Divisi Media Ma’had Aly Lirboyo Ikuti NU Online Forum, Dalami Profesionalisme Media Pesantren
- account_circle Erfin Surya Kurniawan
- calendar_month 30/08/2026
- visibility 31
- comment 0 komentar
- label Artikel
Tambakberas, Jombang — Kehadiran media digital bagi lembaga pendidikan Islam, khususnya pesantren, kini bukan lagi sekadar pelengkap administratif.
Media telah berkembang menjadi sarana dakwah strategis yang turut menentukan bagaimana nilai-nilai keislaman, keilmuan, dan kepesantrenan disampaikan kepada khalayak luas.
Kesadaran demikian mendorong Divisi Media dan Kepenulisan Ma’had Aly Lirboyo untuk mengikuti NU Online Forum dan Halaqoh Media Pesantren yang berlangsung di Gedung MTs Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Sabtu (29/8/2026), dalam rangkaian Muktamar NU ke-35.
Delegasi Ma’had Aly Lirboyo dalam kegiatan tersebut terdiri atas Redaktur Pelaksana M. Jihad Al-Khoiri, M. Andi Suryono, dan Erfin Surya Kurniawan.
Kehadiran mereka menjadi kesempatan untuk menimba pengalaman secara langsung mengenai alur kerja redaksi media kebangsaan sekaligus mendalami peran strategis jaringan media berbasis pesantren.
Menyelami Dapur Redaksi NU Online
Sesi pertama diawali dengan pembekalan jurnalistik bersama jajaran redaksi utama NU Online. Para peserta mendapat pemaparan mengenai struktur dan tata kerja media modern, mulai dari proses kurasi isu, penyuntingan berita, hingga strategi memproduksi konten kreatif yang adaptif terhadap perkembangan media sosial.
Sejumlah jajaran NU Online hadir sebagai pemateri, yakni Hamzah Sahal selaku Direktur Utama NU Online, Ivan Aulia Ahsan selaku Pemimpin Redaksi, Ahmad Mundzir selaku Direktur NU Online Institute, Patoni selaku Redaktur Pelaksana, Muhammad Syakir N.F. selaku Redaktur, serta Agus S. Utomo dari divisi Konten Kreatif.
Melalui pemaparan itu, peserta diajak melihat secara lebih dekat bagaimana sebuah media besar mengelola informasi sebelum sampai kepada pembaca.
Kerja jurnalistik tidak berhenti pada aktivitas menulis, tetapi melibatkan proses pemilihan isu, verifikasi, penyuntingan, pengemasan, hingga penyesuaian konten dengan karakter pembaca di berbagai platform digital.
NU Online Berangkat dari Lingkungan Pesantren
Dalam forum ini turut dijelaskan bahwa jejak historis NU Online memiliki hubungan erat dengan lingkungan pesantren. Gagasan pendiriannya pertama kali dicetuskan KH. Ahmad Hasyim Muzadi setelah terpilih sebagai Ketua Umum PBNU dalam Muktamar NU ke-30 di Lirboyo pada 1999.
Berangkat dari gagasan pascamuktamar itulah, NU Online kemudian resmi diluncurkan pada 11 Juli 2003. Sejak awal, portal tersebut dirancang sebagai media terbuka milik Nahdlatul Ulama yang dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, tidak hanya di Indonesia, melainkan pula pembaca secara global.
Dalam pengelolaannya, NU Online menopang keberlangsungan media melalui empat pilar utama yang disebut sebagai “rukun media”.
Keempatnya mencakup ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten, mekanisme estafet kepemimpinan yang berkelanjutan, penguatan jaringan atau networking, serta kemandirian bisnis.
Empat unsur tersebut menjadi fondasi agar sebuah media tidak hanya mampu bertahan dalam jangka pendek, tetapi juga berkembang secara kelembagaan dan memiliki kesinambungan antargenerasi.
Media Pesantren Jangan Hanya Memberitakan Seremonial
Rangkaian kegiatan berlanjut pada sore hari melalui Halaqoh Media Pesantren bertajuk “Peran Strategis Jaringan Media Pesantren.“ Sesi tersebut menghadirkan Mahbib Khoiron dan Ahmad Mundzir sebagai narasumber.
Dalam penjelasannya, Ahmad Mundzir menekankan pentingnya keterbukaan informasi dalam rangka memperluas syiar Islam.
Sementara itu, Mahbib Khoiron menyoroti orientasi mendasar yang perlu dimiliki media pesantren. Menurutnya, media dakwah tidak seharusnya berhenti menjadi tempat dokumentasi kegiatan kelembagaan semata.
“Inti dari media itu syiar, bukan hanya seremonial saja,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa pemberitaan mengenai kegiatan lembaga memang tetap diperlukan.
Namun, media pesantren juga harus mampu mengangkat gagasan, nilai, pemikiran, dan khazanah keislaman yang memiliki manfaat langsung bagi masyarakat.
Dengan orientasi tersebut, media pesantren tidak sekadar menjadi etalase kegiatan internal, tetapi hadir sebagai sarana penyebaran ilmu dan pemikiran Islam yang mampu menjawab kebutuhan pembaca.
Membaca Kebutuhan Audiens yang Lebih Luas
Mahbib juga menekankan pentingnya kemampuan membaca karakter audiens.
