Adab Penuntut Ilmu dan Pondasi Dakwah, Pesan Habib Salim Saat Dauroh di Ma’had Aly Lirboyo
- account_circle A. Zaeini Misbaahuddin Asyuari
- calendar_month 21/04/2026
- visibility 89
- comment 0 komentar
- label Artikel
Ma’had Aly Lirboyo menerima kunjungan Habib Salim bin Umar bin Hafidz, putra dari ulama kharismatik Yaman Al-Habib Umar bin Hafidz. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan kajian bertema: Mi’yar at-Tasydid wa at-Takhfif fi ad-Da’wah ilallah (Standar dan batasan antara sikap tegas serta sikap lembut dalam berdakwah di jalan Allah).
Dalam giat Dauroh Ilmiah itu, beliau menegaskan bahwa dakwah bukan sekadar menyampaikan hukum tetapi seni menempatkan kelembutan dan ketegasan secara proporsional sesuai tuntunan syariat. Seorang da’i dituntut memiliki ilmu, hikmah, akhlak, serta kedekatan dengan Allah agar dakwahnya melahirkan hidayah, bukan sekadar perdebatan.
Ilmu Tidak Dapat Diraih Tanpa Adab
Pada awal penyampaiannya, Habib Salim menegaskan bahwa ilmu adalah warisan Rasulullah SAW. Oleh sebab itu, ilmu tidak akan diraih kecuali dengan adab. Penuntut ilmu harus hadir di majelis dengan sikap ta’dzim, menghormati guru, memberi perhatian penuh, serta menyimak dengan sungguh-sungguh.
Beliau menjelaskan bahwa hidayah ilmu tidak akan masuk ke hati yang lalai, sibuk berbicara, banyak menoleh, atau menjadikan majelis ilmu sebagai tempat senda gurau. Cahaya ilmu hanya menetap pada hati yang hadir, tunduk, dan siap menerima kebenaran.
لَا تُؤْخَذُ الْعِلْمُ إِلَّا بِالتَّعْظِيمِ وَالِاهْتِمَامِ وَالْإِجْلَالِ وَالْإِصْغَاءِ، فَبَشِّرْعِبَادِ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ، وَبِدُونِ اسْتِمَاعٍ وَإِصْغَاءٍ لَا تَصِلُ الْهِدَايَةُ إِلَى الْقَلْبِ، وَلَا يَحِلُّ نُورُهَا فِي الضَّمِيرِ
Artinya: “Ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan sikap pengagungan, perhatian, penghormatan, dan kesungguhan mendengarkan. Maka, sampaikanlah kabar gembira itu kepada hamba-hamba-Ku. (Yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Tanpa mendengarkan dan menyimak dengan sungguh-sungguh, hidayah tidak akan sampai ke dalam hati, dan cahayanya tidak akan menetap di dalam nurani.”
Sebagai teladan, beliau menuturkan kisah Imam Syafi’i yang membalik lembaran kitab di hadapan gurunya Imam Malik bin Anas dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara:
قَالَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ: كُنْتُ أَصْفَحُ الْوَرَقَةَ بَيْنَ يَدَيْ مَالِكٍ صَفْحًا رَفِيقًا، حَتَّى لَا يُسْمَعَ وَقْعُهَا، فَفِي مَجْلِسِ الْعِلْمِ كَانُوا لَا يَسْمَحُونَ بِأَنْ يَصْعَدَ صَوْتُ الْوَرَقَةِ عِنْدَ قَلْبِهَا، فَكَيْفَ بِالْحَدِيثِ؟
Artinya: “Imam Syafi’i berkata: Aku membalik lembaran kertas di hadapan Imam Malik bin Anas dengan sangat lembut, hingga tidak terdengar suaranya. Dalam majelis ilmu, mereka tidak membiarkan suara lembaran kertas terdengar ketika dibalik. Maka bagaimana lagi dengan berbicara?”
Jika suara lembaran kertas saja dijaga di majelis ilmu, maka terlebih lagi percakapan yang mengganggu tentu harus dihindari. Kisah ini menunjukkan betapa agungnya adab para ulama terhadap ilmu dan guru mereka.
Dakwah Berawal dari Kedekatan kepada Allah
Setelah membahas adab menuntut ilmu, Habib Salim menjelaskan bahwa tugas dakwah adalah pekerjaan para nabi, yakni mengajak makhluk menuju Sang Pencipta. Karena itu, seseorang tidak akan mampu mengantarkan manusia kepada Allah jika dirinya sendiri jauh dari Allah.
Beliau memberi nasihat agar setiap penuntut ilmu dan pendakwah memiliki waktu khusus setiap hari untuk berkhalwat, bermunajat, berdoa, mengadukan keadaan kepada Allah, serta menyerahkan segala urusan kepada-Nya. Hubungan vertikal yang kuat dengan Allah akan menjadi sumber kekuatan dalam menghadapi manusia.
قَوِّ صِلَتَكَ بِاللَّهِ، قَوِّ عَلَاقَتَكَ مَعَ اللَّهِ، تَعَرَّفْ إِلَيْهِ، وَاجْعَلْ لَكَ وَقْتًا فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ. لَا بُدَّ لَكَ مِنْ وَقْتٍ تَخْلُو فِيهِ مَعَ اللَّهِ، تَرْفَعُ حَاجَتَكَ إِلَيْهِ، تَدْعُوهُ، تَشْكُو إِلَيْهِ حَالَكَ، تَعْرِضُ أَمْرَكَ عَلَيْهِ
Artinya: “Perkuatlah hubunganmu dengan Allah, pereratlah kedekatanmu dengan-Nya. Kenalilah Dia, dan jadikanlah untuk dirimu waktu khusus pada setiap siang dan malam. Engkau harus memiliki waktu untuk menyendiri bersama Allah, menyampaikan kebutuhanmu kepada-Nya, berdoa kepada-Nya, mengadukan keadaanmu kepada-Nya, dan menyerahkan segala urusanmu kepada-Nya.
Dakwah yang lahir dari hati yang mengenal Allah akan terasa lembut, tulus, dan berpengaruh. Sebaliknya, dakwah yang minim dari kedekatan spiritual sering kali berubah menjadi kemarahan, ambisi pribadi, dan pertengkaran yang menjauhkan manusia dari agama.
Dari bagian awal kajian tersebut dapat dipahami bahwa seorang da’i tidak dibentuk hanya dengan banyaknya pengetahuan, melainkan juga dengan adab dan makrifatullah.
Ilmu tanpa adab akan kehilangan cahaya, sedangkan dakwah tanpa hubungan yang kuat dengan Allah akan kehilangan ruhnya. Karena itu, siapa pun yang ingin berdakwah harus memulai langkahnya dengan memperbaiki hati, memuliakan ilmu, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Saat ini belum ada komentar