Kiai Arif Ridlwan Akbar: Risalah Tesis Mahasantri Harus Tetap Berpijak pada Turats
- account_circle M. Farid Mujiburrahman
- calendar_month 13/08/2026
- visibility 31
- comment 0 komentar
- label Artikel
Dalam giat Diklat Manahij Al-Bahtsi Marhalah Tsaniyah, K. Arif Ridlwan Akbar menyampaikan materi seputar metodologi penulisan risalah tesis berbasis turats.
Sebagai narasumber, beliau menekankan pentingnya mempertahankan karakter pesantren salaf dalam setiap karya ilmiah yang disusun oleh mahasantri.
Manahij Al-Bahtsi sebagai Identitas Pesantren Salaf
Membuka pembahasannya, K. Arif Ridlwan Akbar mengingatkan para peserta bahwa metodologi Manahij Al-Bahtsi tidak hanya menjadi perangkat teknis dalam penelitian, tetapi juga bagian dari identitas keilmuan yang melekat erat dengan tradisi pesantren salaf.
“Ini adalah ciri khas pesantren salaf. Jangan sampai melepas baju khas salafnya. Sebab, belakangan ini banyak karya tulis mahasantri yang hampir kehilangan ciri khas kepesantrenannya,” tuturnya.
Menurutnya, salah satu tujuan penyelenggaraan diklat tersebut ialah melahirkan mahasantri yang tetap mampu menampilkan sisi salaf dalam karya-karya akademiknya.
Dengan demikian, ketika terjun dalam dunia intelektual, mahasantri tidak kehilangan arah dalam mengidentifikasi identitas keilmuannya.
“Jangan sampai ketika masuk dalam dunia akademik, identitas keilmuan pesantren justru menjadi kabur,” ujarnya.
Baca Juga: Bekali Penyusunan Tesis Mahasantri, Ma’had Aly Lirboyo Adakan Diklat Manahij al-Bahtsi
Mudir Tiga Ma’had Aly Lirboyo itu kemudian menjelaskan bahwa secara garis besar, Risalah Arabiyah atau karya ilmiah berbahasa Arab terbagi menjadi dua jenis, yakni tahqiqi dan maudhui.
Namun, dalam diklat kali ini, pembahasan difokuskan pada Risalah Maudhui. Adapun terkait Risalah Tahqiqi, Ridlwan Akbar dengan nada tawadhu mengakui bahwa bidang tersebut bukan ranah keahlian yang secara khusus ia tekuni.
Ungkapan demikian sekaligus memberikan pelajaran tersendiri bagi para mahasantri bahwa seseorang hendaknya berbicara berdasarkan bidang yang benar-benar dikuasainya.
Risalah Tesis Tetap Harus Berpijak pada Turats
Selanjutnya, penerima program Beasiswa Non-Degree Kemenag-LPDP Penguatan Manajemen dan Sanad Keilmuan Ma’had Aly di Maroko tahun 2024 itu menekankan bahwa penyusunan Risalah Maudui harus ditopang oleh penguasaan tema sekaligus keluasan sumber rujukan.
Saat menampilkan salah satu contoh risalah kepada peserta, ia menunjukkan bahwa karya akademik pada tingkat tesis sekalipun tetap memiliki keterkaitan kuat dengan kitab-kitab turats.
“Bahkan sekelas risalah tesis pun tetap mempunyai maraji dari kitab-kitab salaf,” ungkapnya.
K. Arif Ridlwan Akbar menerangkan bahwa secara umum hampir seluruh karya ilmiah dapat memiliki karakter tematik atau maudhui. Namun, perbedaan utama terletak pada metodologi yang digunakan selama proses penelitian dan penulisannya.
Dari sekian banyak metode penelitian, ia mengawali pembahasan dengan memperkenalkan dirasah tathbiqiyah atau kajian aplikatif.
Metode ini, jelasnya, merupakan penelitian yang mencoba menerapkan atau mempertemukan problematika kontemporer dengan kasus, kaidah, maupun pembahasan yang telah tertulis dalam kitab-kitab klasik.
Mengurai Ragam Metode dalam Penelitian
Untuk memperjelas pemahaman peserta, K. Arif Ridlwan Akbar menampilkan sejumlah contoh karya dengan metode serupa dari beberapa universitas luar negeri.
Salah satunya ialah tesis Ustaz M. Imron Hasani, Lc., M.A., alumnus Pondok Pesantren Lirboyo yang menempuh pendidikan magister bidang Ushul Fikih di Universitas Al-Azhar, Kairo, dengan predikat mumtaz.
Karya tersebut, katanya, menjadi salah satu sumber utama dalam penyusunan buku panduan yang berada di hadapan para peserta diklat.
Setelah mengupas dirasah tathbiqiyah, narasumber beralih menjelaskan berbagai macam takhrij. Ia memaparkan mulai dari takhrij al-furu’ ala al-ushul, takhrij al-ushul ala al-furu’, takhrij al-furu’ ala al-furu’, hingga takhrij al-ushul ala al-ushul.
Usai memperkenalkan jenis-jenis risalah dan metode penelitian tersebut, ia kemudian menguraikan unsur-unsur yang harus terdapat dalam dirasah tathbiqiyah.
Mulai dari bangunan konsep hingga berbagai komponen lain yang berkaitan erat dengan metode tersebut.
Paparan itu tidak berhenti pada penjelasan teoretis. Melalui layar proyektor yang telah disediakan panitia, K. Arif secara konsisten menampilkan contoh pada setiap pembahasan.
Cara demikian dapat membantu peserta memperoleh gambaran yang lebih konkret mengenai ragam penulisan risalah berbahasa Arab yang sebelumnya belum banyak mereka jumpai secara langsung.
Harapan Lahirnya Manahij Al-Bahtsi Berbasis Kitab Turats
Menjelang penutup, K. Arif Ridlwan Akbar menyampaikan harapan Dewan Mudir Ma’had Aly Lirboyo terkait pengembangan Manahij Al-Bahtsi.
Menurutnya, para pimpinan berharap kelak dapat lahir sebuah karya utuh yang merumuskan metodologi penelitian berdasarkan kitab-kitab ulama terdahulu.
Baca Juga: Kiai Arif Ridlwan Akbar Dorong Penguatan Tradisi Bahtsul Masail di Lingkungan Ma’had Aly
Sebagai gambaran, ia mencontohkan Kitab Fathul Qorib. Menurutnya, penggarapan karya dengan model tersebut tidak harus dituntaskan oleh seorang mahasantri secara individual.
Satu kitab dapat dibagi kepada sejumlah bahits, lalu masing-masing menyusun satu risalah dengan melanjutkan pembahasan dari satu bab ke bab berikutnya hingga seluruh isi kitab selesai dikaji.
“Satu kitab tidak harus diselesaikan oleh satu mahasantri. Bisa dikerjakan bersama oleh beberapa bahits, masing-masing melanjutkan bab demi bab hingga akhirnya terbentuk satu kajian yang utuh,” pungkasnya. (ed. Andi)

Saat ini belum ada komentar