Menurutnya, pengelola media pesantren tidak dapat hanya menulis berdasarkan kepentingan internal lembaga, namun perlu mempertimbangkan persoalan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.
Ia mencontohkan hasil-hasil bahtsul masail yang membahas persoalan ibadah sehari-hari. Kajian semacam itu memiliki basis keilmuan yang kuat, tetapi perlu dikemas dengan bahasa yang lebih komunikatif supaya dapat dipahami masyarakat luas.
Karena itu, ujarnya, media pesantren perlu mampu menerjemahkan khazanah keilmuan pesantren ke dalam bahasa publik tanpa menghilangkan substansi dan kedalaman ilmiahnya.
Pendekatan tersebut memungkinkan hasil kajian pesantren tidak hanya beredar di kalangan terbatas, tetapi juga memberi manfaat kepada audiens yang lebih luas.

Direktur NU Online sedang memaparkan materi
Pelatihan Bukan Akhir dari Proses Belajar Jurnalistik
Dalam poin berikutnya, Mahbib menyinggung pentingnya jam terbang bagi pengelola media. Ia mengingatkan bahwa pelatihan jurnalistik baru menjadi pintu awal untuk mengenal teori dan teknik kepenulisan.
“Pelatihan jurnalistik bukan menjadi final. Tapi, harus diimbangi dengan praktik keterampilan tulis-menulis dan kemampuan menganalisis persoalan masyarakat sesuai kebutuhan sekarang,” ungkapnya.
Kemampuan jurnalistik, menurutnya, tidak akan tumbuh hanya melalui pemahaman teori.
Seorang penulis harus terus menempa diri melalui praktik menulis secara konsisten, membaca perkembangan masyarakat, serta mengasah kepekaan dalam menentukan sudut pandang sebuah persoalan.
Semakin tinggi jam terbang seorang penulis, semakin terasah pula kemampuan untuk memilah informasi, membangun struktur tulisan, dan menyampaikan gagasan secara efektif kepada pembaca.
Kritik dan Evaluasi Menjadi Bagian dari Pengelolaan Media
Selain konsistensi menulis, Mahbib mengingatkan pengelola media agar tidak menutup diri terhadap kritik dan evaluasi. Kepercayaan diri dalam mengelola media, katanya, harus berjalan beriringan dengan kesiapan menerima masukan.
Menurutnya, meminta arahan ataupun kritik bukan menunjukkan kelemahan.
Sebaliknya, kebiasaan tersebut dapat membantu seseorang mengetahui kekurangan sekaligus membangun rasa percaya diri berdasarkan proses perbaikan yang terus-menerus.
“Dengan meminta arahan dan masukan, justru akan tumbuh kepercayaan diri dalam mengelola media,” ujarnya.
Evaluasi ini dapat mencakup kualitas tulisan, pemilihan isu, desain konten, manajemen redaksi, hingga efektivitas distribusi informasi kepada pembaca.
Media Membutuhkan Perencanaan yang Matang
Mahbib juga menggarisbawahi bahwa pengelolaan media tidak dapat berjalan hanya dengan pola spontan atau sekadar mengikuti alur yang ada. Media membutuhkan perencanaan yang jelas dan terukur.
“Harus ada perencanaan yang matang, seperti diskusi, evaluasi, dan hal-hal lainnya. Jangan cuma mengalir saja,” katanya.
Menurutnya, tradisi diskusi redaksi, evaluasi secara berkala, serta penyusunan agenda setting menjadi bagian penting dalam menentukan arah sebuah media.
Dengan perencanaan itu, pengelola dapat menentukan isu apa yang perlu mendapat perhatian, siapa target pembacanya, dan bagaimana pesan sebaiknya dikemas.
Perencanaan juga membantu media membangun karakter yang konsisten sehingga setiap konten tidak hadir secara terpisah, melainkan bergerak dalam satu visi redaksional yang jelas.
Dari Media Seremonial Menuju Media Pesantren yang Profesional
Melalui NU Online Forum dan Halaqoh Media Pesantren tersebut, Divisi Media dan Kepenulisan Ma’had Aly Lirboyo memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai tantangan pengelolaan media pesantren di era digital.
Baca Juga: Mahasantri Ikuti Workshop Jurnalistik Tentang Pesantren dan Dunia Kreatif
Keberhasilan media pesantren tidak hanya bergantung pada kemampuan memproduksi berita, tetapi juga ditentukan oleh profesionalisme tata kelola, konsistensi praktik jurnalistik, kemampuan membaca kebutuhan masyarakat, keterbukaan terhadap evaluasi, serta keberanian mengemas khazanah pesantren dalam bentuk yang lebih komunikatif.
Dengan perpaduan antara tradisi keilmuan pesantren dan pengelolaan media yang profesional, media pesantren diharapkan mampu mengambil peran lebih besar dalam menyebarkan ilmu, memperkuat syiar Islam, dan menghadirkan perspektif keislaman yang relevan bagi masyarakat.
“Media pesantren harus mampu menjadikan kekayaan keilmuan yang dimiliki sebagai bahan syiar yang dapat diterima masyarakat luas, bukan berhenti sebagai dokumentasi kegiatan internal,” pungkasnya. (ed. Zaeini)

Saat ini belum ada komentar