Hadiri Seminar Turats Internasional, Bidang Penelitian Ma’had Aly Lirboyo Perkuat Wawasan Tahqiq Manuskrip
- account_circle Muhamad Andi Suryono
- calendar_month 1/09/2026
- visibility 36
- comment 0 komentar
- label Artikel
Muktamar bukan hanya menjadi ruang transisi organisasi. Beragam kegiatan bernuansa ilmiah turut digelar sebagai bagian dari upaya memperkuat khazanah keilmuan Islam.
Salah satunya ialah forum Seminar Turats Internasional yang digagas oleh Nahdlatut Turats dalam rangkaian Muktamar NU ke-35 di Tambakberas, Jombang.
Bidang Penelitian dan Penulisan Ma’had Aly Lirboyo turut mengirimkan dua delegasi, yakni Bpk. A. Asrori dan Bpk. Sohibul Hikam.
Keduanya hadir jauh sebelum acara dimulai. Sekitar pukul 14.00 WIB, perwakilan Ma’had Aly Lirboyo itu memasuki lokasi kegiatan di Pondok Pesantren Al-Muhajir 3, Tambakberas, Jombang, dan bergabung bersama sekitar 170 peserta lainnya.
Baca Juga: Semarakkan Muktamar NU ke-35, Wisudawan Ma’had Aly Lirboyo Gelar Bazar Buku Karya Ilmiah
Sejumlah tokoh turut hadir, di antaranya Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajir 3 KH. Abdul Latif Malik, Ketua Nahdlatut Turats Lora Usman Hasan Al-Akhyari, serta filolog Indonesia Gus Nanal Ainal Fauz.
Dua Hari Membincang Masa Depan Turats
Agenda besar itu berlangsung selama dua hari, yakni 29–30 Agustus 2026. Hari pertama mengusung tema “Munas Besar Pegiat Turats” dan berlangsung pada Sabtu, pukul 14.30–17.00 WIB.
Adapun hari kedua digelar di Gedung MAN 3 Jombang dengan tajuk “Seminar Turats Internasional”. Kegiatan ini dibagi menjadi dua panel, masing-masing berlangsung pukul 09.00–12.15 WIB dan 12.30–15.00 WIB.
Secara umum, utusan Ma’had Aly Lirboyo menangkap satu persoalan besar yang dihadapi para pegiat turats. Banyak di antara mereka bekerja dalam senyap, sementara arah pengembangan, pasar, dan pemanfaatan karya belum selalu terlihat jelas.
Sebagian pegiat bahkan masih mempertanyakan sejauh mana kerja mereka dapat memberi dampak konkret.
Munas ini kemudian hadir sebagai ruang untuk mencari arah, mempertemukan pengalaman, sekaligus membangun motivasi agar pengelolaan turats memiliki tujuan yang lebih mapan.
Menulis Turats Harus Berangkat dari Kebutuhan
Dalam sesi awal, salah seorang pembicara menjelaskan bahwa penulisan turats seharusnya berangkat dari kebutuhan nyata.
Menurutnya, sebuah karya lahir karena ada tema yang perlu dijawab, persoalan yang membutuhkan penjelasan, atau kebutuhan tertentu yang belum memiliki rujukan memadai.
“Menulis itu berangkat dari kebutuhan. Ada tema yang perlu dijawab dan ada persoalan yang membutuhkan penjelasan. Dari situlah sebuah karya memiliki alasan untuk ditulis,” ungkapnya.
Ia menuturkan bahwa sebagian karya yang pernah ditulisnya juga lahir bukan semata karena dorongan pribadi, melainkan karena adanya permintaan untuk menjawab kebutuhan tertentu.
Dengan pola demikian, katanya, karya turats tidak berhenti sebagai dokumentasi semata, tetapi memiliki fungsi nyata dalam menjawab persoalan keilmuan.
Turats antara Pelestarian dan Penerbitan
Fokus pembahasan pada hari pertama diarahkan pada jenis-jenis turats yang perlu dikembangkan melalui forum para pegiat.
Secara garis besar, pembicaraan mengerucut pada dua kategori. Pertama, turats yang dikelola untuk kepentingan pelestarian dan koleksi. Kedua, turats yang disiapkan untuk diterbitkan dan dipasarkan kepada khalayak yang lebih luas.
