Taujihat Mudir ‘Am Ma’had Aly Lirboyo di OSPEM 2026: Marhalah Tsaniyah Bukan Ajang Coba-Coba
- account_circle Muhamad Andi Suryono
- calendar_month 8/05/2026
- visibility 209
- comment 0 komentar
- label Artikel
Kediri — Ma’had Aly Lirboyo kembali menggelar agenda akademik OSPEM (Orientasi Studi dan Pengenalan Ma’had) sebagai gerbang awal pembinaan mahasantri baru Marhalah Tsaniyah.
Melalui kegiatan ini, lembaga meneguhkan budaya akademik sekaligus mengenalkan sistem pembelajaran, tradisi intelektual, dan arah pengembangan studi di jenjang lanjutan.
Segenap Dewan Mudir turut hadir dalam agenda tersebut. Mereka memberikan orientasi terkait mekanisme perkuliahan, pola pembelajaran, hingga tantangan intelektual yang akan dihadapi mahasantri selama menempuh studi di Marhalah Tsaniyah.
Dalam kesempatan tersebut, Mudir ‘Am Ma’had Aly Lirboyo, KH. Atho’illah Sholahuddin Anwar, menyampaikan sejumlah taujihat penting yang menjadi bekal bagi para mahasantri baru Marhalah Tsaniyah.
Jangan Samakan Marhalah Ula dengan Marhalah Tsaniyah
Dalam arahannya, beliau mengingatkan agar mahasantri tidak menyamakan pola belajar di jenjang Marhalah Ula dengan Marhalah Tsaniyah.
Menurutnya, jenjang setingkat pascasarjana ini memiliki budaya akademik yang berbeda dan menuntut kesiapan mental maupun intelektual yang lebih matang.
“Jangan samakan M.1 dan M.2,” tegas beliau di hadapan para mahasantri baru.
Beliau menjelaskan, pada jenjang Marhalah Tsaniyah dosen lebih berperan sebagai pembimbing akademik sementara mahasantri dituntut aktif melakukan muthala’ah secara mandiri terhadap kitab-kitab rujukan yang telah ditentukan dalam kurikulum.
Karena itu, sejak awal mahasantri harus memahami perubahan pola belajar tersebut agar tidak mengalami culture shock ketika memasuki sistem pembelajaran Marhalah Tsaniyah.
Selain menekankan kemandirian belajar, beliau juga mengingatkan pentingnya disiplin mengikuti perkuliahan.
Sebagai bentuk penegakan ketertiban akademik, sistem presensi Marhalah Tsaniyah kini menggunakan teknologi fingerprint.
Menurut beliau, seluruh aturan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kesungguhan akademik di lingkungan Ma’had Aly.
Oleh karenanya, beliau meminta para mahasantri tidak menjadikan program Marhalah Tsaniyah sekadar ajang coba-coba, melainkan sebagai ruang pengabdian ilmiah yang harus dijalani dengan penuh keseriusan.
Bijak Menggunakan AI dan Menjaga Orisinalitas
Pada sesi berikutnya, Mudir ‘Am menyoroti fenomena penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia akademik. Menurut beliau, perkembangan teknologi tidak boleh membuat mahasantri meninggalkan tradisi penguasaan kutub at-turats yang menjadi fondasi utama keilmuan pesantren.
Beliau mengingatkan agar mahasantri tidak sembarangan mengutip jawaban dari platform AI tanpa proses verifikasi yang mendalam.
Dalam penyusunan karya ilmiah, beliau juga menegaskan pentingnya menjaga orisinalitas tulisan dan menghindari praktik copy-paste. Sebagai bentuk pengawasan akademik, bidang penelitian dan penulisan karya ilmiah (BP2KI) Ma’had Aly telah menggunakan sistem deteksi plagiasi Turnitin.
Menurut beliau, langkah tersebut bukan untuk mempersulit mahasantri melainkan melatih kejujuran akademik dan membangun budaya penelitian yang sehat.
Meneladani Tradisi Kepenulisan Para Pendahulu
Lebih jauh, Mudir ‘Am mengajak para mahasantri meneladani tradisi intelektual para pendahulu di Madrasah Hidayatul Mubtadiin.
Jauh sebelum teknologi AI berkembang, para siswa tingkat akhir (Aliyah) telah terbiasa menyusun buku-buku tematik berbasis kajian kitab klasik dengan menelusuri referensi secara manual di perpustakaan pesantren.
Beliau menuturkan, karya-karya tersebut bahkan menuai apresiasi dari para akademisi perguruan tinggi yang kagum terhadap kualitas tulisan para santri.
Karena itu, beliau berharap tradisi intelektual semacam itu tetap dijaga dan dikembangkan oleh mahasantri masa kini.
Dorong Literasi dan Penguatan Karya Tulis
Dalam kesempatan yang sama, KH. Atho’illah S. Anwar juga mendorong penguatan budaya literasi dan kepenulisan ilmiah di lingkungan Ma’had Aly.
Menurut beliau, tradisi keilmuan Lirboyo selama ini sangat kaya melalui forum bahtsul masail dan diskusi ilmiah. Namun, tradisi tersebut perlu diperkuat dalam bentuk karya tulis akademik.
Karena itu, beliau mengajak para aktivis Bahtsul Masail mulai menuangkan hasil kajian dan argumentasi mereka ke dalam tulisan yang sistematis dan layak untuk dipublikasikan.
“Saya kira itu hanya membutuhkan sedikit finishing,” tutur beliau.
Menurut pengamatan beliau, banyak mahasantri sebenarnya memiliki kekayaan referensi dan kemampuan analisis yang kuat. Akan tetapi, sebagian masih mengalami kesulitan dalam mengemasnya menjadi tulisan akademik yang runtut dan memenuhi standar publikasi ilmiah.
Oleh sebab itu, beliau mendorong para mahasantri untuk aktif menulis dan mempublikasikan karya di jurnal ilmiah bereputasi. Menurutnya, publikasi akademik kini menjadi salah satu tolok ukur penting dalam dunia akademik.
Menatap Masa Depan Ma’had Aly Lirboyo
Menutup arahannya, KH. Atho’illah S. Anwar menyampaikan bahwa program Marhalah Tsaniyah terus mengalami evaluasi dan pengembangan.
Bahkan, Ma’had Aly Lirboyo tengah menyiapkan langkah jangka panjang untuk membuka program Marhalah Tsalitsah yang setara dengan jenjang doktoral (S3).
Beliau menyebutkan bahwa berbagai pihak telah mendorong agar program tersebut segera direalisasikan. Menurutnya, keberadaan Marhalah Tsaniyah sendiri sudah menjadi nikmat besar yang patut disyukuri karena program setingkat itu hanya tersedia di beberapa lembaga tertentu di Indonesia.
Karena itu, beliau berharap seluruh mahasantri memanfaatkan kesempatan ini dengan sungguh-sungguh, menjaga semangat belajar, serta terus mengembangkan tradisi akademik dan keilmuan pesantren di tengah tantangan zaman modern.
(ed. Zaeini)

Saat ini belum ada komentar