3 Amalan Utama Menurut Ulama Salaf untuk Menggapai Berkah Bulan Muharam
- account_circle Erfin Surya Kurniawan
- calendar_month 15/06/2026
- visibility 2
- comment 0 komentar
- label Artikel
Bulan Muharam menempati posisi yang sangat istimewa dalam penaggalan Islam. Selain menjadi penanda datangnya tahun baru Hijriah, Muharam juga termasuk salah satu dari empat bulan suci (Asyhurul Hurum) yang dimuliakan oleh Allah SWT.
Karena kemuliaannya itu, bulan ini menjadi momentum yang tepat bagi setiap Muslim untuk melakukan muhasabah, memperbaiki diri, serta memperbanyak amal saleh sebagai bekal mengarungi tahun yang baru.
Di tengah masyarakat, datangnya Muharam seringkali disambut dengan berbagai tradisi dan kegiatan keagamaan. Namun, di balik beragam tradisi tersebut ada hal yang jauh lebih penting untuk dihidupkan yaitu amalan-amalan yang memiliki pijakan berdasarkan keterangan para ulama.
Para ulama salaf dalam berbagai kutub at-turats telah menjelaskan sejumlah amalan yang dianjurkan pada bulan Muharam. Di antara sekian banyak amalan tersebut, terdapat tiga amalan utama yang tidak hanya memperkuat hubungan seorang hamba dengan Allah, namun juga menumbuhkan keharmonisan keluarga serta kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Puasa Muharam: Ibadah Terbaik Setelah Ramadan
Amalan pertama yang paling dianjurkan sepanjang bulan Muharam adalah memperbanyak puasa sunnah. Setelah seorang Muslim ditempa selama sebulan penuh dalam madrasah Ramadan, puasa Muharam menjadi sarana untuk menjaga semangat ibadah agar tidak kembali menurun. Keutamaan puasa Muharam ini ditegaskan langsung oleh Rasulullah SAW dalam hadis berikut:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ
Artinya: “Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, yakni Muharam.” (HR. Muslim)
Penyebutan Muharam sebagai Syahrullah (bulan Allah) menunjukkan betapa agung kedudukannya di sisi Allah. Para ulama menjelaskan bahwa penyandaran nama bulan ini kepada Allah merupakan bentuk pemuliaan khusus yang menunjukkan besarnya nilai keutamaan amal saleh yang dilakukan di dalamnya.
Di antara hari-hari yang paling dianjurkan untuk berpuasa adalah tanggal 9 Muharam (Tasu’a) dan 10 Muharam (Asyura). Puasa Asyura dilakukan sebagai ungkapan syukur atas keselamatan Nabi Musa AS dan kaumnya dari kejaran Fir’aun.
Ketika mengetahui kaum Yahudi berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk rasa syukur, Rasulullah SAW lalu menyatakan bahwa umat Islam lebih berhak mengikuti jejak Nabi Musa AS. Namun, beliau juga menganjurkan untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharam agar terdapat perbedaan dengan tradisi kaum Yahudi.
Melalui puasa Tasu’a dan Asyura, seorang Muslim tidak hanya diajak mengenang sejarah perjuangan para nabi, tetapi juga memperkuat identitas keislaman dan meneladani sunnah Rasulullah SAW. Keutamaan puasa Asyura secara khusus dijelaskan dalam sabda Nabi SAW, yakni dapat menghapus dosa setahun yang telah lampau:
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
Artinya: “Dan Nabi ditanya tentang puasa hari Asyura (tanggal 10 Muharam), beliau bersabda: menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)
Imam Ibn Hajar Al-Asqalani dalam karyanya menjelaskan bahwa berbagai amalan besar seperti puasa Asyura dan Lailatul Qadar merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW.
Dengan usia yang relatif lebih pendek dibandingkan umat-umat terdahulu, umat Islam tetap diberi kesempatan meraih pahala yang sangat besar melalui amalan-amalan istimewa yang telah disediakan Allah. (Lihat: Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari (Beirut: Dar al-Ma’rifah), vol. 4, h. 245)
Melapangkan Nafkah Keluarga: Menanam Kebahagiaan dan Keberkahan
Jika puasa menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah, maka amalan berikutnya berkaitan dengan hubungan yang paling dekat dalam kehidupan manusia yaitu keluarga. Para ulama menganjurkan agar pada hari Asyura seseorang memberikan kelapangan nafkah kepada keluarganya.
