Beranda » Artikel » Kerendahan Hati Mbah Manab Lirboyo: Ketika Pengakuan Guru Lebih Berharga dari Sekadar Gelar

Kerendahan Hati Mbah Manab Lirboyo: Ketika Pengakuan Guru Lebih Berharga dari Sekadar Gelar

“Aku dungakno mati iman lan diakoni santrine Kyai Kholil, sebab olehku golet ilmu awit durung baligh”

(Jawa: Doakan saya agar meninggal dalam keadaan iman dan diakui sebagai santrinya Kyai Kholil, karena saya menimba ilmu dari sebelum baligh).

Pesan sekaligus doa tersebut selalu dititipkan kepada para santri yang datang menjenguk saat KH. Abdul Karim (Mbah Manab) jatuh sakit.

Di balik sosok besar sebagai pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, sebuah pesantren yang kini menjadi rumah bagi puluhan ribu pelajar dari berbagai penjuru Nusantara hingga mancanegara, mbah Manab tidak pernah berharap lebih.

Beliau hanya menyampaikan satu permintaan sederhana: mendapat pengakuan tulus sebagai murid dari sang mahaguru yaitu Syaikhona KH. Kholil Bangkalan.

Terlepas dari reputasi besarnya kelak, di hadapan gurunya, beliau tetap merasa sebagai santri kecil yang masih butuh petunjuk.

Pesan singkat ini menarik untuk dipahami lebih jauh. Jika kita telusuri, dawuh tersebut mengandung makna tersirat yang sangat mendalam dan mengajarkan banyak pelajaran berharga tentang etika seorang penuntut ilmu.

Meluruskan Makna Validasi

Istilah “haus validasi” sering kali terdengar sinis dan berkonotasi negatif dalam percakapan sehari-hari.

Sebagian besar orang menilai istilah ini disematkan kepada mereka yang bertindak hanya demi mencari perhatian publik. Namun, menyimpulkan demikian terasa terlalu sempit.

Pada dasarnya, setiap manusia memiliki keinginan alami untuk diakui keberadaannya oleh pihak lain. Perbedaannya hanya terletak pada kepada siapa pengakuan itu ditujukan dan dari mana penghargaan itu berasal.

Sebagian orang mengejar pengakuan dari sesama manusia, sementara sebagian lainnya mengharapkan pengakuan dari ruang yang jauh lebih mulia.

Sebagai contoh, ketika seorang siswa berhasil menjuarai suatu perlombaan, apakah kebahagiaannya hanya bersumber dari piala yang ia genggam?

Tentu tidak. Kebahagiaan itu terasa jauh lebih lengkap ketika teman-teman dan lingkungan sekitarnya memberikan ucapan selamat serta mengakui pencapaiannya.

Contoh lain dapat kita temukan pada diri seorang ahli ibadah. Apakah ia tidak peduli pada pengakuan? Ia tetap memikirkannya, tetapi hanya validasi dari Tuhan yang beliau harapkan agar tergolong sebagai hamba yang bertakwa.

Di luar pengakuan Tuhan, suara atau pujian manusia hanyalah ibarat debu yang terbawa angin yang tidak bernilai sama sekali.

Oleh karena itu, bukanlah sebuah kesalahan ketika Mbah Manab berharap diakui sebagai santri oleh guru beliau, KH. Kholil Bangkalan.

Sebesar apa pun nama Mbah Manab di mata santri dan pengagumnya, fokus utamanya tetap satu: diakui secara tulus oleh sang guru sebagai muridnya.

Mengingat Akar dan Menjaga Keberkahan

Belakangan ini, kita sering melihat fenomena pelajar yang meremehkan atau bahkan melawan pengajarnya. Kondisi ini menjadi cermin kemunduran etika dalam dunia pendidikan.

Seolah lupa pada pengetahuan yang telah diajarkan, ucapan “terima kasih” seakan hilang dari kebiasaan. Banyak penuntut ilmu lupa bahwa pengetahuan yang kini berkembang dalam diri mereka berawal dari bimbingan seorang guru.

Pesan Mbah Manab hadir sebagai pengingat agar sifat sombong tersebut tidak merusak etika para santri. Beliau mengingatkan agar penuntut ilmu “tidak lupa pada akar” dan tidak mengabaikan jasa guru.

