Beranda » Berita » Kursus Perdana Ilmu Mantiq di Lirboyo Disambut Antusias, Al-Habib Ali Baqir Al-Saqqaf Soroti Pentingnya Logika

Kursus Perdana Ilmu Mantiq di Lirboyo Disambut Antusias, Al-Habib Ali Baqir Al-Saqqaf Soroti Pentingnya Logika

Badan Pengelola Ekstrakurikuler (BP Ekstra) Madrasah Hidayatul Mubtadiin mengadakan Kursus Perdana Ilmu Mantiq yang digelar pada Senin (25/05/2026) di Auditorium An-Nawawy.

Kegiatan yang dimulai pukul 14.00 WIB ini menghadirkan kembali Al-Habib Ali Baqir Al-Saqqaf, Lc., M.A., Ph.D.  sebagai pemateri utama setelah sebelumnya sukses mengisi agenda Dauroh Ilmiah sepekan lalu.

Kursus ini direncanakan berlangsung rutin setiap Senin Pon dan Senin Pahing. Peserta kegiatan meliputi mahasantri Ma’had Aly, baik Marhalah Ula maupun Marhalah Tsaniyah, serta siswa kelas III Aliyah.

Penyelenggara memilih tema ilmu mantiq karena disiplin ilmu ini dikenal sebagai salah satu pelajaran yang cukup kompleks dalam tradisi pesantren. Selain membutuhkan ketelitian berpikir, ilmu mantiq juga menuntut kemampuan memahami struktur logika dan penalaran secara sistematis.

“Gimana Ilmu Mantiq?”

Suasana auditorium yang semula tenang berubah hangat ketika Habib Ali Baqir Al-Saqqaf membuka sesi dengan sapaan ringan kepada peserta. “Gimana ilmu mantiq?” tanyanya sambil tersenyum.

Pertanyaan sederhana itu langsung memancing tawa ratusan peserta yang memenuhi ruangan. Dengan gaya santai namun tetap serius, beliau mulai mengajak para santri memahami bahwa kesulitan dalam mempelajari ilmu mantiq merupakan sesuatu yang sangat wajar.

Beliau bahkan membagikan pengalaman pribadinya saat masih menuntut ilmu di pesantren.

Untuk memahami dasar-dasar ilmu mantiq, beliau mengaku harus membaca kitab-kitab dasarnya tiga hingga empat kali lebih banyak dibanding kitab lain.

Kisah tersebut menjadi penyemangat tersendiri bagi para peserta bahwa proses belum paham di tahap awal belajar bukanlah kegagalan, melainkan bagian alami dari perjalanan menuntut ilmu.

Ilmu Mantiq sebagai Benteng Berpikir

Dalam pemaparannya, Habib Ali Baqir Al-Saqqaf menegaskan pentingnya ilmu mantiq di tengah perkembangan pemikiran modern. Beliau mengingatkan kembali materi dalam dauroh ilmiah sebelumnya bahwa logika merupakan motor penggerak cara berpikir manusia.

“Bayangkan, berapa banyak orang yang keluar-masuk Islam hanya karena logika,” tegas beliau.

Menurutnya, di era ketika filsafat Barat dan rasionalitas modern begitu diagungkan, ilmu mantiq hadir sebagai benteng yang menjaga ketepatan berpikir seorang Muslim.

Melalui ilmu ini, santri dilatih menyusun argumen secara runtut, memahami hubungan antar-premis, serta menghindari logical fallacy atau kesalahan berpikir yang dapat menyesatkan cara pandang dan bahkan merusak akidah.

Kritik terhadap Gaya Belajar Generasi Muda

Di sela-sela pemaparannya, Habib Ali Baqir Al-Saqqaf juga menyampaikan kritik terhadap sebagian pola belajar generasi muda saat ini. Beliau menilai masih banyak pelajar maupun santri yang merasa gengsi mempelajari kitab-kitab dasar karena dianggap terlalu sederhana.

Padahal, menurut beliau dalam tradisi keilmuan Islam tidak ada istilah kitab kelas rendah atau kelas tinggi. Perbedaan hanya terletak pada keluasan pembahasan.

Kitab kecil bersifat ringkas (ijmal), sedangkan kitab besar menjelaskan materi secara rinci dan mendalam (tafshil).

Beliau menegaskan bahwa tanpa pondasi yang kuat dari kitab-kitab dasar, seseorang akan kesulitan memahami kitab-kitab besar secara benar dan utuh.

Sesi Tanya Jawab Penuh Antusiasme

Antusiasme peserta semakin terlihat saat forum memasuki sesi tanya jawab. Tiga mahasantri mendapatkan kesempatan menyampaikan pertanyaan, termasuk salah satu peserta yang masih duduk di kelas III Aliyah.

Habib Ali Baqir Al-Saqqaf memuji kualitas pertanyaan para peserta yang dinilai menunjukkan keseriusan dalam memahami ilmu mantiq. Beliau kemudian menjawab seluruh pertanyaan dengan penjelasan yang runtut dan mudah dipahami.

Pesan Penutup yang Menggugah

Menjelang akhir acara, Habib Ali Baqir Al-Saqqaf menyampaikan pesan reflektif yang meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta.

“Sebenarnya kita punya banyak ulama yang luar biasa, hanya saja kita yang terlalu jauh dari mereka.”

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa kesulitan memahami agama sering kali bukan disebabkan oleh rumitnya ilmu, melainkan karena kurangnya kesungguhan dalam membaca dan menggali karya para ulama.

Dengan adanya kursus rutin semacam ini, penguasaan ilmu mantiq diharapkan menjadi bekal penting bagi para mahasantri dalam menghadapi tantangan pemikiran modern di tengah masyarakat. (ed. Erfin)

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less