Khidmat dan Penuh Hikmah, Pembukaan Aktivitas LBM-MHM Lirboyo Dihadiri Para Masyayikh
- account_circle Raden Muhammad Rifqi
- calendar_month 18/04/2026
- visibility 33
- comment 0 komentar
- label Berita
Kediri — Lajnah Bahtsul Masail Madrasah Hidayatul Mubtadiin (LBM-MHM) resmi menggelar seremonial pembukaan aktivitas tahun ajaran baru pada Jumat, (17/4/2026), bertempat di Aula Al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo. Kegiatan ini menjadi penanda dimulainya kembali seluruh aktivitas ilmiah LBM yang selama ini menjadi pusat kajian dan diskusi hukum Islam di lingkungan Pondok Lirboyo.
Acara berlangsung dengan khidmat dan tertib. Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan, dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, sambutan sekaligus penyampaian hasil Sidang Harian I LBM-MHM, kemudian ditutup dengan doa bersama.
Dihadiri Para Masyayikh dan Pengasuh Pesantren
Pembukaan aktivitas LBM-MHM dihadiri sejumlah masyayikh Lirboyo, di antaranya Romo KH. M. Anwar Manshur, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus, KH. An’im Falahuddin Mahrus. Turut hadir pula Mudir ‘Am Madrasah Hidayatul Mubtadiin dan Ma’had Aly Lirboyo, KH. Atho’illah S. Anwar.
Suasana semakin lengkap dengan kehadiran pimpinan pondok yaitu Agus H. Adibussholeh Anwar, serta perumus senior sekaligus Dewan Rais LBM, Agus HM. Said Ridlwan. Kehadiran para kiai, pengurus, mahasantri, serta santri menjadikan acara berlangsung meriah namun tetap sarat nuansa keilmuan dan ketawadhuan.
Nasihat Tentang Kesungguhan Menuntut Ilmu
Mau’izhah hasanah pertama disampaikan oleh KH. Abdullah Kafabihi Mahrus. Dalam nasihatnya, beliau meneguhkan hati para hadirin agar senantiasa siap nanggung rekoso atau bersungguh-sungguh menanggung kesulitan dalam mencari ilmu.
Beliau juga menekankan bahwa bentuk ibadah terbaik bagi santri adalah muthala’ah atau belajar. Menurut beliau, keutamaan ibadah berbeda-beda sesuai keadaan seseorang.
“Orang kaya ibadah yang utama adalah sedekah, orang awam qiyamul lail, kalau santri ya muthala’ah.”
Di penghujung nasihatnya, beliau memotivasi para santri agar senantiasa belajar dan tekun menelaah kitab. Bahkan beliau dawuh:
الإستقامة أفضل الرياضة
“Kontiunitas merupakan sebaik-baiknya riyadhah.”
Kehadiran Romo Yai Anwar Manshur Menjadi Kebahagiaan Tersendiri
Di tengah rangkaian acara, KH. Anwar Manshur berkenan hadir dan melantunkan doa untuk seluruh hadirin. Kehadiran beliau menjadi kebahagiaan tersendiri bagi para santri, mengingat di usia sepuhnya beliau masih berkenan menghadiri acara ini. Momen kedatangan masyayikh tersebut disambut dengan penuh haru dan rasa takzim oleh seluruh peserta yang hadir.
Pentingnya Belajar Bertahap dan Terarah
Mau’izhah berikutnya disampaikan oleh KH. An’im Falahuddin Mahrus. Beliau berpesan agar para santri menempuh jalan belajar secara bertahap (step by step).
Menurut beliau, ilmu alat seperti nahwu dan sharaf harus menjadi dasar utama kemudian dilanjutkan dengan pendalaman fikih. Namun demikian, beliau menegaskan bahwa mendalami nahwu-sharaf bukan berarti meninggalkan fikih. Keduanya harus berjalan beriringan, sebab fikih merupakan panduan ibadah sehari-hari yang wajib dipahami setiap Muslim.
Motivasi dari Kisah Para Pendahulu
Mudir ‘Am Madrasah Hidayatul Mubtadiin dan Ma’had Aly Lirboyo KH. Atho’illah S. Anwar dalam sambutannya beliau memotivasi para santri melalui kisah para pendahulu yang dahulu juga memulai perjalanan keilmuan dari aktivitas-aktivitas sederhana seperti di LBM.
Beliau menuturkan bahwa para tokoh besar, termasuk Almaghfurlah KH. Azizi Hasbullah, pada awalnya juga berproses sebagaimana para aktivis LBM saat ini.
Bahkan menurutnya, kondisi sekarang jauh lebih nyaman dibanding masa lalu. Dahulu, ketika kitab masih terbatas, para senior harus rela mengayuh sepeda ke tempat jauh hanya untuk mencari referensi. Karena itu, banyaknya fasilitas dan ketersediaan kitab saat ini seharusnya menjadi penyemangat bagi para santri untuk semakin giat mendalami kitab turats.
Penyampaian Program dan Perubahan Kegiatan LBM-MHM
Agenda selanjutnya adalah pembacaan hasil sidang yang disampaikan oleh Bpk. Mundzir Zainuddin, selaku Ketua Umum LBM masa khidmah 2026–2027. Dalam laporannya, ia menjelaskan bahwa Aula LBM lantai dua, yang sebelumnya digunakan untuk kegiatan Musyawarah Fath al-Qarib setiap malam Kamis dan sejumlah kegiatan bahtsul masail, pada tahun ini difungsikan sepenuhnya sebagai perpustakaan. Sementara itu, berbagai kegiatan LBM dipindahkan ke Gedung Al-Ikhlas lantai II, III, dan IV.
Selain itu, kegiatan Musyawarah Kitab al-Mahalli yang menitikberatkan kajian manshul dan talkhis, tahun ini juga akan diselingi kajian tematik fikih kebangsaan dengan rujukan kitab Minhaj al-Thalibin.
Perubahan lain yang menjadi kabar baik adalah pelaksanaan Bahtsul Masail Semester I dan II yang kini dibagi menjadi dua komisi. Kebijakan tersebut diambil mengingat jumlah mahasantri semester I dan II mencapai kurang lebih 2.000 mahasantri.
Penutup serta Doa dan Harapan
Sebagaimana rangkaian mau’izhah sebelumnya acara ditutup dengan doa yang dihaturkan oleh Agus HM. Said Ridlwan. Secara simbolis beliau mengajak seluruh hadirin membaca Surat Al-Fatihah bersama-sama, seraya menyampaikan bahwa doa-doa para masyayikh sepuh sebelumnya telah menjadi keberkahan tersendiri bagi seluruh peserta.
Beliau juga meneguhkan semangat para santri dengan dawuh: “Mugi-mugi iso ngestuaken dawuh-dawuh masyayikh.” Yang artinya semoga seluruh santri mampu melaksanakan dawuh para masyayikh.
Awal Langkah Baru Aktivitas Keilmuan
Demikian rangkaian pembukaan aktivitas LBM-MHM tahun ini. Meski berlangsung sederhana, acara tersebut menjadi langkah awal yang sarat makna dan semangat baru bagi para mahasantri serta santri dalam mengikuti berbagai kegiatan bahtsul masail ke depan. Seluruh ikhtiar itu merupakan bentuk nderek dawuh kepada para masyayikh, dengan harapan menjadi jalan menuju keberkahan dan kesuksesan. (ed. Andi)

Saat ini belum ada komentar