Mudir Empat Ma’had Aly Lirboyo dalam Diklat Kepenulisan: Turats Harus Menjadi Fondasi Penelitian Mahasantri
- account_circle Muhamad Andi Suryono
- calendar_month 5/06/2026
- visibility 63
- comment 0 komentar
- label Artikel
Dalam rangka membekali mahasantri Marhalah Tsaniyah dengan kemampuan akademik yang memadai, Ma’had Aly Lirboyo menyelenggarakan Diklat Kepenulisan bertema: “Pelatihan Teknik Penulisan dan Penyusunan Risalah Tesis.”
Giat ini menghadirkan dua narasumber, salah satunya Mudir Empat Ma’had Aly Lirboyo yang sekaligus menjabat sebagai Asesor Majelis Masyayikh yaitu Bpk. M. Rifa’i Bachrun, M.Ag.
Pada kesempatan tersebut, ia menyampaikan sejumlah prinsip mendasar yang perlu dimiliki oleh setiap mahasantri sebelum terjun lebih jauh ke dalam dunia kepenulisan akademik.
Menurutnya, pemahaman mengenai hakikat dan urgensi menulis merupakan mukadimah yang penting sebelum membahas aspek teknis penyusunan risalah tesis.
Menulis sebagai Sarana Menjaga dan Melestarikan Ilmu
Mengawali pemaparannya, Bpk. M. Rifa’i Bachrun mengangkat pertanyaan mendasar: Mengapa kita harus menulis? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ia mengutip sebuah riwayat yang dinukil dalam kitab Al-Fawā’id Al-Makkiyyah diantaranya:
قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابَةِ
“Ikatlah ilmu dengan tulisan.”
Menurutnya, ungkapan tersebut menunjukkan bahwa menulis merupakan salah satu sarana paling efektif untuk menjaga, merawat dan melestarikan ilmu pengetahuan.
Sebab, ilmu yang hanya tersimpan dalam ingatan memiliki kemungkinan hilang akibat lupa, sementara ilmu yang ditulis akan tetap dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ia kemudian menjelaskan bahwa kitab Al-Fawā’id Al-Makkiyyah menyebutkan salah satu perangkat utama dalam proses pembelajaran adalah kutubun ṣiḥāḥun, yaitu kitab-kitab yang kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dari sinilah tradisi kepenulisan memiliki posisi yang sangat penting dalam perkembangan keilmuan Islam.
Untuk memperkuat argumentasi tersebut, ia mengutip pernyataan Imam Syafi’i yang berbunyi:
قال الشافعى: كان الليث أفقه من الإمام مالك، إلا أنّ أصحابه ضيّعوه، لم يكتبوا عنه شيئا
“Imam asy-Syafi’i berkata: Al-Laits bin Sa’d lebih fakih daripada Imam Malik bin Anas. Akan tetapi, para muridnya menyia-nyiakannya karena mereka tidak membukukan dan meriwayatkan ilmunya dengan baik.” (Ibn Iyas al-Hanafi, Bada’i az-Zuhur [Beirut: al-Ma’had al-Almaniyah], vol. 1, h. 138)
Mudir Empat itu menjelaskan bahwa pernyataan di atas merupakan pengakuan seorang imam mujtahid besar terhadap dua ulama terkemuka yang hidup pada masanya.
Baik Imam Malik maupun Imam Al-Laits sama-sama dikenal sebagai sosok mujtahid mutlak dan memiliki pengikut yang cukup banyak.
Namun, perjalanan sejarah menunjukkan bahwa mazhab Imam Al-Laits tidak bertahan lama sebagaimana mazhab Imam Malik.
Bpk. M. Rifa’i Bachrun menjabarkan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan hal tersebut adalah minimnya dokumentasi pemikiran Imam Al-Laits yang dicatat oleh para muridnya.
Karena itu, banyak warisan intelektual beliau yang tidak sampai kepada generasi setelahnya. Senada dengan hal tersebut, kitab Al-Fawā’id Al-Makkiyyah menegaskan sebuah ungkapan yang cukup populer:
ما كُتِبَ قَرَّ وَمَا حُفِظَ فَرَّ
“Sesuatu yang ditulis akan menetap, sedangkan sesuatu yang hanya dihafal akan hilang.”
Tradisi Kepenulisan sebagai Pilar Perkembangan Pesantren
Lebih lanjut, Asesor Majelis Masyayikh itu menuturkan bahwa berkembangnya Pondok Pesantren Lirboyo hingga dikenal luas oleh masyarakat tidak dapat dilepaskan dari kuatnya tradisi kepenulisan yang hidup di lingkungan pesantren.
Di bawah naungan Ma’had Aly Lirboyo, setiap lulusan diwajibkan meninggalkan karya ilmiah sebagai bentuk kontribusi akademik dan kenang-kenangan intelektual.
Untuk menunjang tradisi tersebut, dibentuklah Tim Forum Kajian Ilmiah (FKI) dan Tim Kodifikasi atau Pembukuan.
Kedua tim ini berperan penting dalam menyadur, mengembangkan, dan mengemas khazanah kitab klasik menjadi karya-karya tematik yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Melalui berbagai karya tersebut, pemikiran khas pesantren harapannya bisa disemakin dikenal luas dan mulai mendapat perhatian dari kalangan akademisi, praktisi, hingga lembaga pemerintahan.
