Dari Kaum Rebahan Menjadi Penggerak Perubahan: Saatnya Gen Z Bangkit dari Jeratan Algoritma
- account_circle Erfin Surya Kurniawan
- calendar_month 3/09/2026
- visibility 38
- comment 0 komentar
- label Artikel
Istilah kaum rebahan kini begitu melekat pada Generasi Z. Julukan ini kerap diarahkan kepada mereka yang dianggap gemar berbaring, bersantai, dan menghabiskan waktu tanpa arah yang jelas.
Padahal, beristirahat tentu bukan sesuatu yang salah. Tubuh dan pikiran memang membutuhkan jeda agar tetap sehat dan seimbang.
Persoalannya muncul ketika istirahat berubah menjadi kebiasaan pasif yang berkepanjangan hingga membuat seseorang kehilangan kesadaran terhadap potensi dirinya.
Pada titik inilah rebahan tidak lagi menjadi aktivitas fisik semata, namun dapat menjelma menjadi simbol kepasifan.
Baca Juga: Judi Online dalam Kajian Tafsir Al-Qur’an: Dari Janji Kekayaan hingga Dampak Kehancuran
Menariknya, generasi yang sering dianggap pasif ini sebenarnya memiliki daya ubah yang sangat besar. Perubahan tersebut bukan angan-angan kosong, melainkan peluang nyata yang dapat dimulai dari satu titik sederhana yakni kesadaran.
Kesadaran menjadi pintu pertama menuju perubahan lantaran seseorang tidak akan bergerak sebelum memahami keadaan dirinya, potensinya, serta tanggung jawab yang harus ia tunaikan.
Dari sinilah Gen Z perlu melihat kembali posisi mereka, bukan hanya sebagai penikmat kemudahan zaman, tetapi juga sebagai aktor yang dapat menentukan arah perubahan sosial.
Perubahan tidak selalu membutuhkan modal yang rumit. Tapi berawal dari kesadaran yang kemudian diterjemahkan menjadi tindakan.
Manusia dan Daya Pikir
Manusia dianugerahi akal untuk berpikir secara mendalam. Akal memungkinkan seseorang merencanakan masa depan, memperkirakan konsekuensi dari setiap pilihan, serta mendorong dirinya menuju kondisi yang lebih baik.
Bersantai memang terasa nyaman. Namun, sesuatu yang dilakukan secara berlebihan tidak pernah membawa dampak baik.
Setiap keputusan yang diambil hari ini termasuk pilihan untuk terus berbaring atau mulai bergerak akan berpengaruh terhadap arah hidup di masa depan.
Karena itu, kemampuan berpikir seharusnya tidak hanya digunakan untuk menikmati kelegaan, tetapi juga untuk membaca peluang, mengevaluasi diri, dan menentukan langkah yang lebih bermanfaat.
Manusia sebagai Fondasi Peradaban
Jika peradaban diibaratkan sebagai satu tubuh utuh, maka manusia merupakan sel-sel pembentuknya. Apabila sel-sel tersebut sehat, tubuh peradaban akan tumbuh kuat. Sebaliknya, jika sel-selnya rapuh, peradaban pun ikut melemah.
Dalam panggung sejarah, manusia adalah aktor utamanya, sedangkan ruang dan waktu hanyalah wadah. Melalui gagasan, pilihan, dan tindakan, manusialah yang memegang kendali atas arah perubahan.
Sehingga, kualitas sebuah generasi akan sangat menentukan kualitas masa depan masyarakatnya.
Gen Z yang hari ini mengisi ruang-ruang pendidikan, media sosial, organisasi, dan kehidupan publik kelak akan menjadi bagian penting dari pengelolaan masyarakat.
Jika sejak sekarang generasi ini hanya dibentuk sebagai konsumen pasif, maka ruang perubahan akan terasa makin sempit.
Kebalikannya, apabila mereka mampu tumbuh sebagai generasi yang kritis, produktif, dan berdaya, maka peluang untuk melahirkan peradaban yang lebih baik akan semakin besar.
Tanggung Jawab Moral dan Spiritual
Sebagai khalifah di muka bumi, manusia mengemban amanah guna menciptakan kebermanfaatan. Bermalas-malasan tentu saja bukan cara yang tepat untuk menuntaskan tanggung jawab tersebut.
