Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo Praktik Langsung Rukyatul Hilal di Lapangan Saat Kursus Falak
- account_circle M. Jihad Al-Khoiri
- calendar_month 20/05/2026
- visibility 67
- comment 0 komentar
- label Berita
Kediri — Badan Pengelola Ekstrakurikuler (BP Ekstra) Madrasah Hidayatul Mubtadiin dan Ma’had Aly Lirboyo menggelar kegiatan lanjutan dalam bidang ilmu falak melalui agenda Kursus Falak: Rukyatul Hilal pada Ahad, (17/05/2026).
Kegiatan ini menjadi bentuk implementasi langsung dari teori yang sebelumnya dibahas dalam seminar ilmiah falak. Melalui kursus tersebut, para mahasantri tidak hanya mempelajari konsep dan perhitungan secara teoritis namun juga mempraktikkan pengamatan hilal secara langsung di lapangan.
Digelar di Dua Lokasi Strategis
Untuk menjaga efektivitas pembelajaran dan intensitas praktik, panitia membagi kegiatan ke dalam dua lokasi berbeda, yaitu di Pondok Pesantren HM Lirboyo Papar dan MTs Al-Qur’an Al-Hikmah Purwoasri.
Masing-masing lokasi diikuti sekitar 20 mahasantri pilihan dari Marhalah Ula. Para peserta mendapat pendampingan langsung dari jajaran Dewan Mudir dan dosen pengampu ilmu falak Ma’had Aly Lirboyo.
Turut hadir mendampingi kegiatan tersebut Mudir Tiga K. Arif Ridlwan Akbar, Mudir Lima Bpk. Alfain Fahmi. Sementara dari unsur dosen turut hadir Kiai Zakariya Yusa’, Bpk. Ma’mun Izzul Azka serta perwakilan dari Lajnah Falakiyyah Pondok Pesantren Lirboyo.
Kehadiran mereka bertujuan memastikan seluruh praktik berjalan tepat, baik dari sisi astronomi maupun ketentuan fikih.
Padukan Kitab Turats dan Astronomi Modern
Salah satu aspek menarik dalam kursus ini ialah metode pembelajaran yang memadukan sistem klasik pesantren dengan teknologi astronomi modern.
Ma’had Aly Lirboyo mengintegrasikan metode perhitungan dalam kitab Tashilul Amtsilah yang menjadi bagian dari kurikulum falak dengan sistem ephemeris modern yang lazim digunakan dalam astronomi kontemporer.
Melalui perpaduan tersebut, para mahasantri mempelajari beberapa materi penting, di antaranya:
- Menentukan arah hakiki di lapangan,
- Mengukur azimut matahari dan bulan,
- Teknik rukyat hilal untuk penentuan awal bulan Qamariyah.
Dari Gawangan hingga Teleskop
Kursus ini juga mempertemukan dua generasi teknologi dalam praktik falak. Para mahasantri belajar menggunakan alat tradisional berupa “gawangan”, yakni alat bidik kayu konvensional yang selama ini dikenal dalam tradisi falak pesantren.
Di sisi lain, mereka juga mempraktikkan penggunaan teleskop optik modern untuk membantu pengamatan hilal secara lebih akurat.
Melalui praktik tersebut, para peserta diajak memahami bahwa ilmu falak tidak hanya berkaitan dengan teori angka dan perhitungan matematis saja melainkan juga butuh ketelitian observasi serta keterampilan teknis di lapangan.
Tantangan Lapangan dan Semangat Mahasantri
Mengubah deretan rumus dan angka menjadi visualisasi nyata di langit tentu bukan perkara mudah. Para mahasantri harus menyesuaikan hasil hisab dengan kondisi ufuk sebenarnya, sekaligus menghadapi tantangan medan dan cuaca yang berubah-ubah.
Namun demikian, semangat peserta tidak surut. Sepanjang kegiatan, mereka tampak antusias mengikuti setiap arahan dosen pengampu, mulai dari menyetel koordinat alat hingga mengamati ufuk barat menjelang terbenam matahari.
Beberapa peserta bahkan terlihat bergantian memeriksa posisi hilal melalui teleskop sambil mendiskusikan hasil pengamatannya dengan pembimbing.
Menyiapkan Mahasantri yang Siap Terjun ke Masyarakat
Melalui kursus ini, Ma’had Aly Lirboyo terus memperkuat integrasi antara teori dan praktik dalam pembelajaran ilmu falak.
Para mahasantri tidak hanya dibekali kemampuan membaca kitab dan memahami teori hisab-rukyat, namun juga dilatih memiliki keterampilan observasi astronomi secara langsung.
Bekal itu diharapkan mampu melahirkan kader mahasantri yang siap berkontribusi di tengah masyarakat, khususnya dalam persoalan penentuan waktu ibadah dan awal bulan hijriah secara tepat, akurat, dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah sesuai tuntunan syariat. (ed. Zaeini)

Saat ini belum ada komentar