Sebab, jika hubungan dengan guru terputus, keberkahan hidup seseorang bisa terancam. Syekh Ibrahim bin Syekh Sholeh menjelaskan:

لأن من ترك الأصول حرم الوصول

“Sebab seseorang yang meninggalkan asalnya, maka ia terhalang untuk sampai pada tujuannya.” (Ibrahim bin Syekh Salih bin Ahmad Al-Khuraishi, At-Tanbihat Al-Mukhtasharat Syarh Al-Wajibat Al-Mutahattamat Al-Ma’rifat ‘ala Kulli Muslim wa Muslimah, [Beirut: Dar Ash-Shami’i li An-Nasyr wa At-Tawzi’], h. 16)

Kata al-ushul (الأصول) merupakan bentuk jamak dari al-ashl (الأصل) yang berarti “akar” atau “pondasi”.

Imam Jalaluddin Al-Mahalli menjelaskan bahwa al-ashl adalah sesuatu yang menjadi tumpuan bagi hal lain di atasnya. (Jalaludin Al-Mahali, Syarh Jam’ Al-Jawami’ [Kediri: Maktabah As-Salam, 2024 M/1446 H], h. 6)

Tanpa pondasi yang kuat, bangunan tinggi akan mudah roboh saat diterpa angin kencang. Begitu pula tanpa akar yang menancap dalam, sebuah pohon tidak akan pernah tumbuh rindang.

Rasa Khidmat di Hadapan Sang Guru

Jika kita bedah lebih dalam, pesan mbah Manab mencerminkan sikap tulus seorang murid: dihadapan guru, kedudukan kita hanyalah seorang pelajar, tidak lebih. Ali bin Abi Thalib, Khalifah keempat dalam Islam, pernah menyatakan kerendahan hatinya terhadap guru:

أنا عبدُ مَنْ علمني حرفًا واحدًا إن شاء باع وإن شاء أعتق وإن شاء استرق

“Aku Adalah budak dari seseorang yang mengajariku satu huruf. Jika ia berkehendak, ia bisa menjualku, memerdekakanku, atau menjadikanku budak sepenuhnya” (Ibrahim bin Ismail Az-Zarnuji, Ta’lim Al-Muta’alim, [Kediri: Maktabah Masya Allah], h. 40)

Padahal, kemuliaan ilmu Ali bin Abi Thalib ditegaskan langsung oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya:

أَنَا مَدِينَةُ الْعِلْمِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا

Artinya: “Aku adalah kota ilmu, sementara sayyidina Ali adalah gerbang kota itu”. (HR. Al-Hakim)

Seseorang yang kapasitas keilmuannya dipuji langsung oleh Nabi pun tetap menaruh rasa hormat yang luar biasa di hadapan orang yang mengajarkannya meski hanya satu huruf.

Selain itu, terdapat pula ungkapan mendalam dari para ulama tasawuf mengenai etika hubungan guru dan murid:

لِأَن التلميذ بَين يَدي معلمه كالميت بَين يَدي الْغَاسِل

“Karena seorang murid di hadapan gurunya, seperti jenazah di tangan orang yang memandikannya” (Ahmad bin Abdurahman bin Abu Al-Mun’im bin Ni’mah bin Sulthon bin Surur Al-Hambali, Qawa’id Tafsir Al-Ahkam: Al-Badr Al-Munir fi ‘Ilm At-Tafsir, [Beirut: Mu’assasah Ar-Royyan, 2000 M/1421 H], h. 471)

Perumpamaan ini menggambarkan penyerahan diri dan rasa hormat yang penuh dari seorang murid kepada bimbingan gurunya demi membina kebaikan diri.

Selain karena ketekunan dan kesabaran beliau dalam mengasuh para santri, doa yang tulus dan sederhana inilah yang menjadi salah satu pilar keberkahan Pondok Pesantren Lirboyo hingga berkembang pesat seperti saat ini.

Secara tafa’ulan mengharapkan ketularan keberkahan dan kebaikan dari jejak mulia beliau, kita pun melangitkan doa yang sama.

Meski kita tak pernah berkilau oleh kemegahan gelar, tak murni dari noda dosa, dan jauh dari kata sempurna, ada satu harapan tulus yang terus disematkan dalam dada: “Semoga kelak kita tetap diakui sebagai bagian dari santri-santri beliau.”

(ed. Erfin)

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less