Setiap anugerah mulai dari usia, ilmu, kesehatan, hingga kesempatan mengandung tanggung jawab. Karenanya, tugas manusia bukan hanya menjadi pribadi yang baik, lebih daripada itu yakni berusaha menjadi pribadi yang memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.
Kesadaran spiritual semacam ini penting untuk dicerna saat pusaran budaya digital kerap mendorong seseorang larut dalam kesenangan instan.
Gen Z perlu menyadari bahwa waktu bukan hanya sesuatu yang cukup dihabiskan, melainkan amanah yang akan menentukan kualitas kehidupan.
Ketika Algoritma Ikut Membentuk Cara Berpikir
Pernahkah kita berbaring sambil mengusap layar ponsel, lalu tiba-tiba menyadari bahwa konten yang muncul terasa sangat sesuai dengan apa yang sedang dipikirkan akhir-akhir ini?
Fenomena demikian bukan sekadar kebetulan.
Di balik layar, terdapat algoritma yang bekerja membaca pola perilaku pengguna. Klik, durasi menonton, pencarian, interaksi, dan berbagai kebiasaan digital bisa digunakan untuk menentukan konten mana yang akan kembali disajikan.
Akibatnya, seseorang tidak hanya menggunakan media digital, tetapi dalam kadar tertentu juga dibentuk olehnya.
Arus informasi yang dikonsumsi terus-menerus perlahan memengaruhi cara berpikir, sudut pandang, preferensi, bahkan pilihan hidup sehari-hari.
Di sinilah Gen Z menghadapi tantangan besar. Mereka hidup dalam kepungan informasi yang nyaris tidak pernah berhenti. Setiap waktu ada video baru, tren baru, opini baru, dan hiburan baru yang menawarkan perhatian.
Pada keadaan seperti ini, Gen Z dihadapkan pada dua pilihan yaitu membiarkan diri hanyut dalam arus konsumsi konten tanpa henti, atau memanfaatkan ruang digital sebagai sarana untuk belajar, berkarya, dan menciptakan dampak nyata.
Kemerdekaan di era digital tidak hanya berarti terbebas dari penjajahan fisik.
Namun juga dapat dimaknai sebagai kemampuan untuk mengendalikan diri agar tidak diperbudak oleh kebiasaan, algoritma, dan arus informasi yang menghabiskan waktu tanpa menghasilkan nilai.
Perubahan Dimulai dari Diri Sendiri
Semangat transformasi diri semacam ini memiliki pijakan kuat dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat di atas menegaskan bahwa hubungan antara perubahan sosial dan perubahan yang dimulai dari dalam diri manusia.
Dalam khazanah tafsir, Imam Fakhruddin arRazi menjelaskan bahwa Allah tidak akan mengubah suatu kenikmatan yang diberikan kepada suatu kaum menjadi kondisi buruk kecuali tatkala mereka sendiri mengubah keadaan mereka menuju kerusakan. (Lihat: Mafatih al-Ghaib [Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al-Arabi, 2009], vol. 10, h. 21).
Selain itu, Imam al-Baidhawi juga menjelaskan:
إِنَّ اللهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ من العافية والنعمة. حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ من الأحوال الجميلة بالأحوال القبيحة
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum berupa kesehatan dan kenikmatan hingga mereka mengubah keadaan baik yang ada pada diri mereka menjadi keadaan yang buruk.” (Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil [Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-Arabi], vol. 3, h. 183).
Penjelasan ini menunjukkan bahwa perubahan berkelindan erat dengan pilihan dan tindakan manusia. Kondisi sosial tidak muncul begitu saja tanpa sebab, tetapi dipengaruhi oleh pola pikir, kebiasaan, serta keputusan yang dibentuk oleh masyarakat itu sendiri.
Ikhtiar sebagai Jalan Perubahan
Ulama kharismatik pemikir fikih sosial, Almaghfurlah KH. Sahal Mahfudh memberikan perspektif yang sejalan dengan semangat tersebut.
