Hilal Awal Shafar 1448 H Terlihat di Kediri, 40 Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo Ikuti Rukyah
- account_circle Raden Muhammad Rifqi
- calendar_month 15/07/2026
- visibility 81
- comment 0 komentar
- label Berita
Kediri — Tim Lajnah Falakiyah Ma’had Aly Lirboyo melaksanakan rukyatul hilal untuk menentukan awal bulan Shafar 1448 H pada Rabu, (15/07/2026).
Kegiatan tersebut berlangsung di Desa Klepek, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
Sebanyak 40 mahasantri Marhalah Ula Ma’had Aly Lirboyo mengikuti kegiatan ini. Turut hadir Mudir Lima Ma’had Aly Lirboyo, Bpk. Alfain Fahmi.
Hadir pula jajaran dosen pengampu mata kuliah ilmu falak, yaitu Kiai M. Reza Zakaria Yusa’, Bpk. M. Asmujib Mashudi, Bpk. M. Nur Hafidz, Bpk. M. Ahyad Balya, Bpk. M. Abdul Lathif Kusnan, Bpk. Ma’mun Izzul Azka, Bpk. Syaifulloh Nasrul Hamsa, dan Bpk. A. Atho’illah Syu’aib.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Badan Pengelola Ekstrakurikuler tersebut juga dihadiri perwakilan Tim Lajnah Falakiyah Pondok Pesantren Lirboyo, Lajnah Falakiyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Kediri, serta Lajnah Falakiyah PCNU Kabupaten Nganjuk.
Praktik Langsung Perhitungan Ilmu Falak
Persiapan rukyatul hilal dimulai sejak pukul 15.00 WIB. Setibanya di lokasi, para peserta langsung mengambil posisi dan menyiapkan berbagai peralatan yang telah dibawa sebelumnya.
Panitia kemudian membagi mereka ke dalam tujuh kelompok agar proses praktik dapat berjalan lebih terarah.
Para peserta terlebih dahulu menentukan titik barat dan utara sebagai dasar untuk menetapkan arah kiblat. Setelah memperoleh arah yang tepat, mereka melanjutkan praktik dengan menentukan posisi pemantauan hilal.
Secara umum, praktik tersebut serupa dengan latihan yang sebelumnya pernah mereka lakukan di halaman Aula Al-Muktamar.
Namun, pada kegiatan kali ini, para peserta tidak hanya berlatih menentukan arah kiblat, tetapi juga mengaplikasikan hasil perhitungan untuk memantau hilal secara langsung.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung di bawah bimbingan para dosen dan tim ahli falakiyah yang hadir di lapangan.
Mereka memberikan arahan kepada setiap kelompok, mulai dari penggunaan alat, penentuan posisi, hingga proses pengamatan hilal.
Metode perhitungan dalam kegiatan ini mengacu pada kitab Tashīl al-Amtsilah, salah satu kitab yang digunakan dalam mata kuliah ilmu falak bagi mahasantri Marhalah Ula Semester V Ma’had Aly Lirboyo.
Hilal Terlihat dengan Mata Telanjang
Matahari terbenam sekitar pukul 17.57 WIB. Setelah memasuki waktu Magrib, para peserta mulai memusatkan perhatian ke arah posisi hilal berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan.
Hilal akhirnya dapat disaksikan oleh seluruh peserta, baik menggunakan mata telanjang maupun melalui bantuan teleskop.
Panitia dan tim dokumentasi turut mengabadikan penampakan tersebut menggunakan kamera serta berbagai perangkat pengamatan yang tersedia.
Terlihatnya hilal secara langsung memunculkan antusiasme tinggi di lokasi pemantauan. Para peserta menyambut momen tersebut dengan rasa gembira karena tidak setiap pelaksanaan rukyatul hilal memberikan kesempatan untuk menyaksikan hilal dengan jelas.

Tampak Hilal Tertangkap Kamera
Semakin redup cahaya mega merah di ufuk barat, hilal tampak semakin terang. Posisi hilal terlihat miring ke arah utara dan dapat diamati dalam durasi yang cukup panjang.
Berdasarkan hasil perhitungan, arah rukyatul hilal berada pada posisi 293 derajat 13 menit 45,23 detik. Jarak posisi bulan berada 1 derajat 40 menit 55,64 detik di sebelah utara matahari.
Adapun tinggi hilal mencapai 12 derajat 24 menit 25,9 detik dengan elongasi sebesar 14 derajat 29 menit 0,73 detik.
Hilal dapat disaksikan selama kurang lebih 49 menit 38 detik. Kondisi tersebut memberikan kesempatan luas kepada seluruh peserta untuk mengamati bentuk dan posisi hilal secara saksama.

Momentum Istimewa bagi Peserta
Kegiatan rukyatul hilal berlangsung sejak sore hingga menjelang waktu Isya. Setelah seluruh rangkaian pengamatan selesai, Mudir Lima Ma’had Aly Lirboyo, Bpk. Alfain Fahmi, menutup kegiatan dengan memimpin pembacaan doa khusus melihat hilal secara bersama-sama.
Sebelum memimpin doa, ia menyampaikan bahwa keberhasilan menyaksikan hilal secara langsung merupakan momentum istimewa bagi seluruh peserta.
“Ini adalah momen yang istimewa bagi kita semua,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, para mahasantri tidak hanya memperoleh pengalaman menyaksikan hilal secara langsung, namun juga dapat mempraktikkan teori dan metode perhitungan ilmu falak yang telah mereka pelajari di ruang kuliah.
Pengalaman tersebut diharapkan dapat meningkatkan keterampilan para peserta dalam menentukan arah kiblat dan awal bulan Hijriah.
Di samping memperkuat pemahaman akademik, praktik lapangan ini juga menjadi bekal bagi para mahasantri agar kelak mampu memberikan manfaat kepada masyarakat dalam bidang falakiyah.
(ed. Zaeini)

Saat ini belum ada komentar