Bentuknya dapat berupa memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan lebih baik dari biasanya, memberikan hadiah, atau menghadirkan suasana yang menyenangkan bagi anggota keluarga. Dalam kitab Hasyiyah I’anatut Thalibin disebutkan sebuah riwayat:
وَمَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ فِي يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ فِي سَائِرِ سَنَتِهِ
“Barangsiapa melapangkan nafkah kepada keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun tersebut.” (Abu Bakr bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, Hasyiyah I’anah At-Thalibin [Beirut: Dar al-Fikr], vol. 2, h. 302)
Anjuran ini tentu saja bukan ajakan untuk hidup berlebihan atau bermewah-mewahan. Sebaliknya, justru merupakan bentuk perhatian dan kasih sayang kepada keluarga yang bernilai ibadah. Islam mengajarkan bahwa sedekah terbaik dimulai dari orang-orang yang menjadi tanggung jawab kita sendiri.
Secara sosial dan psikologis, keluarga yang merasakan perhatian, kecukupan, dan kasih sayang akan tumbuh menjadi lingkungan yang harmonis. Kehangatan rumah tangga melahirkan rasa syukur, ketenangan, dan semangat dalam menjalani kehidupan.
Oleh karenanya, melapangkan nafkah pada hari Asyura bukan hanya berdampak pada aspek materi semata, melainkan pula bisa menjadi sarana membangun kebahagiaan yang mendatangkan keberkahan dalam keluarga.
Menyayangi Anak Yatim: Wujud Kepedulian Sosial dalam Islam
Selain memperkuat hubungan dengan Allah dan keluarga, Muharam juga mengajarkan pentingnya membangun kepedulian terhadap sesama, terutama mereka yang membutuhkan perhatian lebih.
Salah satu amalan yang sangat dianjurkan pada hari Asyura adalah menyantuni dan menyayangi anak yatim. Anak yatim merupakan kelompok yang kehilangan figur pelindung dalam hidupnya.
Karena itu, Islam memberikan perhatian yang sangat besar kepada mereka. Kepedulian terhadap anak yatim bukan hanya berupa bantuan materi, namun juga perhatian emosional dan kasih sayang yang tulus. Imam Abu Laits As-Samarqandi dalam Tanbihul Ghafilin menyebutkan:
مَنْ مَسَحَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِ يَتِيمٍ يَوْمَ عَاشُورَاءَ رَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ دَرَجَةً
“Barang siapa mengusap kepalanya seorang anak yatim pada hari Asyura, maka Allah Ta’ala akan mengangkat derajatnya satu tingkat untuk setiap helai rambut yang terkena usapannya.” (Tanbihul Ghafilin [Damaskus: Dar Ibn Katsir], vol. 1, h. 331)
Riwayat ini menggambarkan betapa besar penghargaan Islam terhadap sikap kasih sayang kepada anak yatim. Mengusap kepala mereka dengan penuh kelembutan merupakan simbol perhatian dan cinta yang dapat menghibur hati mereka yang kehilangan sosok ayah.
Lebih dari itu, menyantuni anak yatim dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk seperti membantu biaya pendidikan, memenuhi kebutuhan hidup mereka, memberikan motivasi, atau sekadar meluangkan waktu untuk mendengarkan keluh kesah mereka. Semua itu merupakan bagian dari kepedulian sosial yang sangat dianjurkan dalam Islam.
Melalui amalan ini, Islam mengajarkan bahwa kesalehan tidak cukup diwujudkan dalam ibadah pribadi semata. Kesalehan yang sempurna harus melahirkan kepedulian terhadap kondisi orang lain, terutama mereka yang berada dalam posisi lemah dan membutuhkan bantuan.
Kesimpulan
Bulan Muharam adalah gerbang awal tahun baru Islam yang penuh keberkahan. Kehadirannya bukan sekadar penanda pergantian Kalender Hijriah, akan tetapi kesempatan untuk memperbarui kualitas hubungan kita dengan Allah, keluarga, dan masyarakat.
Melalui puasa sunnah Muharam, seorang Muslim belajar menjaga konsistensi ibadah dan memperkuat spiritualitasnya. Dengan melapangkan nafkah kepada keluarga, ia menebarkan kebahagiaan serta menumbuhkan keberkahan dalam rumah tangga.
Sementara, dengan menyayangi anak yatim ia menghadirkan manfaat nyata bagi sesama dan memperkuat ikatan sosial di tengah masyarakat.
Ketiga amalan ini menunjukkan keindahan ajaran Islam yang selalu menyeimbangkan antara hubungan vertikal dengan Allah (hablun minallah) dan hubungan horizontal (hablun minannas) dengan sesama manusia.
Sehingga, menjadikan Muharam sebagai awal perubahan menuju kehidupan yang lebih baik merupakan langkah yang tepat agar tahun yang baru dipenuhi keberkahan, kebahagiaan, dan amal saleh yang terus mengalir manfaatnya. (ed. Zaeini)

Saat ini belum ada komentar