Menurut pandangan beliau, perubahan menuju keadaan yang lebih baik membutuhkan effort atau ikhtiar serta peningkatan kualitas manusia.
Membangun masyarakat pada dasarnya adalah membangun manusia. Dalam proses pembangunan itulah, manusia berkedudukan sebagai subjek sekaligus objek.
Artinya, manusia tidak hanya menjadi sasaran perubahan, melainkan pula menjadi pelaku utama yang menggerakkannya. (Lihat: Nuansa Fiqih Sosial [Yogyakarta: LKiS], h. 59).
Pandangan ini sangat relevan dengan kondisi Gen Z. Perubahan tidak mungkin hadir apabila generasi muda hanya menunggu lingkungan menjadi lebih baik. Mereka sendiri harus mengambil bagian dalam proses tersebut.
Secara umum, hukum perubahan berlaku dalam dua arah. Kondisi yang baik dapat berubah menjadi buruk saat manusia mengabaikan tanggung jawabnya.
Justru, keadaan yang buruk juga bisa bergerak menuju kebaikan apabila manusia memiliki kesadaran dan melakukan perbaikan.
Jika ditarik ke dalam konteks Gen Z, pesan bi anfusihim menjadi pemantik bahwa perubahan sosial harus dimulai dari pembenahan diri sendiri.
Kemerdekaan dari Kepasifan
Makna kemerdekaan bagi Gen Z hari ini dapat diperluas menjadi keberanian untuk keluar dari jerat kepasifan. Menjadi generasi perubahan tidak berarti harus langsung melakukan hal-hal besar dan rumit.
Perubahan besar hampir selalu berawal dari keputusan-keputusan kecil, misalnya mengatur waktu dengan lebih sadar, mengurangi konsumsi konten yang tidak bermanfaat.
Menyaring informasi secara cermat, memperbanyak membaca, mengembangkan keterampilan atau skill, menjaga kesehatan mental dan fisik, serta menggunakan media digital untuk karya yang memberi manfaat.
Langkah-langkah kecil itu mungkin terlihat sederhana. Namun, jika dilakukan secara konsisten, dapat membentuk karakter dan menentukan arah masa depan seseorang.
Gen Z juga perlu memahami bahwa produktifitas tidak berarti harus terus bekerja tanpa jeda. Istirahat tetap penting. Yang perlu dijaga adalah keseimbangan antara jeda dan gerak, antara menikmati hidup dan menjalankan tanggung jawab.
Dengan demikian, persoalan utamanya bukan terletak pada aktivitas rebahan itu sendiri, tetapi pada apakah seseorang masih memiliki kesadaran untuk bangkit setelah beristirahat.
Dari Kaum Rebahan Menuju Penggerak Perubahan
Pada akhirnya, label generasi rebahan tidak semestinya menjadi vonis yang membatasi Gen Z. Titel itu justru dapat dijadikan bahan refleksi untuk melihat kembali bagaimana waktu, teknologi, potensi, dan kesempatan digunakan.
Generasi ini memiliki modal yang besar. Mereka hidup pada masa tatkala ilmu pengetahuan dapat diakses dengan cepat, peluang belajar terbuka luas, dan teknologi memungkinkan satu gagasan menjangkau ribuan bahkan jutaan orang dalam waktu singkat.
Baca Juga: Qana’ah di Era Digital: Solusi Syekh Nawawi Al-Bantani Menghadapi Tren FOMO dan Flexing
Namun, seluruh potensi tersebut lagi-lagi tidak akan berarti jika tidak disertai kesadaran untuk menggunakannya.
Perubahan dimulai saat seseorang menyadari bahwa dirinya memiliki pilihan: terus menjadi penonton atau mulai mengambil peran.
Ketika kesadaran itu tumbuh, generasi rebahan tidak lagi menjadi label yang membatasi. Justru menjadi titik awal lahirnya generasi yang lebih kritis, produktif, dan bermanfaat.
Sebab, perubahan sosial pada akhirnya selalu bermula dari perubahan manusia. Dan perubahan manusia selalu dimulai tatkala ia berani bangkit dari tempatnya, menyadari potensinya, lalu mengambil langkah pertama. (ed. Zaeini)

Saat ini belum ada komentar