Beranda » Berita » BP Ekstra MHM Gelar Seminar Kepenulisan, Savic Ali Sebut Menulis sebagai Kunci Kemajuan Bangsa

BP Ekstra MHM Gelar Seminar Kepenulisan, Savic Ali Sebut Menulis sebagai Kunci Kemajuan Bangsa

Kediri — Aula An-Nawawy tampak lebih ramai dari biasanya pada Kamis malam Jumat (25/06/2026). Ratusan santri dan mahasantri memadati ruangan dengan satu tujuan yang sama yakni mendalami dunia literasi dan kepenulisan.

Malam itu, Badan Pengelola Ekstrakurikuler Madrasah Hidayatul Mubtadiin (BP Ekstra MHM) sukses menggelar Seminar Kepenulisan bertajuk “Pengembangan Literasi Pesantren Berbasis Media Informasi Masa Kini.”

Kegiatan yang berlangsung dengan lancar tersebut mencatat antusiasme yang cukup tinggi. Sekitar 400 peserta dari berbagai tingkatan memenuhi Aula An-Nawawy sejak awal acara.

Jumlah tersebut menjadi bukti bahwa minat terhadap dunia tulis-menulis di lingkungan pesantren terus tumbuh dan berkembang.

Pada kesempatan ini, panitia menghadirkan Bpk. Mohammad Syafi’ Alielha, seorang penulis senior, Pendiri NU Online dan Islami.co, sekaligus Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Media, IT, dan Advokasi periode 2022–2027.

Kehadiran tokoh yang akrab disapa Savic Ali itu menjadi daya tarik tersendiri bagi para peserta.

Seminar juga dihadiri jajaran Mudir Madrasah Hidayatul Mubtadiin dan Ma’had Aly Lirboyo. Tampak hadir Mudir Dua, K. M. Aminulloh Mahin, M.Pd.

Mudir Empat, Bpk. M. Rifa’i Bachrun, M.Ag., serta Mudir Delapan, Bpk. A. Hafy Yasir, M.F.U. Turut hadir pula Bpk. Ali Irham Nur Hamid, M.Ag., selaku Dewan Harian BP Ekstra MHM, beserta seluruh jajaran pengurus lainnya.

Menjaga Tradisi Literasi Pesantren

Tepat pukul 20.30 WIB, acara dibuka dengan pembacaan Surah Al-Fatihah. Setelah itu, Bpk. Ali Irham Nur Hamid menyampaikan sambutan mewakili Dewan Harian BP Ekstra MHM.

Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa seminar ini merupakan langkah nyata untuk menjaga dan merawat tradisi literasi di lingkungan pesantren yang belakangan dinilai mulai mengalami penurunan.

“Lirboyo secara keilmuan sudah sangat kredibel dan tidak diragukan lagi. Terbukti dengan adanya agenda musyawarah, baik harian, mingguan, bulanan, bahkan tahunan. Yang perlu kita tingkatkan hanyalah bidang kepenulisan. Percuma bisa bicara, tetapi tidak bisa disampaikan lewat tulisan,” ujarnya.

Menurutnya, tradisi lisan yang telah mengakar kuat di pesantren perlu diimbangi dengan kemampuan menulis agar gagasan dan hasil-hasil kajian keilmuan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Menulis: Tradisi Ulama Sejak Masa Salaf

Pandangan tersebut diperkuat oleh Bpk. A. Hafy Yasir, selaku Mudir Delapan. Dalam arahannya, ia mengajak peserta menengok sejarah perkembangan mazhab dalam Islam.

Bpk. A. Hafy Yasir menjelaskan bahwa para ulama sepakat hanya mazhab yang terdokumentasi dan dibukukan secara sistematis (mudawwanah) yang dapat diikuti secara luas.

Sebagai contoh, ia menyinggung mazhab Dawud Adz-Dzahiri yang banyak dikutip dalam literatur turats, namun tidak berkembang menjadi mazhab yang diikuti karena tidak mengalami proses kodifikasi yang memadai.

