleh ruang penyebaran yang semakin luas ke berbagai wilayah dunia Islam.
Artinya, krisis politik dan sosial tidak selalu menghentikan perkembangan tradisi keilmuan.
Pada kondisi tertentu, perubahan tersebut justru dapat mendorong perpindahan ulama dan perluasan jaringan intelektual serta spiritual.
6. Ekspansi militer dan kekuasaan
Perluasan wilayah politik juga menjadi salah satu jalur penyebaran mazhab dan pemikiran keagamaan.
Gus Reza mencontohkan ekspansi Kekhalifahan Utsmaniyah yang turut memperluas pengaruh mazhab Hanafi dan teologi Maturidiyah di berbagai wilayah kekuasaannya.
Hal ini memperlihatkan bahwa perkembangan jaringan keilmuan Islam memiliki hubungan yang erat dengan dinamika kekuasaan dan perubahan geopolitik.
Keenam saluran di atas menunjukkan bahwa perkembangan peradaban Islam tidak hanya ditopang oleh kedalaman intelektual para ulama semata, tetapi juga oleh kemampuan membangun hubungan antarlembaga, antarmasyarakat, dan antarpusat kekuasaan.
Empat Strategi Ma’had Aly Memperluas Jejaring Internasional
Setelah menguraikan pengalaman sejarah, Pengasuh Pondok Pesantren HM Al-Mahrusiyyah Lirboyo tersebut mengarahkan pembahasannya pada tantangan pengembangan jaringan keilmuan pesantren dan Ma’had Aly dalam menghadapi globalisasi.
Menurutnya, pola penyebaran ilmu pengetahuan pada masa lalu tidak dapat diterapkan begitu saja dalam konteks kehidupan modern.
Perubahan teknologi, sistem pendidikan, dan hubungan internasional menuntut strategi baru yang tetap berpijak pada kekhasan tradisi pesantren.
Dalam konteks itulah, ia mengemukakan empat langkah strategis yang dapat menjadi landasan pengembangan jejaring keilmuan Ma’had Aly.
1. Membawa misi peradaban (civilizational mission)
Pesantren dan Ma’had Aly perlu membangun kepercayaan diri untuk memperkenalkan kekayaan tradisi intelektual serta budaya lokal ke tingkat internasional.
Menurut pandangan Gus Reza, kuatnya pengaruh budaya Barat dalam tatanan global tidak seharusnya menjadikan pesantren kehilangan kepercayaan terhadap nilai-nilai yang tumbuh dalam tradisinya sendiri.
Sebaliknya, kearifan lokal (local wisdom) dan kebudayaan asli masyarakat (indigenous culture) dapat menjadi kekuatan dalam membangun kontribusi pesantren terhadap percakapan peradaban dunia.
Sebab itu, internasionalisasi keilmuan tidak hanya berarti mempelajari pengetahuan dari luar, tetapi juga memperkenalkan gagasan dan khazanah intelektual pesantren kepada masyarakat global.
2. Membangun kemandirian standardisasi keilmuan
Gus Reza menyoroti kecenderungan dunia akademik yang banyak menggunakan ukuran keberhasilan berdasarkan sistem pemeringkatan universitas, indeksasi publikasi internasional, serta pengakuan gelar formal.
Menurutnya, Ma’had Aly tidak seharusnya hanya menjadi penerima pasif standar akademik yang dikembangkan di luar tradisi keilmuan pesantren.
Ia mencontohkan penggunaan pemeringkatan universitas dan indeksasi Scopus sebagai bagian dari ukuran akademik yang berkembang dalam sistem pendidikan tinggi modern.
Namun, standar tersebut, tegasnya, tidak semestinya menjadi satu-satunya ukuran dalam menilai kualitas keilmuan pesantren.
Ma’had Aly perlu membangun tolok ukur akademik yang juga mempertimbangkan integritas moral, kesinambungan sanad, kedalaman penguasaan turats, serta kemampuan menerapkan metodologi keilmuan Islam.
Melalui pendekatan demikian, kekhasan pendidikan pesantren bisa memperoleh ruang pengakuan yang lebih proporsional tanpa harus mengabaikan perkembangan standar akademik.
3. Memperkuat penguasaan bahasa dan teknologi
Kemampuan membangun jaringan internasional juga sangat bergantung pada penguasaan sarana komunikasi yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Teknologi informasi dapat dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan penyebaran gagasan, hasil penelitian, serta karya-karya intelektual pesantren.
Selain itu, penguasaan bahasa internasional menjadi kebutuhan penting supaya pemikiran ulama Nusantara dapat diakses dan dipahami oleh komunitas akademik global.
Dalam hal ini, Gus Reza memberikan perhatian khusus terhadap penguatan bahasa Arab sebagai salah satu instrumen utama pengembangan jejaring keilmuan Islam.
Penguasaan bahasa dan teknologi, ungkapnya, tidak hanya menunjang komunikasi akademik, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan kekayaan khazanah keislaman Nusantara ke berbagai pusat keilmuan dunia.
4. Memperkuat pendanaan dan pengakuan negara
Pengembangan jaringan internasional membutuhkan dukungan kelembagaan yang berkelanjutan.
Menurut Gus Reza, kegiatan penelitian, penerjemahan karya-karya klasik, serta pengembangan kerja sama akademik tidak dapat berjalan secara optimal tanpa dukungan sumber daya yang memadai.
Karena itu, keberlanjutan program keilmuan pesantren membutuhkan pengakuan pemerintah (government recognition) serta dukungan pendanaan yang konsisten.
Dalam konteks Ma’had Aly, dukungan demikian juga berkaitan dengan penguatan kebijakan penyetaraan atau mu’adalah agar pengakuan terhadap sistem pendidikan pesantren dapat terus berkembang.
Pengakuan kelembagaan, katanya, perlu berjalan seiring dengan dukungan nyata terhadap kegiatan akademik, penelitian, dan pengembangan jejaring internasional.
Keempat strategi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kedudukan Ma’had Aly sebagai lembaga pendidikan tinggi yang memiliki akar tradisi keilmuan kuat sekaligus mampu berpartisipasi dalam perkembangan akademik global.
Pada bagian akhir pemaparan materi, Gus Reza mengungkapkan bahwa pengembangan jejaring internasional tidak boleh sampai menghilangkan karakter dasar pendidikan pesantren.
Pendidikan tidak semestinya dipahami hanya sebagai proses persiapan menghadapi kehidupan di masa depan. Lebih daripada itu, pendidikan merupakan bagian dari kehidupan itu sendiri, sebagaimana tercermin dalam ungkapan: “education is life itself.”
Pandangan ini memiliki relevansi dengan tradisi pendidikan pesantren yang menempatkan proses belajar sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Gus Awis Tekankan Tiga Fondasi Kurikulum Pesantren: Sanad, Al-Qur’an, dan Kemanusiaan
Melalui hubungan guru dan murid, pembentukan karakter, serta kesinambungan sanad keilmuan, pesantren memiliki kekhasan yang dapat menjadi kekuatan dalam membangun jejaring akademik internasional.
Karena itu, keterbukaan terhadap perkembangan global perlu berjalan beriringan dengan pemeliharaan tradisi keilmuan yang telah diwariskan para ulama.
Penguasaan turats, kedalaman sanad, dan kekayaan budaya lokal harus menjadi landasan bagi Ma’had Aly guna membangun hubungan keilmuan yang lebih luas, bukan justru ditinggalkan demi mengikuti perkembangan sistem pendidikan global, tandasnya. (ed. Zaeini)

Saat ini belum ada komentar