Menulis sebagai Proses Pendalaman dan Pengembangan Keilmuan
Memasuki pembahasan mengenai manfaat menulis, Bpk. M. Rifa’i mengutip keterangan Imam An-Nawawi dalam karya monumentalnya, Al-Majmū’ Syarḥ Al-Muhadzab.
Imam Nawawi menjelaskan bahwa aktivitas menulis mampu membuka berbagai hakikat ilmu, mengurai persoalan secara lebih mendalam, sekaligus memperkuat pemahaman seseorang terhadap bidang yang dipelajarinya.
Menurut Mudir Empat tersebut, hal demikian terjadi karena proses menulis menuntut seseorang untuk membaca, menelaah, meneliti, mengkaji ulang, serta memverifikasi berbagai informasi yang diperoleh.
Dengan kata lain, menulis bukan sekadar menuangkan gagasan, melainkan juga proses pendalaman ilmu secara berkelanjutan.
Menariknya, ia turut memperluas pemaknaan frasa idzā ta’ahhala lahū yang sering dijadikan syarat dalam aktivitas kepenulisan.
Menurutnya, frasa ini tidak hanya berlaku bagi mereka yang telah mencapai tingkat keahlian tertentu, namun juga mencakup orang-orang yang sedang berproses menuju keahlian.
Oleh karena itu, menulis tidak semata-mata menjadi hasil dari keahlian melainkan juga sarana untuk membangun dan mengembangkan keahlian itu sendiri.
Tujuh Tujuan Utama Penulisan Karya Ilmiah
Dalam kesempatan yang sama, ia juga mengutip keterangan dari kitab Al-Majmū’ Al-Madzhab fī Qawā‘id Al-Madzhab mengenai tujuh tujuan utama penulisan karya ilmiah sebagai berikut:
- Melahirkan karya baru yang sebelumnya belum pernah dibukukan.
- Menyempurnakan karya para pendahulu yang masih dirasa kurang komprehensif.
- Menjelaskan kandungan karya klasik dengan bahasa yang lebih mudah dipahami dan sesuai dengan perkembangan zaman.
- Meringkas karya-karya ilmiah yang panjang, sehingga lebih ringkas tanpa menghilangkan substansi pembahasannya.
- Mengumpulkan berbagai keterangan yang tersebar dalam banyak karya ilmiah ke dalam satu pembahasan yang utuh.
- Menyusun kembali pembahasan yang belum sistematis, sehingga lebih runtut dan mudah dipelajari.
- Mengoreksi pendapat atau keterangan yang kurang tepat berdasarkan argumentasi ilmiah yang kuat.
Menurut pandangan Bpk. Rifa’i, tujuh tujuan tersebut tidak hanya menjelaskan fungsi sebuah karya tulis, tetapi juga dapat menjadi indikator kapan seseorang perlu mulai menulis.
Ketika seorang peneliti menemukan salah satu dari kondisi tersebut dalam proses membaca dan mengkaji literatur, maka saat itulah ia memiliki alasan yang kuat untuk melahirkan karya baru.
Sebagai bentuk motivasi kepada para mahasantri, Bpk. M. Rifa’i Bachrun menegaskan bahwa menulis merupakan salah satu cara untuk menunjukkan eksistensi intelektual seseorang. Dalam konteks ini, ia mengutip ungkapan terkenal filsuf Prancis, René Descartes:
Cogito Ergo Sum
“Aku berpikir, maka aku ada.”
Seseorang yang berpikir akan menhadirkan manfaat melalui gagasan dan pemikirannya sehingga keberadaannya menjadi bermakna dan dibutuhkan oleh masyarakat.
Sebaliknya, tanpa pemikiran yang produktif, seseorang akan kesulitan meninggalkan jejak intelektual yang dapat dirasakan manfaatnya oleh orang lain.
Dengan nada berseloroh, ia menyampaikan bahwa kutipan tersebut sengaja dibawakan karena sudah menjadi bagian dari mainstream dalam berbagai forum kepenulisan.
Turats sebagai Fondasi Penelitian Mahasantri
Meski demikian, Bpk. M. Rifa’i Bachrun mengingatkan bahwa tradisi menulis yang dikembangkan di Ma’had Aly Lirboyo harus tetap berakar kuat pada khazanah turats.
Ia, menegaskan bahwa karya-karya ulama klasik harus senantiasa menjadi fondasi utama dalam membangun argumentasi ilmiah.
Bpk. M. Rifa’i juga menyampaikan dalam berbagai forum bersama dewan mudir lainnya telah tercapai kesepakatan bahwa pengembangan keilmuan di Ma’had Aly tidak boleh terlepas dari rujukan turats.
Dengan demikian, inovasi dan pengembangan pemikiran yang dilakukan tetap memiliki pijakan yang kuat pada warisan intelektual para ulama terdahulu.
Menutup pemaparannya, Bpk. M. Rifa’i mengingatkan bahwa para mahasantri sejatinya telah memiliki modal utama untuk menjadi penulis yang baik, yakni tradisi membaca yang telah mengakar kuat dalam kehidupan pesantren.
Tradisi tersebut selama ini tercermin dalam berbagai aktivitas ilmiah, khususnya forum Bahtsul Masail yang menjadi ciri khas pesantren.
“Penulis yang baik adalah pembaca yang baik, dan pembaca yang baik adalah penulis yang baik,” pungkas beliau. (ed. Zaeini)

Saat ini belum ada komentar