Beranda » Artikel » Kiai Arif Ridlwan Akbar Dorong Penguatan Tradisi Bahtsul Masail di Lingkungan Ma’had Aly

Kiai Arif Ridlwan Akbar Dorong Penguatan Tradisi Bahtsul Masail di Lingkungan Ma’had Aly

Dalam forum Bahtsul Masail Ma’had Aly se-Jawa Timur, Mudir Tiga Ma’had Aly Lirboyo, Kiai Arif Ridlwan Akbar, berkesempatan menyampaikan sambutan mewakili jajaran mudir Ma’had Aly Lirboyo.

Dalam penyampaiannya, beliau menyoroti posisi strategis Bahtsul Masail sebagai salah satu tradisi keilmuan pesantren yang hingga kini belum sepenuhnya mendapatkan tempat dalam sistem evaluasi pendidikan formal Ma’had Aly.

Akar Tradisi Pesantren dalam Identitas Ma’had Aly

Mengawali sambutannya, Kiai Arif Ridlwan Akbar menyampaikan bahwa mayoritas Ma’had Aly di Indonesia lahir dari rahim pesantren salaf.

Oleh karena itu, tradisi dan budaya keilmuan salaf yang melekat di dalamnya seharusnya menjadi kebanggaan sekaligus keistimewaan tersendiri bagi Ma’had Aly.

Menurutnya, akar budaya pesantren tersebut merupakan modal penting yang membedakan Ma’had Aly dengan lembaga pendidikan tinggi lainnya. Salah satu warisan intelektual yang hingga kini terus hidup di lingkungan pesantren adalah tradisi Bahtsul Masail.

Bahtsul Masail dan Tantangan Sistem Evaluasi Formal

Namun demikian, sejak Ma’had Aly diresmikan sebagai lembaga pendidikan formal yang setara dengan jenjang sarjana, muncul sejumlah tantangan dalam mengakomodasi budaya khas pesantren ke dalam sistem pendidikan formal.

Salah satu tradisi yang menurut beliau belum memperoleh pengakuan yang memadai adalah Bahtsul Masail.

Beliau menyayangkan bahwa hingga saat ini Bahtsul Masail belum masuk sebagai indikator utama dalam penilaian kualitas maupun evaluasi akademik mahasantri.

Regulasi yang berlaku saat ini cenderung menempatkan ujian tulis dan penulisan risalah sebagai tolok ukur utama capaian keilmuan individu.

“Padahal mubahatsah dan munadzarah ilmiah dalam format Bahtsul Masail memiliki urgensi yang sangat tinggi dalam tradisi keilmuan pesantren,” tuturnya di Ma’had Aly Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur pada Senin (29/06/2026).

Menurut beliau, Bahtsul Masail bukan sekadar kegiatan pelengkap, melainkan ruh akademik yang menghidupkan ekosistem keilmuan di Ma’had Aly.

Tradisi tersebut melatih kemampuan membaca referensi, mengolah argumentasi, berdiskusi, serta mempertanggungjawabkan pendapat secara ilmiah.

Kiai Arif Ridlwan Akbar menegaskan bahwa baik tradisi penulisan risalah maupun Bahtsul Masail sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan.

Keduanya tidak seharusnya dipertentangkan, melainkan diposisikan sebagai dua instrumen yang saling melengkapi dalam membangun kualitas akademik mahasantri.

Namun demikian, menurut Mudir Tiga Ma’had Aly Lirboyo tersebut sistem evaluasi formal selama ini masih belum sepenuhnya mampu menangkap nilai lebih yang dimiliki Bahtsul Masail.

Padahal, forum munadzarah ilmiah semacam ini telah menjadi tradisi panjang yang melahirkan banyak ulama dan intelektual pesantren.

Mudir penerima program Beasiswa non-Degree Kemenag-LPDP Penguatan Manajemen dan Sanad Keilmuan Ma’had Aly di Maroko Tahun 2024 tersebut berharap tradisi Bahtsul Masail dapat terus berkembang, tidak hanya di Ma’had Aly Lirboyo, namun juga di seluruh Ma’had Aly di Indonesia.

Beliau mengamati bahwa forum Bahtsul Masail selama ini lebih sering diselenggarakan atas nama pondok pesantren, sementara forum yang secara resmi mengatasnamakan Ma’had Aly masih relatif jarang ditemukan.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyebutkan bahwa salah satu pelopor penyelenggaraan Bahtsul Masail dengan membawa nama Ma’had Aly adalah Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, Tebuireng. Adapun Ma’had Aly Lirboyo, menurut beliau baru menyusul pada periode berikutnya.

Momentum Kebangkitan Bahtsul Masail Ma’had Aly

Karena itu, penyelenggaraan Bahtsul Masail Ma’had Aly kali ini menjadi momentum yang sangat penting bagi Ma’had Aly Lirboyo. Kegiatan tersebut sekaligus menandai langkah awal yang bersejarah karena untuk pertama kalinya forum Bahtsul Masail digelar secara resmi atas nama Ma’had Aly.

“Alhamdulillah, kegiatan ini dapat terlaksana melalui kolaborasi bersama NU Online,” ungkapnya.

Beliau berharap momentum tersebut mampu memantik semangat seluruh Ma’had Aly untuk kembali menghidupkan tradisi munadzarah dan mubahatsah sebagai salah satu identitas utama pendidikan pesantren.

Menutup sambutannya, Kiai Arif Ridlwan Akbar menyampaikan harapan agar seluruh ikhtiar dalam menghidupkan tradisi Bahtsul Masail senantiasa memperoleh keberkahan dan rida Allah SWT.

“Semoga upaya kita dalam menghidupkan munadzarah dan mubahatsah ini selalu mendatangkan keberkahan dan rida-Nya,” pungkasnya. (ed. Zaeini)

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less