Seni Menggenggam Dunia Tanpa Menaruhnya di Hati: Memahami Konsep Zuhud ala Syekh Nawawi Al-Bantani
- account_circle Erfin Surya Kurniawan
- calendar_month 28/05/2026
- visibility 83
- comment 0 komentar
- label Artikel
Di tengah derasnya arus kehidupan modern, manusia sering kali terjebak dalam perlombaan yang tidak pernah benar-benar selesai. Standar kebahagiaan perlahan dipersempit hanya pada apa yang tampak di permukaan mulai dari jumlah saldo rekening, jabatan yang tinggi, rumah yang mewah, atau citra sempurna di media sosial.
Akibatnya, banyak orang hidup dalam tekanan mental yang melelahkan. Mereka bekerja tanpa jeda, mengejar pengakuan tanpa akhir, namun tetap merasa kosong di dalam hati.
Jauh sebelum dunia modern dipenuhi hiruk-pikuk semacam ini, para ulama termasuk Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitabnya Salalim Al-Fudhola telah menawarkan sebuah konsep hidup yang mampu menjaga keseimbangan jiwa manusia. Konsep itu adalah zuhud.
Sayangnya, istilah zuhud sering disalahpahami sebagai sikap anti-dunia, anti-kekayaan, atau hidup dalam kemiskinan yang disengaja. Padahal, makna zuhud yang sesungguhnya justru sangat realistis, manusiawi, dan relevan sepanjang zaman.
Zuhud Bukan Membenci Dunia
Secara hakikat, zuhud bukan berarti mengosongkan tangan dari harta, melainkan mengosongkan hati dari ketergantungan kepada dunia. Dunia tetap boleh dimiliki, dikelola, bahkan dikembangkan, tetapi ia tidak boleh menjadi pusat orientasi hidup manusia. Syekh Nawawi Al-Bantani mengutip pernyataan para ulama terkait definisi zuhud:
الرَّاجِحُ عِنْدَ بَعْضِهِمْ اسْتِصْغَارُ الدُّنْيَا بِجُمْلَتِهَا وَاحْتِقَارُ جَمِيعِ شَأْنِهَا
“Pendapat yang kuat di antara para ulama mendefinisikan zuhud sebagai memandang kecil dunia secara keseluruhan dan meremehkan kedudukannya di dalam hati.” (Salalim Al-Fudhola Syarh Hidayatul Adzkiya [Beirut: Dar al-Kutub Ilmiah], h. 255)
Makna ini dapat diibaratkan seperti seseorang yang mengemudikan mobil sambil sesekali melihat kaca spion. Dunia tetap diperlukan sebagaimana spion diperlukan dalam perjalanan, tetapi fokus utama tidak boleh terpaku kepadanya. Pandangan hidup seorang mukmin harus tetap lurus mengarah ke tujuan akhir, yaitu akhirat.
Karena itu, orang yang benar-benar zuhud memiliki mentalitas yang stabil. Ia tidak akan larut dalam euforia ketika mendapatkan harta, dan tidak tenggelam dalam kesedihan ketika kehilangan. Hatinya tidak mudah dikendalikan oleh naik turunnya keadaan dunia.
Pandangan Para Ulama tentang Zuhud
Keindahan konsep zuhud semakin tampak ketika dijelaskan oleh para ulama dari berbagai sudut pandang. Imam Ahmad bin Hanbal dan Sufyan Ats-Tsauri mengatakan:
الزُّهْدُ قِصَرُ الْأَمَلِ
“Zuhud adalah pendeknya angan-angan.” (Salalim Al-Fudhola Syarh Hidayatul Adzkiya [Beirut: Dar al-Kutub Ilmiah], h. 255)
Maksudnya ialah hidup dengan kesadaran penuh terhadap realitas hari ini dan tidak tenggelam dalam angan-angan dunia yang melalaikan. Sementara itu, Ibn Al-Mubarak mendefinisikan:
الزُّهْدُ الثِّقَةُ بِاللَّهِ
“Zuhud merupakan kepercayaan penuh kepada Allah.” (Salalim Al-Fudhola Syarh Hidayatul Adzkiya [Beirut: Dar al-Kutub Ilmiah], h. 255)
Seorang yang zuhud merasa lebih tenang terhadap jaminan Allah daripada terhadap apa yang berada di tangannya sendiri. Adapun Abu Sulaiman ad-Darani menjelaskan:
الزُّهْدُ تَرْكُ مَا يَشْغَلُ عَنِ اللَّهِ تَعَالَى
“Zuhud ialah meninggalkan segala sesuatu yang memalingkan hati dari Allah.” (Salalim Al-Fudhola Syarh Hidayatul Adzkiya [Beirut: Dar al-Kutub Ilmiah], h. 255)
Artinya, apa pun yang membuat manusia lalai dari Allah baik harta, popularitas, bahkan hubungan sosial harus dikendalikan agar tidak menguasai hati. Makna mendalam ini kemudian dirangkum dalam sebuah syair yang berbunyi:
وَازْهَدْ وَذَا فَقْدُ عَلَاقَةِ قَلْبِكَا * بِالْمَالِ لَا فَقْدُ لَهُ تَكُ أَعْقَلَا
“Zuhudlah. Zuhud itu adalah hilangnya keterikatan hatimu pada harta, bukan hilangnya harta dari tanganmu, agar engkau menjadi orang yang paling berakal.” (Salalim Al-Fudhola Syarh Hidayatul Adzkiya [Beirut: Dar al-Kutub Ilmiah], h. 255)
Syair ini menegaskan bahwa inti zuhud bukanlah kemiskinan, melainkan kemerdekaan hati dari perbudakan dunia.