Pembicara menegaskan bahwa keduanya memiliki fungsi berbeda. Sebagian manuskrip memang harus terlebih dahulu diselamatkan fisiknya, sementara sebagian lainnya memungkinkan untuk ditahqiq, diterbitkan, dan disebarluaskan.
Sebagai pemantik konsistensi, ia mengingatkan bahwa menghidupkan turats merupakan salah satu bentuk khidmah kepada ilmu dan ahli ilmu.
“Menghidupkan turats membutuhkan ketekunan dan konsistensi. Inspirasi untuk menulis merupakan amanat agar ilmu tetap hidup dan terus memberi manfaat,” ujarnya.
Klinik Turats dan Perawatan Manuskrip
Salah satu bagian menarik dari rangkaian kegiatan tersebut ialah hadirnya Pameran Klinik Turats Muktamar.
Delegasi Ma’had Aly Lirboyo itu turut menyempatkan diri berkunjung ke pameran yang berdiri di depan Institut Agama Islam Bani Fattah (IAIBAFA) Jombang.
Sejumlah koleksi dipamerkan, mulai dari manuskrip turats Nusantara yang tersimpan dalam kotak pelindung hingga kitab-kitab karya ulama Nusantara yang dicetak oleh penerbit-penerbit lama.
Nahdlatut Turats juga membuka peluang kerja sama bagi pemilik manuskrip yang ingin menyumbangkan, menitipkan, atau sekadar merawat koleksinya.
Perawatan dilakukan dengan teknik khusus menggunakan tisu Jepang dan lem tertentu yang ditempelkan lembar demi lembar pada manuskrip.
Menurut pihak Nahdlatut Turats, teknik demikian bertujuan memperkuat struktur kertas supaya manuskrip lebih tahan saat dibuka berulang kali, sekaligus menjaga tulisan di dalamnya agar tidak mudah rusak atau hilang.
Salah satu narasumber mengemukakan bahwa tisu Jepang yang digunakan merupakan produk impor dengan harga berkisar Rp13–15 juta. Adapun biaya perawatan menyesuaikan penggunaan bahan, tingkat kerusakan, serta kondisi fisik masing-masing manuskrip.
Dr. Mu’tazz As-Subaini Paparkan Jejak Islam Melayu
Pada hari kedua, Seminar Turats Internasional menghadirkan dua akademisi dari luar negeri, yakni Syekh Mu’tazz As-Subaini dan Syekh Syadzi Arbash asal Damaskus.
Sementara dari Indonesia hadir Prof. Oman Fathurahman, Prof. Faisal Fatawi, dan Prof. Islah Gusmian. Sekitar kurang lebih 80 peserta mengikuti rangkaian seminar tersebut.
Dr. Mu’tazz As-Subaini membuka pemaparannya dengan mengurai sejarah intelektual Muslim Melayu. Menurutnya, peradaban Islam di kawasan Melayu telah tumbuh sejak masa awal Islam, bahkan dalam sejumlah keterangan disebut telah memiliki hubungan sejak era Khalifah Utsman bin Affan.
Ia menegaskan bahwa perkembangan pemikiran Islam di Melayu tidak dapat semata-mata dipandang sebagai hasil pengaruh dari Yaman ataupun China.
“Melayu memiliki perkembangan intelektual dan tradisi keislamannya sendiri,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Dr. Mu’tazz menjelaskan bahwa minimnya informasi mengenai Islam di kawasan Melayu dalam karya-karya ulama salaf lebih banyak dipengaruhi faktor geografis.
Jarak yang sangat jauh, katanya, membuat wilayah Melayu belum banyak dikenal dalam catatan keilmuan pada masa itu.
Padahal, lanjutnya, masa keemasan Islam selalu berkaitan erat dengan proses ekspansi wilayah dan semakin luasnya jaringan peradaban Islam.
Manuskrip Melayu sebagai Bukti Peradaban
Jejak panjang tersebut, menurut Dr. Mu’tazz, masih dapat ditemukan dalam manuskrip turats Melayu yang diperkirakan berusia sekitar 700 hingga 800 tahun.
Namun, sebagian manuskrip tersebut kini telah berpindah tangan dan tersimpan di museum atau perpustakaan luar negeri, termasuk dalam koleksi Portugis dan Leiden di Belanda.

