4 Delegasi Ma’had Aly Lirboyo Raih Predikat Mumtaz dalam Dauroh Ilmu Hadis 2026 di Istanbul
- account_circle Erfin Surya Kurniawan
- calendar_month 24/10/2026
- visibility 130
- comment 0 komentar
- label Berita
Istanbul – Empat delegasi Ma’had Aly Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, berhasil menorehkan prestasi di tingkat internasional usai meraih predikat mumtaz (sangat baik) dalam Ujian Dauroh Ilmu Hadis 2026 yang diselenggarakan oleh Darul Hadis Al-Awwamiyyah, Istanbul, Turki.
Hasil tersebut diumumkan secara resmi oleh Awwamah Center Indonesia (ACI) melalui rilis kelulusan dan evaluasi peserta pada Senin, (19/10/2026).
Ujian ini bertujuan mengukur penguasaan peserta terhadap sejumlah literatur disiplin ilmu hadis yang dipelajari selama mengikuti program pendidikan di bawah bimbingan ulama terkemuka, Syekh Prof. Dr. Muhyiddin Awwamah.
Berdasarkan data yang dirilis ACI, keempat utusan Ma’had Aly Lirboyo yang berhasil meraih predikat mumtaz adalah Muhammad Masruhan Rizqi, M.Ag., Muhammad Hasan Nawawi, Ahmad Mihyal Manutho Muhammad dan Ahmad Hasyim Maulana.
Dalam ujian itu, para peserta menjalani evaluasi terhadap dua kitab utama dalam disiplin ilmu hadis, yakni Taudhih Mushthalah Al-Hadis dan Al-Hawasyi Al-Madaniyyah ‘ala Syarh Al-Mandzhumah Al-Baiquniyyah.
Keberhasilan keempat delegasi tersebut, diantara 26 peserta pilihan lainnya termasuk dari Universitas Al-Azhar Kairo serta perguruan tinggi lainnya mencerminkan kemampuan mereka dalam memahami dan menguasai materi keilmuan hadis yang telah dipelajari.
Capaian ini sekaligus menjadi salah satu wujud keberhasilan tradisi pendidikan pesantren dalam membekali mahasantri dengan penguasaan literatur turats.
Mendalami Ilmu Hadis Langsung dari Para Ulama di Turki
Sebelum mengikuti ujian akhir, para delegasi Ma’had Aly Lirboyo terlebih dahulu menjalani rangkaian Dauroh Ilmu Hadis di Darul Hadis Al-Awwamiyyah, Istanbul, Turki.
Program tersebut berlangsung selama 28 hari, mulai 8 September hingga 5 Oktober 2026.
Selama mengikuti kegiatan, para mahasantri berkesempatan memperdalam khazanah ilmu hadis melalui metode talaqqi, yakni belajar secara langsung kepada para ulama dan masyayikh yang memiliki kapasitas keilmuan dalam bidang hadis.
Di antara ulama yang menjadi tempat mereka menimba ilmu adalah Syekh al-‘Allamah al-Muhaddits Muhammad Awwamah, Syekh Prof. Dr. Muhyiddin Awwamah, serta Syekh Muhammad Harun.
Melalui pembelajaran itulah, para peserta tak hanya mendalami berbagai cabang ilmu mushthalah hadis, namun juga memperoleh pengalaman langsung mengenai tradisi transmisi keilmuan, metode pengajaran, serta pendekatan para ulama dalam memahami dan mengkaji literatur hadis.
Selain pendalaman materi, program dauroh ini juga memberikan pembekalan dalam bidang metodologi penelitian dan pengkajian manuskrip kuno (tahqiq).
Para peserta diperkenalkan pada pendekatan filologi dan metode penelitian naskah sebagai bagian dari upaya memahami sekaligus melestarikan warisan intelektual ulama terdahulu.
Pembekalan tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan kompetensi keilmuan para peserta.
Sehingga, mereka tidak hanya diarahkan untuk menguasai kandungan literatur hadis saja, tapi juga memahami metode pengkajian dan pelestarian khazanah keislaman secara lebih mendalam.
Keberhasilan meraih predikat mumtaz dalam ujian akhir menjadi capaian akademik yang diperoleh melalui proses pembelajaran intensif selama mengikuti program dauroh di Istanbul Turki.
Perkuat Tradisi Keilmuan Hadis di Ma’had Aly Lirboyo
Perolehan prestasi ketiga mahasantri tersebut harapannya dapat memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan kajian ilmu hadis di lingkungan Ma’had Aly Lirboyo, khususnya dalam memperkuat tradisi pembelajaran berbasis sanad dan penguasaan literatur klasik.
Baca Juga: Sebulan Belajar Ilmu Hadis di Turki: Refleksi tentang Sanad, Manhaj, dan Adab Ulama
Pengalaman menimba ilmu secara langsung kepada para pakar hadis di Turki juga menjadi bekal berharga bagi para delegasi kelak guna memperdalam metode penelitian, serta mengembangkan kajian hadis yang telah mereka pelajari selama menempuh pendidikan di pondok pesantren. (ed. Zaeini)

Saat ini belum ada komentar