Dauroh Ilmiah Ma’had Aly Lirboyo Angkat Urgensi Ilmu Manthiq, Hadirkan Dr. Habib Ali Baqir Al-Saqqaf
- account_circle M. Farid Mujiburrahman
- calendar_month 19/05/2026
- visibility 64
- comment 0 komentar
- label Berita
Kediri — Ma’had Aly Lirboyo kembali menyelenggarakan Dauroh Ilmiah Kedua pada Senin (18/05/2026) di Aula An-Nawawy. Kegiatan ini dihadiri jajaran Mudir, Dewan Dosen Ma’had Aly, serta ratusan peserta yang terdiri dari mahasantri Marhalah Ula, Marhalah Tsaniyah, serta siswa pilihan dari jenjang III Aliyah.
Antusiasme peserta tampak begitu tinggi. Area dalam aula dipenuhi mahasantri sejak sebelum acara dimulai. Bahkan, sebagian peserta rela menyimak materi dari luar ruangan karena aula sudah penuh sesak.
Angkat Tema Urgensi Ilmu Manthiq
Dauroh ilmiah kali ini mengangkat tema “Urgensi Ilmu Manthiq dalam Studi Ilmu Syariat”. Tema tersebut dipilih untuk meluruskan stigma yang berkembang di tengah masyarakat bahwa ilmu agama cukup dipahami secara tekstual tanpa melibatkan perangkat logika formal.
Dalam konteks keilmuan Islam, ilmu manthiq memiliki peran penting sebagai alat berpikir yang sistematis, terarah, dan terukur.
Di tengah tantangan pemikiran modern, ilmu ini juga menjadi salah satu benteng intelektual dalam menghadapi berbagai kekeliruan berpikir, termasuk sekularisme dan liberalisme.
Acara dimulai pukul 14.00 WIB dan dibuka oleh Mudir ‘Am Ma’had Aly Lirboyo, KH. Atho’illah Sholahuddin Anwar. Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya mempelajari ilmu manthiq sebagai bagian dari perangkat keilmuan Islam.
Senada dengan hal tersebut, moderator acara turut menguatkan urgensi manthiq dengan mengutip pernyataan Imam al-Ghazali dalam kitabnya al-Mustashfa:
من لا معرفة له بالمنطق لا يوثق بعلمه
“Orang yang tidak memahami ilmu manthiq, maka kredibilitas ilmunya patut dipertanyakan.”
Pernyataan ini menjadi pengingat bagi seluruh peserta bahwa ilmu manthiq memiliki kedudukan strategis dalam memahami hukum-hukum syariat secara tepat.
Hadirkan Ulama dan Akademisi Internasional
Untuk mengupas tema tersebut, Ma’had Aly Lirboyo menghadirkan Dr. Habib Zaenal Abidin Muhammad Baqir Al-Saqqaf, M.A. atau yang akrab dikenal sebagai Dr. Habib Ali Baqir.
Beliau merupakan cendekiawan Muslim, pengasuh Pondok Pesantren Masalikul Huda Tulungagung, sekaligus akademisi yang memiliki kepakaran dalam bidang Akidah, Ilmu Kalam, Ushul Fikih, dan Ilmu Manthiq.
Latar belakang pendidikan beliau menunjukkan garis keilmuan yang kuat dan tersambung dengan pusat-pusat peradaban Islam. Ia menempuh pendidikan menengah di Madrasah Al-Junied Al-Islamiah, Singapura, kemudian meraih gelar sarjana di Fakultas Syariah Universitas Al-Ahgaff, Tarim, Hadramaut, Yaman.
Selanjutnya, beliau menempuh jenjang magister dan doktoral dalam bidang Akidah dan Filsafat Islam di Yarmouk University serta The World Islamic Sciences and Education University (WISE), Yordania.
Selama belajar di Yordania, Dr. Habib Ali Baqir menjadi salah satu murid utama sekaligus wakil resmi di Asia Tenggara dari Syekh Dr. Said Foudah, salah satu teolog kontemporer yang menjadi rujukan penting dalam kajian akidah Ahlussunnah wal Jamaah.
Saat ini, beliau mengemban amanah sebagai Direktur Utama Kalam Research & Media (KRM) Malaysia dan penasihat Aslein Malaya.
Di tengah kesibukan tersebut, beliau aktif berdakwah dan mengajar di Malaysia, Singapura, dan Indonesia dengan misi menghidupkan kembali tradisi kajian kitab-kitab teologi klasik (turats) di kalangan generasi muda.
Materi Interaktif dan Antusiasme Peserta
Memasuki sesi inti, Dr. Habib Ali Baqir menyampaikan materi dengan gaya yang tegas, runtut, namun tetap santai. Sesekali beliau menyelipkan humor segar yang membuat suasana aula hidup dan tidak membosankan.
Para mahasantri tampak fokus menyimak serta mencatat poin-poin penting yang beliau sampaikan.
Antusiasme peserta semakin terlihat pada sesi tanya jawab. Banyak mahasantri ingin menyampaikan pertanyaan, namun karena keterbatasan waktu, moderator hanya memberikan kesempatan kepada tiga penanya.
Di akhir sesi, Kiai Arif Ridlwan Akbar selaku Mudir tiga Ma’had Aly meminta rekomendasi kitab-kitab manthiq yang sesuai untuk dipelajari berdasarkan tingkatan kemampuan.
Dr. Habib Ali Baqir kemudian memberikan arahan sejumlah kitab mulai dari tingkat pemula (mubtadi’) hingga tingkat lanjut (muntahi).
Sebagai penutup, Dr. Habib Ali Baqir menyampaikan pesan motivasi yang mendalam kepada seluruh peserta. Beliau menegaskan bahwa keberhasilan dalam menuntut ilmu tidak semata-mata ditentukan oleh kecerdasan, melainkan oleh ketekunan dan konsistensi.
“Keberhasilan bukanlah milik orang yang pandai, melainkan milik orang-orang yang konsisten.”
Pesan tersebut menjadi peneguh semangat bagi para mahasantri untuk terus mendalami ilmu agama dengan kesungguhan, kedisiplinan, dan ketekunan.
Meneguhkan Manthiq sebagai Piranti Ilmu Syariat
Melalui Dauroh Ilmiah ini, Ma’had Aly Lirboyo berharap semangat mahasantri dalam mendalami ilmu-ilmu syariat semakin tumbuh.
Di tengah derasnya tantangan pemikiran modern, penguasaan ilmu manthiq menjadi bekal penting bagi mahasantri agar mampu menjaga kemurnian pemahaman agama sekaligus menghadirkan argumentasi yang kokoh, ilmiah, dan bertanggung jawab. (ed. Erfin)

Saat ini belum ada komentar