Beranda » Berita » Habib Salim bin Umar bin Hafidz Kunjungi Lirboyo, Isi Daurah Ilmiah Bersama Mahasantri Ma’had Aly

Habib Salim bin Umar bin Hafidz Kunjungi Lirboyo, Isi Daurah Ilmiah Bersama Mahasantri Ma’had Aly

Kediri — Ma’had Aly Lirboyo menerima kunjungan kehormatan dari Habib Salim bin Umar bin Hafidz, putra ulama kharismatik Yaman, Al-Habib Umar bin Hafidz. Pada Sabtu malam Ahad (19/04/2026).

Kunjungan tersebut menjadi momentum berharga bagi keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo. Sebelum agenda utama dimulai, Habib Salim terlebih dahulu sowan ke ndalem para masyayikh. Puncak kunjungan berlangsung dalam kegiatan Daurah Ilmiah.

Antusiasme Mahasantri Penuhi Lokasi Acara

Sejak sebelum acara dimulai, antusiasme mahasantri tampak jelas dari padatnya lokasi kegiatan dan banyaknya peserta yang hadir lebih awal. Aula acara dipenuhi mahasantri yang ingin menyimak langsung nasihat dan wawasan dari tamu istimewa asal Yaman tersebut.

Kegiatan ini dipandu oleh Agus Ahmad Mihyal Manutho Muhammad, yang bertindak sebagai pembawa acara sekaligus moderator. Seluruh rangkaian acara menggunakan bahasa Arab fusha, menambah nuansa ilmiah dan internasional dalam forum tersebut.

Dialog Menarik Sejak Awal Acara

Momen menarik terjadi sesaat setelah Habib Salim memegang mikrofon. Dalam bahasa Arab, beliau bertanya kepada para peserta,

“Apakah kalian membutuhkan sosok penerjemah?”

Pertanyaan itu langsung dijawab serempak oleh para mahasantri dengan jawaban tegas,

“Tidak!”

Jawaban spontan tersebut menggambarkan kesiapan mahasantri Ma’had Aly Lirboyo dalam mengikuti forum berbahasa Arab secara penuh. Sepanjang acara, seluruh sesi berlangsung menggunakan bahasa Arab, termasuk sesi tanya jawab yang diikuti tiga perwakilan mahasantri dengan penyampaian lugas dan fasih.

Bahas Dakwah antara Ketegasan dan Kelembutan

Daurah ilmiah malam itu mengangkat tema:

معيار التشديد والتخفيف في تبليغ الدعوة للأمة

Artinya: “Metode Penerapan Prinsip Pengetatan dan Peringanan dalam Penyampaian Syariat kepada Masyarakat.”

Tema tersebut sangat relevan dengan prinsip dakwah Pondok Pesantren Lirboyo yang menekankan keseimbangan antara ketegasan dalam prinsip dan kelembutan dalam penyampaian. Nilai ini juga sejalan dengan manhaj Nahdlatul Ulama yang mengedepankan wajah Islam rahmatan lil ‘alamin.

Meneladani Dakwah Rasulullah

Dalam pemaparannya, Habib Salim menyoroti bagaimana Rasulullah SAW mengedepankan kasih sayang dalam berdakwah. Beliau mengutip firman Allah dalam Surah Al-Ma’idah ayat 82:

 لَتَجِدَنَّ اَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوا الْيَهُوْدَ وَالَّذِيْنَ اَشْرَكُوْا

Artinya: “Pasti akan engkau dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (QS. Al-Ma’idah: 82)

Beliau kemudian menjelaskan kisah ketika Sayyidina Ali diutus Rasulullah SAW dalam sebuah peperangan. Dalam perjalanan, Sayyidina Ali bertanya tentang bagaimana menghadapi musuh. Rasulullah SAW justru menekankan agar mereka terlebih dahulu diajak kepada Islam.

Nabi bersabda bahwa memberi hidayah kepada satu orang lebih baik daripada harta paling berharga.

Dari kisah ini, Habib Salim menegaskan bahwa peperangan dan kekerasan bukanlah jalan utama dalam Islam, melainkan pilihan terakhir setelah upaya damai ditempuh.

Dakwah dengan Kata-Kata Lembut

Habib Salim juga mengutip ayat Al-Qur’an dalam Surah Thaha ayat 43–44 yang berbunyi:

اِذْهَبَآ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهُ طَغٰى فَقُوْلَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى

Artinya: “Pergilah kamu berdua kepada Fir‘aun! Sesungguhnya dia telah melampaui batas. Berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (QS. Thaha: 43–44)

Menurutnya, ayat ini menunjukkan bahwa bahkan kepada Fir’aun yang zalim pun Allah memerintahkan dakwah dengan kelembutan. Maka kepada sesama umat Islam dan masyarakat umum, pendekatan lembut tentu lebih utama untuk dikedepankan.

Dari penjelasan tersebut, Habib Salim menyimpulkan:

“Keras dalam menyampaikan agama merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanah.”

Pernyataan ini menjadi pesan mendalam bagi para mahasantri dan pendakwah agar senantiasa menjadikan hikmah, kasih sayang, dan kebijaksanaan sebagai dasar dalam berdakwah.

 

Penyerahan Cenderamata dan Buku Fikih Muwathonah

Usai penyampaian materi, acara dilanjutkan dengan sesi foto bersama antara Habib Salim beserta rombongan, para masyayikh, dan hadirin. Pada kesempatan tersebut, pihak Ma’had Aly Lirboyo menyerahkan cenderamata Kitab Fikih Muwathonah, yang disusun oleh Tim Bahtsul Masail Himpunan Alumni dan Santri Pondok Pesantren Lirboyo (HIMASAL).

Kitab tersebut membahas penerapan nilai-nilai keagamaan dalam bingkai kebangsaan. Fikih Muwathonah diterbitkan dalam dua bahasa, yakni Indonesia dan Arab. Edisi Arab inilah yang diserahkan kepada Habib Salim sebagai bentuk penghormatan dan pertukaran intelektual.

Penyerahan cenderamata dilakukan oleh Mudir ‘Am Ma’had Aly Lirboyo KH. Atho’illah S. Anwar mewakili para masyayikh Pondok Pesantren Lirboyo.

Malam itu menjadi momen yang berharga, yakni pertemuan antara tradisi keilmuan pesantren Nusantara dengan sanad keilmuan Hadramaut yang sama-sama berakar pada dakwah penuh kasih sayang. Kunjungan Habib Salim bin Umar bin Hafidz tidak hanya menjadi kehormatan, tetapi juga meneguhkan kembali bahwa pesantren merupakan ruang perjumpaan ilmu, adab, dan keberkahan lintas negeri. (ed. Zaeini)

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less