Beranda » Berita » Mahasantri Marhalah Tsaniyah Dalami Ilmu Tasawuf bersama KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus

Mahasantri Marhalah Tsaniyah Dalami Ilmu Tasawuf bersama KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus

Kediri — Marhalah Tsaniyah Ma’had Aly Lirboyo mengadakan kuliah umum bertema tasawuf pada Kamis, (16/07/2026). Kegiatan tersebut berlangsung dalam suasana ilmiah, khidmat, dan penuh antusiasme.

Kuliah umum kali ini bertujuan memperdalam wawasan mahasantri mengenai tasawuf sebagai salah satu disiplin ilmu dalam khazanah keislaman.

Tasawuf bukan hanya menekankan penyucian jiwa, lebih daripada itu juga pembinaan akhlak serta penguatan hubungan seorang hamba dengan Allah SWT.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Mudir Enam Ma’had Aly Lirboyo, Bpk. M. Syarif Subhan, dan Mudir Delapan, Bpk. A. Hafy Yasir.

Pelaksanaan kuliah umum berlangsung dengan format yang tidak jauh berbeda dari kegiatan perkuliahan pada umumnya.

Acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan penyampaian materi oleh narasumber dengan dipandu seorang moderator, kemudian ditutup dengan doa.

Kuliah umum tersebut menghadirkan Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus, sebagai pembicara. Di samping itu, beliau juga merupakan Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Pentingnya Keseimbangan Antara Fikih dan Tasawuf

Tak lama setelah moderator mempersilakannya menyampaikan materi, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus mengawali pemaparan dengan mengutip sebuah ungkapan yang cukup populer dalam khazanah tasawuf:

مَنْ تَفَقَّهَ وَلَمْ يَتَصَوَّفْ فَقَدْ تَفَسَّقَ، وَمَنْ تَصَوَّفَ وَلَمْ يَتَفَقَّهْ فَقَدْ تَزَنْدَقَ، وَمَنْ جَمَعَ بَيْنَهُمَا فَقَدْ تَحَقَّقَ

“Barang siapa mendalami fikih tanpa bertasawuf, maka ia fasik. Barang siapa bertasawuf tanpa mendalami fikih, maka ia terjerumus dalam penyimpangan. Adapun barang siapa menggabungkan keduanya, maka ia telah mencapai hakikat kebenaran.”

Melalui ungkapan itu, beliau menekankan pentingnya keseimbangan antara fikih dan tasawuf.

Pengetahuan hukum agama perlu berjalan beriringan dengan pembinaan hati agar ilmu tidak berhenti pada pemahaman intelektual, tetapi juga tercermin dalam sikap dan perilaku.

Dalam kesempatan itu, beliau melanjutkan pemaparannya dengan mengisahkan perjalanan spiritual sejumlah tokoh sufi pada masa lampau.

Beberapa di antaranya ialah Ibrahim bin Adham, Hasan al-Basri, Uwais al-Qarni, Imam al-Ghazali, serta sejumlah sahabat Nabi Muhammad SAW.

Kisah-kisah ini menjadi penguat pesan mengenai pentingnya keseimbangan antara ilmu, amal, dan penyucian jiwa dalam tradisi tasawuf.

Melalui keteladanan para tokoh itulah, para mahasantri diajak memahami bahwa kedalaman ilmu harus disertai kejernihan hati dan kesungguhan dalam beramal.

Mahasantri Menyimak dengan Khusyuk

Para peserta tampak khusyuk menyimak setiap penjelasan yang disampaikan narasumber. Sikap takzim begitu terasa sepanjang kegiatan berlangsung.

Sebagian mahasantri terlihat sibuk mencatat berbagai poin penting dari pemaparan KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus. Antusiasme para peserta juga terlihat dari perhatian mereka terhadap kisah-kisah para sufi dan pesan-pesan moral yang disampaikan.

Salah seorang peserta, Bustanul Arifin, mengaku memperoleh wawasan baru dari kuliah umum tersebut.

Mahasantri Marhalah Tsaniyah Ruang D asal Pasuruan itu menilai materi yang disampaikan memberikan pemahaman mengenai pentingnya menyeimbangkan kecerdasan intelektual dengan ketajaman hati dalam menjalani kehidupan.

“Acaranya tadi luar biasa. Pembahasannya mendalam, banyak contoh tokoh sufi yang disebutkan, dan materinya juga sangat mudah dipahami,” ujarnya.

Menurutnya, pemaparan narasumber tidak hanya menambah pengetahuan mengenai tasawuf, tetapi juga membuka pemahaman baru tentang pentingnya membangun keseimbangan antara kecerdasan akal dan kebersihan batin.

Teladani Kehidupan Para Sufi

Menjelang akhir kegiatan, moderator membuka sesi tanya jawab. Tiga peserta memperoleh kesempatan untuk mengajukan pertanyaan sebelum moderator menyampaikan kesimpulan dari materi yang telah dipaparkan.

Setelah itu, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus memimpin doa penutup.

Sebelum memanjatkan doa, Rais Syuriah PBNU tersebut berpesan kepada para mahasantri agar menjadikan kisah para tokoh sufi sebagai teladan dalam menapaki kehidupan.

Beliau mendorong para peserta untuk terus membangun keseimbangan antara ilmu, amal, dan pembinaan hati.

Menurut pandangan beliau, kecerdasan intelektual perlu disertai kesungguhan dalam beribadah serta usaha membersihkan jiwa dari berbagai penyakit batin.

Para peserta tampak khusyuk mengamini doa yang dipanjatkan Romo Yai. Suasana hening menyelimuti ruangan ketika suara berat dan lirih KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus memimpin doa penutup.

Di sela-sela lantunan doa, terdengar suara para mahasantri mengucapkan amin dengan penuh kekhusyukan. (ed. Zaeini)

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less