Tampak lembaran kitab kuno yang dipamerkan di etalase
Ia menegaskan bahwa manuskrip-manuskrip itu bukan sekadar benda lama, melainkan bukti perjalanan intelektual Islam di kawasan Melayu.
“Manuskrip ini bukan hanya peninggalan fisik. Ia adalah bukti bahwa peradaban dan tradisi keilmuan pernah tumbuh kuat di kawasan Melayu,” ujarnya.
Karenanya, ia mendorong generasi sekarang guna kembali mengkaji, merawat, dan menghidupkan kandungan ilmiah dari manuskrip tersebut.
Syekh Syadzi Arbash: Turats adalah Kehormatan Umat
Pada panel berikutnya, Syekh Syadzi Arbash lebih memusatkan pembahasan pada hakikat turats dan tanggung jawab umat dalam menjaganya.
Menurutnya, karya para ulama yang kini disebut sebagai turats merupakan hasil peradaban suatu umat yang mencerminkan kemuliaan dan kehormatannya.
“Warisan para ulama merupakan bagian dari identitas dan kebanggaan umat. Karena itu, ia harus dijaga,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa menghidupkan warisan ulama dilakukan dengan menjaga dua hal sekaligus, yakni riwayat kehidupan mereka dan karya-karya yang mereka tinggalkan.
Penjagaan itu tidak hanya menyentuh sisi fisik berupa kertas, tinta, dan kulit, tetapi juga menyangkut isi, gagasan, pemikiran, serta konteks keilmuan yang terkandung di dalamnya.
Karena itu, menurutnya, penulisan biografi ulama juga harus mendapat perhatian yang serius.
“Riwayat kehidupan ulama perlu diperbaiki dan dilengkapi. Kita tidak cukup hanya menjaga kertasnya, tetapi juga harus menjaga makna dan pemikirannya,” ujarnya.
Minimnya Tahqiq Menjadi Problem Keilmuan
Syekh Syadzi juga menyoroti minimnya penerbitan karya ulama. Menurutnya, tidak diterbitkannya karya ilmiah para ulama merupakan salah satu bentuk kegelapan keilmuan.
Ia menilai masih sedikit karya turats yang terbit karena jumlah orang yang benar-benar menguasai metode tahqiq juga terbatas.
Di Indonesia sendiri, tradisi tahqiq dinilainya masih relatif baru sehingga banyak karya ulama Nusantara belum tersentuh secara memadai.
Ia mencontohkan biografi Syekh Mahfuz At-Tarmasi yang hingga kini belum banyak tersedia secara lengkap.
“Ini bukan hanya kekurangan bagi ilmu, tetapi juga kekurangan bagi Indonesia dan umat Islam secara luas,” tegasnya.
Menurutnya, kekosongan itu seharusnya menjadi tantangan bagi generasi baru untuk lebih serius menggarap khazanah ulama Nusantara.
Ma’had Aly Lirboyo Perkuat Komitmen Pelestarian Turats
Secara keseluruhan, terdapat lima pembicara dari dalam dan luar negeri yang mengisi rangkaian hari kedua Nahdlatut Turats. Dua akademisi asal Damaskus itu menyampaikan materi dengan bahasa Arab, sementara narasumber Indonesia menggunakan bahasa Indonesia.
Baca Juga: Wisudawan Ma’had Aly Lirboyo Bedah Buku Memorial KH. Mahrus Aly di Muktamar Literasi Santri
Keikutsertaan delegasi Ma’had Aly Lirboyo dalam agenda tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pengelolaan dan pelestarian turats karya para kiai dan pendiri pesantren.
Pengiriman perwakilan juga menjadi langkah awal untuk memperluas wawasan mengenai tahqiq, konservasi manuskrip, pengelolaan koleksi, hingga strategi penerbitan karya turats agar lebih mudah dijangkau masyarakat.
Ke depannya, Ma’had Aly Lirboyo berkomitmen untuk lebih serius menekuni, merawat, dan menghidupkan turats para masyayikh.
“Turats tidak cukup hanya disimpan sebagai koleksi. Ia perlu dikaji, dirawat, diterbitkan, dan dihidupkan kembali agar manfaat keilmuannya terus sampai kepada generasi berikutnya,” tandasnya. (ed. Zaeini)

Saat ini belum ada komentar