Dunia yang Selalu Pergi
Para ulama tasawuf sering menggambarkan dunia sebagai sesuatu yang tidak pernah benar-benar setia kepada manusia. Sebab sekuat apa pun seseorang menggenggam dunia, pada akhirnya dunia tetap akan meninggalkannya. Hal ini tergambar dalam bait syair berikut:
طَلَّقَ الدُّنْيَا ثَلَاثًا وَاطْلُبَنْ زَوْجًا سِوَاهَا * إِنَّهَا زَوْجَةُ سُوْءٍ تُعْطِيكَ قَفَاهَا * فَإِذَا نَالَتْ مُنَاهَا مِنْكَ وَلَّتْكَ وَرَاهَا
“Ceraikanlah dunia dengan talak tiga dan carilah pasangan selainnya (akhirat). Sesungguhnya dunia adalah pasangan yang buruk. Ia akan memberikan punggungnya kepadamu. Ketika telah mendapatkan apa yang diinginkannya darimu, ia akan pergi meninggalkanmu.” (Salalim Al-Fudhola Syarh Hidayatul Adzkiya [Beirut: Dar al-Kutub Ilmiah], h. 255)
Syair ini bukan ajakan untuk meninggalkan kehidupan dunia, melainkan peringatan agar manusia tidak menjadikan dunia sebagai sandaran utama kebahagiaannya. Sebab dunia bersifat sementara, berubah-ubah, dan tidak pernah benar-benar dapat dimiliki selamanya.
Kaya di Tangan, Kosong di Hati
Islam sama sekali tidak melarang umatnya menjadi kaya. Bahkan harta dapat menjadi sarana ibadah yang sangat besar apabila digunakan untuk kebaikan. Dalam salah satu riwayat Rasulullah SAW bersabda:
لَا خَيْرَ إِلَّا فِيمَنْ يُحِبُّ الْمَالَ يَصِلُ بِهِ رَحِمَهُ وَيُؤَدِّي بِهِ أَمَانَتَهُ وَيَسْتَغْنِي بِهِ عَنْ خَلْقِ رَبِّهِ
Artinya: “Tidak ada kebaikan kecuali pada orang yang mencintai harta lalu menggunakannya untuk menyambung silaturahmi, menunaikan amanat, dan menjaga kehormatan dirinya agar tidak meminta-minta kepada orang lain.” (HR. Abu Nu’aim Al-Asfahani)
Karena itu, ukuran zuhud bukan terletak pada sedikit atau banyaknya harta, melainkan pada kondisi hati seseorang terhadap harta tersebut. Imam Al-Ghazali menjelaskan beberapa tanda orang yang telah mencapai zuhud.
Pertama, hartanya tidak mengubah emosinya secara berlebihan. Kedua, ia tidak haus pujian dan tidak runtuh karena cacian manusia. Ketiga, hatinya merasakan manisnya kedekatan dengan Allah serta menikmati ibadah. Inilah kondisi jiwa yang merdeka. Dunia ada di tangannya, tetapi tidak pernah menguasai hatinya.
Tiga Pilar Praktis Zuhud
Sufyan bin Uyainah menjelaskan konsep zuhud secara praktis melalui huruf-huruf penyusun kata zuhud itu sendiri. Huruf zai berarti meninggalkan kemewahan yang berlebihan dan tidak terobsesi pada validasi manusia. Huruf ha berarti melawan hawa nafsu yang merusak. Sedangkan huruf dal berarti melepaskan ketergantungan hati terhadap dunia.
Prinsip-prinsip ini sangat relevan di era modern. Ketika manusia berlomba membangun citra diri di hadapan publik, zuhud mengajarkan kesederhanaan hati.
Saat manusia diperbudak keinginan tanpa batas, zuhud justru mengajarkan pengendalian diri. Dan manakala dunia dijadikan ukuran utama kesuksesan, zuhud mengingatkan bahwa kehidupan akhirat jauh lebih kekal.
