Beranda » Berita » 46 Mahasantri Marhalah Ula Ma’had Aly Lirboyo Ikuti Pelatihan Praktik Rashdul Kiblat

46 Mahasantri Marhalah Ula Ma’had Aly Lirboyo Ikuti Pelatihan Praktik Rashdul Kiblat

Kediri — Badan Pengelola Ekstrakurikuler Madrasah Hidayatul Mubtadiin (BP Ekstra-MHM) menggelar kegiatan rashdul kiblat atau pengecekan dan pengukuran arah kiblat pada Senin, (13/07/2026).

Berpusat di Auditorium An-Nawawi dan halaman selatan Aula Al-Muktamar, kegiatan ini diikuti oleh 46 mahasantri Marhalah Ula Ma’had Aly Lirboyo.

Para peserta mengikuti pelatihan tersebut untuk menerjemahkan rumus-rumus astronomi yang telah mereka pelajari ke dalam praktik pengukuran secara langsung.

Turut hadir Mudir Lima Ma’had Aly Lirboyo, Bpk. Alfain Fahmi, serta Kiai Zakariya Yusa’ bersama jajaran dosen falak dan segenap pengurus BP Ekstra-MHM Bidang Falakiyah.

Kehadiran mereka menjadi suntikan motivasi tersendiri bagi para peserta yang tampak serius mengikuti kegiatan sejak awal.

Pemantapan Rumus Falakiyah

Kegiatan dimulai dengan sesi pengarahan sekaligus pemantapan rumus di dalam Auditorium An-Nawawi. Di depan papan tulis, salah satu staf BP Ekstra-MHM memimpin proses penghitungan, sedangkan staf lainnya membantu menuliskan tahapan rumus secara runtut.

Suasana ruangan seketika berubah hening dan penuh konsentrasi ketika para mahasantri mulai menghitung koordinat. Dengan bantuan kalkulator khusus falak, mereka menelusuri satu demi satu tahapan rumus untuk menentukan arah kiblat.

Ketelitian menjadi hal yang sangat penting dalam proses tersebut. Kesalahan kecil dalam perhitungan matematis dapat memengaruhi ketepatan arah kiblat ketika diterapkan di lapangan.

Meski harus berhadapan dengan rumus yang cukup rumit, para peserta tetap menunjukkan keseriusan dan ketekunan sepanjang proses penghitungan.

Simulasi Pengukuran di Lapangan

Setelah memperoleh hasil akhir, para mahasantri bergerak menuju halaman selatan Aula Al-Muktamar untuk mengikuti simulasi lapangan.

Pada tahap inilah teori dan angka-angka yang sebelumnya mereka hitung mulai diuji melalui praktik secara langsung.

Di bawah bimbingan para tenaga ahli falakiyah, setiap kelompok menyiapkan berbagai peralatan, mulai dari spidol, penggaris, paku, benang, hingga media keramik yang digunakan sebagai bidang bidik.

Para instruktur membimbing proses pengukuran secara bertahap. Para peserta tampak antusias ketika mulai menarik benang dan menggambar garis pada media keramik berdasarkan angka derajat yang telah mereka hitung di dalam ruangan.

Proses tersebut mengajarkan bahwa ketelitian tidak hanya dibutuhkan ketika mengoperasikan kalkulator, tetapi juga saat menerapkan hasil perhitungan dengan menggunakan peralatan sederhana di lapangan.

Kesalahan kecil ketika menarik benang atau membuat garis dapat memengaruhi hasil akhir pengukuran.

Memanfaatkan Rashdul Kiblat Lokal

Metode penentuan arah kiblat dalam kegiatan ini memanfaatkan fenomena pergeseran matahari secara langsung melalui metode rashdul kiblat lokal.

Garis arah kiblat yang telah dibuat di atas keramik kemudian dibuktikan melalui bayangan benda yang terkena sinar matahari pada jam, menit, dan detik tertentu sesuai hasil perhitungan.

Sambil menunggu momentum waktu yang telah ditentukan, Kiai Zakariya Yusa’ selaku tenaga ahli bidang falakiyah memanfaatkan jeda tersebut untuk memberikan motivasi kepada para mahasantri.

Ia menekankan pentingnya memperbanyak pengalaman praktik untuk menguasai ilmu falak.

“Semakin banyak mencoba, semakin lancar praktik di lapangan,” ungkapnya.

Uji coba dengan memanfaatkan posisi matahari tersebut menjadi laboratorium terbuka bagi para mahasantri.

Melalui pembuktian secara visual, ilmu falak yang sebelumnya mereka pelajari tidak lagi berhenti sebagai hafalan dan rangkaian rumus abstrak, tetapi berkembang menjadi keterampilan yang konkret dan dapat diterapkan.

Bekali Mahasantri dengan Keterampilan Falakiyah

Melalui pelatihan intensif falakiyah semacam ini, mahasantri Ma’had Aly Lirboyo diharapkan tidak hanya mahir mengkaji literatur kitab kuning, tetapi juga memiliki kecakapan dalam menerapkan ilmu falak.

Bekal keterampilan tersebut akan sangat bernilai ketika mereka kelak terjun dan mengabdi di tengah masyarakat.

Para mahasantri diharapkan mampu membantu memverifikasi, mengukur, maupun meluruskan arah kiblat masjid dan mushala secara akurat, ilmiah, serta dapat dipertanggungjawabkan. (ed. Erfin)

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less