Mudir Tujuh Ma’had Aly Lirboyo: Karya Ilmiah Perlu Terus Dikaji dan Dikembangkan melalui Diskusi
- account_circle Muhamad Andi Suryono
- calendar_month 16/09/2026
- visibility 37
- comment 0 komentar
- label Artikel
Badan Pengelola (BP) Ekstrakulikuler Ma’had Aly Lirboyo menggelar bedah buku Fikih Birokrasi karya Mutakhorrijin Anfa’ Tahun Akademik 2026-2027.
Dalam forum tersebut, para penyusun buku hadir langsung sebagai pemateri untuk mengulas gagasan yang telah mereka tuangkan dalam karya ilmiah.
Kegiatan diawali dengan sambutan atas nama Dewan Mudir Ma’had Aly Lirboyo. Sambutan Dewan Mudir disampaikan oleh Mudir Tujuh Ma’had Aly Lirboyo, Bpk. Fathur Rohman Mudhoffar, M.Ag.
Baca Juga: Bedah Buku Harus Jadi Ruang Istifadah dan Penguatan Daya Kritis Mahasantri
Dalam pengantarnya, ia mengajak para peserta mengambil istifadah sebanyak mungkin dari materi yang disampaikan. Ia juga mendorong peserta untuk tidak berhenti pada posisi pendengar, tetapi turut merespons pembahasan melalui diskusi.
“Ambillah istifadah sebanyak-banyaknya dari kajian ini. Jika ada hal yang perlu ditanggapi, silakan dikembangkan melalui diskusi,” ujarnya saat menyampaikan pengantar giat Bedah Buku di Aula An-Nawawy, Kota Kediri, Jawa Timur pada Senin, (14/9/2026).
Bedah Buku sebagai Ruang Menyampaikan Gagasan
Bpk. Fathur Rohman kembali mengingatkan apa yang kerap disampaikan para pimpinan Ma’had Aly Lirboyo, bahwa forum ilmiah semacam ini menjadi wadah bagi mahasantri untuk menyampaikan ide dan gagasan yang sebelumnya telah dituangkan dalam bentuk karya tulis.
Melalui bedah buku, isi karya tidak hanya berhenti di halaman-halaman tertulis saja tetapi disampaikan kembali secara lisan di hadapan peserta. Dengan begitu, gagasan di dalamnya dapat dikaji, ditanggapi, dan didiskusikan secara langsung.
Menurutnya, hal itu penting supaya sebuah karya tidak hanya selesai pada tahap penulisan, tetapi juga dapat dimunaqasahkan bersama.
“Cukup berbeda rasanya membaca buku dengan berkomunikasi langsung dengan muallifnya,” ungkapnya.
Melalui proses munaqasah, katanya, peserta dapat mendengarkan penjelasan langsung dari penulis, memahami maksud yang ingin disampaikan, sekaligus memberikan tanggapan dan masukan terhadap isi karya.
Ilmu Ma’had Aly Harus Terus Dikembangkan
Dewan Rais Lajnah Bahtsul Masail Madrasah Hidayatul Mubtadiin Lirboyo itu kemudian menyampaikan harapannya agar ilmu yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan di Ma’had Aly Lirboyo terus ditindaklanjuti dan dikembangkan.
Para mahasantri, ujarnya, diharapkan mampu menggunakan bekal keilmuan tersebut untuk merespons berbagai perkembangan dan persoalan yang terus muncul di tengah masyarakat.
Ia mencontohkan buku Fikih Birokrasi karya Mutakhorrijin Anfa’ 2026 yang sedang dibedah. Menurutnya, karya itu merupakan bentuk pertemuan antara ilmu modern dan pengetahuan formal dengan sudut pandang keilmuan turats.
“Ini menjadi contoh bagaimana ilmu yang didapatkan di Ma’had Aly dapat digunakan untuk membaca persoalan yang berkembang di luar,” katanya.
Peserta Didorong Mengkritisi Pembahasan
Mudir Tujuh Ma’had Aly Lirboyo itu juga meminta peserta mencatat poin-poin penting yang disampaikan selama forum berlangsung.
Jika terdapat pembahasan yang secara lahir masih membutuhkan pendalaman, maka peserta dipersilakan memberikan tanggapan, terutama pada bagian yang bersinggungan dengan program studi Ma’had Aly Lirboyo, yakni Fiqh wa Ushuluhu.
Menurutnya, tradisi akademik tidak cukup hanya dengan menerima penjelasan. Peserta juga perlu berani menguji gagasan melalui perangkat ilmu yang mereka miliki.
Porsi Diskusi Dibuat Lebih Dominan
Menutup sambutannya, Bpk. Fathur Rohman Mudhoffar menjelaskan bahwa kegiatan bedah buku ini memang dirancang dengan porsi diskusi yang lebih dominan.
Pendalaman kajian, katanya, lebih diprioritaskan daripada penyampaian materi satu arah agar peserta memiliki ruang yang cukup untuk menyampaikan tanggapan dan menguji isi buku.
“Forum ini memang lebih banyak porsinya untuk diskusi. Jadi, bukan sekadar mendengarkan pemaparan,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan agar pertanyaan yang disampaikan peserta tidak hanya berupa opini pribadi semata. Setiap tanggapan hendaknya berpijak pada argumentasi ilmiah dan data, terutama yang berkaitan dengan fikih, ushul fikih, dan qawaid fikih.
“Kalau bertanya atau menanggapi, usahakan jangan hanya berdasarkan pendapat. Sertakan dalil ilmiah dan data agar diskusinya lebih matang,” pungkasnya. (ed. Zaeini)

Saat ini belum ada komentar