“Ini menjadi bukti bahwa tradisi tulis-menulis sudah ada sejak zaman ulama salaf,” terangnya.

Lebih lanjut, Mudir Delapan itu menyebut program tamrin insya’ yang selama ini berjalan di Madrasah Hidayatul Mubtadiin dan Ma’had Aly Lirboyo sebagai bentuk nyata komitmen lembaga dalam melatih kemampuan menulis para santri dan mahasantri.

Savic Ali: Menulis adalah Jalan Kemajuan

Memasuki sesi utama, suasana seminar semakin hidup di bawah panduan Sdr. Akbar Syahdana selaku moderator. Kehadiran Mohammad Syafi’ Alielha sebagai keynote speaker langsung mendapat perhatian penuh dari peserta.

Mengawali paparannya, Savic Ali mengungkapkan bahwa malam itu merupakan kunjungan keduanya ke Pondok Pesantren Lirboyo. Ia mengaku terkesan dengan jumlah peserta yang mengikuti seminar.

Menurutnya, antusiasme seperti ini jarang ditemui dalam kegiatan kepenulisan di tempat lain. “Biasanya seminar menulis hanya diikuti segelintir orang. Di sini justru ratusan peserta hadir dan memenuhi ruangan. Ini sesuatu yang luar biasa,” ungkapnya.

Founder Islami.co tersebut kemudian menjelaskan bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak bisa dilepaskan dari budaya literasi.

“Sebagian instansi mengeluhkan sulitnya mencari kader penulis kepada saya. Ya, karena jika mencari penulis itu mudah, mungkin Indonesia sudah mengalami kemajuan secara pesat,” ujarnya yang langsung disambut senyum dan tawa kecil para peserta.

Menulis Melatih Disiplin Berpikir

Dalam pemaparannya, Savic Ali menguraikan perbedaan mendasar antara berbicara dan menulis. Menurutnya, seseorang yang berbicara sering kali meluas ke berbagai topik, sedangkan tulisan menuntut kedisiplinan dan fokus.

Seorang penulis, menurutnya harus berbicara sesuai bidang yang dikuasai dan menghindari pembahasan yang tidak relevan.

Selain melatih disiplin berpikir, media juga memiliki kekuatan besar dalam membentuk opini publik dan mengubah cara pandang masyarakat. Untuk menegaskan hal tersebut, ia mengutip pernyataan tokoh hak sipil Amerika Serikat, Malcolm X:

“The media’s the most powerful entity on earth. Because they control the minds of the masses.”

Menurut Savic Ali, pesan tersebut menunjukkan bahwa media bukan sekadar alat penyampai informasi, melainkan instrumen yang mampu memengaruhi arah pemikiran masyarakat.

Menumbuhkan Semangat Menulis

Meski waktu terus berjalan menuju larut malam, suasana seminar tetap hidup. Gaya penyampaian Savic Ali yang komunikatif, santai dan interaktif berhasil menjaga perhatian peserta hingga akhir acara.

Diskusi berlangsung hangat, terutama saat sesi tanya jawab dibuka. Para peserta tampak antusias menyampaikan pertanyaan seputar dunia media, kepenulisan, dan pengembangan literasi di lingkungan pesantren.

Sebelum acara ditutup dengan doa, K. M. Aminulloh Mahin menyampaikan harapan agar para peserta mampu mengambil manfaat dari seminar tersebut.

“Minimal kalau belum bisa menulis, kita sudah bisa membuka semangatnya,” tutur beliau.

Melalui seminar ini, di tengah derasnya arus informasi digital, semangat menulis diharapkan tumbuh di kalangan santri dan mahasantri, sehingga tradisi keilmuan pesantren tidak hanya hidup dalam lisan, namun juga terabadikan dalam tulisan.

(ed. Erfin)

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less