Untuk Para Pengajar, Ini Pesan KH. M. Anwar Manshur: Mengajar Jangan Dibuat Bermain
- account_circle Muhamad Andi Suryono
- calendar_month 17/04/2026
- visibility 86
- comment 0 komentar
- label Artikel
Kediri — Keluarga besar Madrasah Hidayatul Mubtadiin dan Ma’had Aly Lirboyo Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri mengadakan agenda Halalbihalal tahunan pada (10/4) yang dihadiri para pengurus serta khadim lembaga.
Bagi para hadirin, acara ini bukan sekadar seremoni rutin melainkan majelis yang selalu dinanti karena sarat nasihat dan hikmah dari para masyayikh. Prosesi acara berlangsung penuh kesahajaan dengan nuansa khas pesantren yang khidmat, teduh, dan mengedepankan nilai spiritual.
Suasana semakin istimewa dengan kehadiran Romo KH. M. Anwar Manshur, selaku pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo. Di usia beliau yang mendekati 90 tahun, kehadirannya menjadi anugerah tersendiri bagi seluruh peserta. Turut hadir pula KH. An’im Falahuddin Mahrus dan KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus, menambah keberkahan majelis malam itu.
Dalam kesempatan tersebut, KH. Anwar Manshur berkenan menyampaikan mauidzah hasanah sebelum agenda pembacaan hasil sidang dan program kerja madrasah dimulai.
Beliau menekankan pentingnya tanggung jawab para pengajar untuk sungguh-sungguh belajar sebelum mengajar. Dengan bahasa yang lugas, beliau berpesan, “Jenengan mulang, ojo gawe dolanan.”
Pesan itu mengandung makna mendalam bahwa mengajar bukan sekadar rutinitas belaka, melainkan amanah besar yang harus dipersiapkan dengan penuh kesungguhan.
Menurut beliau, banyak santri Lirboyo yang datang dengan bekal ilmu memadai dari rumah, sehingga tugas guru bukan hanya mengajarkan dasar, tetapi memperdalam dan mengembangkan pemahaman mereka. Beliau juga mengingatkan agar para pengajar menjaga hati dari sifat sombong karena merasa menjadi guru.
Menurutnya, kesombongan bisa muncul tanpa disadari jika seseorang lalai menata niat. Karena itu, beliau memberikan resep sederhana namun dalam maknanya: seluruh aktivitas mengajar hendaknya diniatkan sebagai bentuk khidmah kepada Almaghfurlah KH. Abdul Karim.
Dengan tutur khas yang mudah diterima, beliau dawuh, “Jenengan dininati mawon ngopeni santrine Yai Sepuh.” Niat semacam itu, menurut beliau bukan hanya menjaga keikhlasan,tetapi juga mendatangkan keberkahan dalam pengabdian.
Usai membacakan doa penutup, KH. Anwar Manshur berpamitan, lalu acara dilanjutkan dengan pembacaan hasil sidang serta rencana kegiatan Madrasah dan Ma’had Aly untuk satu tahun ke depan.
Dalam refleksi atas nasihat tersebut, terdapat dua amanat penting yang relevan bagi siapa pun: pertama, terus meningkatkan kesungguhan dalam belajar dan mempersiapkan diri sebelum mengajar. Kedua, menumbuhkan ruh khidmah agar terhindar dari kesombongan. Dua hal inilah yang menjadi fondasi kuat tradisi keilmuan pesantren.
Pada kesempatan lain, Romo KH. M. Anwar Manshur juga pernah menyampaikan bahwa keberhasilan santri ditopang oleh tiga unsur yakni: murid yang sungguh-sungguh, guru yang sungguh-sungguh, dan orang tua yang sungguh-sungguh. Jika salah satunya melemah, maka keseimbangan pendidikan akan terganggu.
Semoga nasihat para masyayikh ini menjadi bekal bagi seluruh pengurus, guru, alumni, dan santri untuk senantiasa menjaga tradisi ilmu, adab, dan pengabdian, serta diakui sebagai santri yang konsisten dalam meneruskan perjuangan para ulama. (ed. Zaeini)

Saat ini belum ada komentar