Memilih Lingkungan dan Pasangan yang Mendekatkan kepada Allah
Konsep zuhud juga berpengaruh besar dalam hubungan sosial, termasuk dalam memilih pasangan hidup. Dalam salah satu nasihat klasik disebutkan:
وَاتْرُكْ مِنَ الْأَزْوَاجِ مَنْ مَا سَاعَدَتْ * فِي طَاعَةٍ وَاخْتَرْ عُزُوْبًا فَاضِلَا
“Tinggalkanlah pasangan yang tidak membantumu dalam ketaatan, dan memilih hidup sendiri lebih utama jika itu lebih baik bagimu.” (Salalim Al-Fudhola Syarh Hidayatul Adzkiya [Beirut: Dar al-Kutub Ilmiah], h. 257)
Nasihat ini menunjukkan bahwa hubungan yang sehat dalam Islam bukan hanya hubungan emosional, namun juga hubungan spiritual. Pasangan hidup seharusnya menjadi teman perjalanan menuju Allah, bukan justru menjadi sebab jauhnya seseorang dari nilai-nilai agama.
Abu Sulaiman Ad-Darani bahkan mengingatkan bahwa segala sesuatu yang melalaikan manusia dari Allah baik harta, keluarga, maupun jabatan dapat berubah menjadi petaka apabila tidak dikendalikan dengan benar.
Empat Rumus Menjaga Kedamaian Jiwa
Selain mengatur hubungan dengan dunia, para ulama juga memberikan tuntunan agar manusia tetap tenang dalam kehidupan sosial. Hatim Al-Asham memberikan empat resep penting untuk menjaga keselamatan hidup diantaranya ialah:
لِسَلَامَةِ الدُّنْيَا خِصَالُ أَرْبَعُ: غَفْرٌ لِجَهْلِ الْقَوْمِ، مَنْعُكَ تَجْهَلَا، وَتَكُوْنَ مِنْ سَيْبِ الْأَنَاسِي آيسًا، وَلِسَيْبِ نَفْسِكَ لِلْأَنَاسِي بَاذِلًا
“Keselamatan hidup di dunia itu ada pada empat perkara: memaafkan kebodohan orang lain, menahan diri agar tidak membalas kebodohan, tidak berharap pada pemberian manusia, dan dermawan dalam memberikan kebaikan kepada sesama.” (Salalim Al-Fudhola Syarh Hidayatul Adzkiya [Beirut: Dar al-Kutub Ilmiah], h. 255)
Nasihat ini menunjukkan bahwa zuhud tidak membuat seseorang menjauh dari masyarakat, melainkan justru membentuk pribadi yang lebih tenang, lapang dada, dan tidak mudah terluka oleh perilaku manusia.
Fondasi Zuhud: Ilmu yang Benar
Seluruh konsep manajemen hati di atas tidak mungkin berjalan tanpa ilmu. Karena itu, para ulama menekankan pentingnya mempelajari tiga cabang ilmu utama: fiqih, akidah, dan tasawuf. Dalam sebuah bait syair disebutkan:
وَتَعَلَّمَنْ عِلْمًا يُصَحِّحُ طَاعَةً * وَعَقِيدَةً وَمُزَكِّيَ الْقَلْبِ اصْفُلَا
“Pelajarilah ilmu yang membenarkan ibadahmu, meluruskan akidahmu, dan menyucikan hatimu.” (Salalim Al-Fudhola Syarh Hidayatul Adzkiya [Beirut: Dar al-Kutub Ilmiah], h. 257)
Disiplin Ilmu fiqih menjaga agar ibadah lahiriah seseorang sah dan benar. Adapun ilmu akidah menjaga pikiran dari kesesatan dan keraguan. Sedangkan, ilmu tasawuf dapat membersihkan penyakit hati seperti riya, sombong, dan dengki.
Ketiganya menjadi fondasi penting agar seseorang mampu menjalani hidup dengan seimbang yakni aktif di dunia tanpa kehilangan orientasi akhirat.
Kesimpulan
Dengan demikian, zuhud bukanlah hidup compang-camping, mengasingkan diri dari dunia, atau membenci kemajuan zaman. Konsep zuhud adalah seni menggenggam dunia tanpa menaruhnya di dalam hati. Seseorang boleh memiliki harta, jabatan, dan kesuksesan setinggi apa pun, selama semua itu tidak menguasai dirinya.
Ketika dunia hanya berada di tangan sementara hati tetap tertambat kepada Allah SWT, di situlah letak kemerdekaan jiwa yang sesungguhnya.
Inilah pelajaran besar yang diajarkan para ulama, diantaranya Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitabnya Salalim Al-Fudhola bahwa manusia dapat hidup di tengah dunia modern, meraih kesuksesan setinggi mungkin, namun tetap menjaga hati agar tidak kehilangan arah menuju akhirat yang abadi. (ed. Zaeini)

Saat ini belum ada komentar