Maulid Nabi dari Masa ke Masa: Sejarah, Tokoh Pelopor, dan Maknanya
- account_circle Redaktur
- calendar_month 26/08/2026
- visibility 51
- comment 0 komentar
- label Artikel Mahasantri
Peringatan Maulid Nabi Muhammad telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sosial dan keagamaan umat Islam di berbagai belahan dunia.
Namun, apabila menengok catatan sejarah, tradisi memperingati kelahiran Nabi SAW dalam bentuk perayaan resmi dan terorganisasi pada dasarnya tidak ditemukan pada masa Rasulullah maupun para sahabat.
Bentuk perayaan semacam ini baru tumbuh dan berkembang beberapa abad setelah beliau wafat.
Menariknya, para sejarawan dan ulama memiliki beberapa pandangan perihal siapa tokoh yang pertama kali memelopori peringatan Maulid Nabi secara massal.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa sejarah perkembangan Maulid tidak hanya melalui satu jalur tunggal.
Setiap wilayah memiliki fase, tokoh, dan latar sosial-politik yang berbeda dalam mengembangkan tradisi tersebut.
Maulid pada Era Fatimiyah dan Perkembangannya
Salah satu pendapat menyebutkan bahwa peringatan Maulid Nabi secara resmi mulai diselenggarakan oleh penguasa Dinasti Fatimiyah di Mesir.
Dalam catatan yang dirujuk, pada masa Khalifah al-Mu’izz li Dinillah, dinasti Fatimiyah mengembangkan berbagai kebijakan keagamaan dan kebudayaan setelah menguasai Mesir.
Di antara kebijakan tersebut ialah pembangunan Masjid Jami’ al-Azhar, pengembangan Kota Kairo, serta penyelenggaraan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW secara formal.
Tradisi ini kemudian menjadi salah satu bentuk kegiatan keagamaan yang berkembang di lingkungan pemerintahan Fatimiyah. (Lihat: Taqiyuddin Ahmad bin Ali al-Maqrizi, Al-Mawa’izh wa al-I’tibar fi Dzikr al-Khithath wa al-Atsar [Kairo: Maktabah Madbuli], vol. 2, h. 216–218)
Sementara itu, di kalangan Ahlussunnah wal Jamaah, sejumlah riwayat menghubungkan perkembangan peringatan Maulid dengan dinamika dunia Islam pada masa Perang Salib.
Baca Juga: Sebelum Menghukumi Maulid Nabi, Pahami Dulu Hakikat, Tujuan, dan Dalilnya (1)
Dalam situasi dimana umat Islam menghadapi tekanan eksternal sekaligus perpecahan internal, peringatan kelahiran Nabi SAW berkembang menjadi salah satu momentum guna membangun kembali semangat dan solidaritas umat.
Salah satu keterangan menyebut Syamsud Daulah sebagai tokoh yang menyelenggarakan peringatan tersebut atas dorongan Perdana Menteri Nizam al-Mulk.
Dalam konteks ini, Maulid bukan hanya menjadi kegiatan keagamaan, tetapi juga memperoleh dimensi sosial dan psikologis sebagai sarana memperkuat persatuan umat Islam. Catatan mengenai perkembangan ini antara lain dikaitkan dengan uraian al-Maqrizi dalam karyanya.
(Lihat: Taqiyuddin Ahmad bin Ali al-Maqrizi, Al-Mawa’izh wa al-I’tibar fi Dzikr al-Khithath wa al-Atsar [Kairo: Maktabah Madbuli], vol. 2, h. 333–334)
Jejak al-Khaizuran di Tanah Haram
Pandangan lain mengenai sejarah awal Maulid juga dinisbatkan kepada Syekh Nuruddin Ali al-Samhudi dalam kitab Wafa’ al-Wafa bi Akhbar Dar al-Mustafa.
Dalam riwayat yang dikemukakan, termasuk figur yang menginisiasi peringatan kelahiran Nabi SAW adalah al-Khaizuran.
Al-Khaizuran merupakan istri Khalifah al-Mahdi bin al-Mansur sekaligus ibunda dua khalifah Dinasti Abbasiyah, yaitu Musa al-Hadi serta Harun al-Rasyid.
Ia dikenal sebagai salah seorang perempuan yang memiliki pengaruh besar dalam lingkungan dinasti Abbasiyah.
Dalam catatan tersebut, pada tahun 170 H atau sekitar 786 M, al-Khaizuran berkunjung ke Madinah dan mendorong penduduk setempat memperingati kelahiran Nabi SAW di Masjid Nabawi.
Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan menuju Makkah lalu meminta masyarakat setempat supaya mengadakan peringatan Maulid di rumah-rumah mereka. (Lihat: Nuruddin Ali al-Syafi’i al-Samhudi, Wafa’ al-Wafa’ bi Akhbar Dar al-Mustafa [Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, cet. 1, 1419 H], h. 222)
Jika riwayat di atas ditempatkan dalam rangkaian sejarah perkembangan Maulid, maka nampak bahwa ekspresi kegembiraan atas kelahiran Nabi SAW tidak hanya berkembang melalui kebijakan suatu kerajaan, tetapi juga melalui kegiatan keagamaan masyarakat di pusat-pusat strategis dunia Islam.
Kemeriahan Maulid di Irbil
Pandangan berikutnya menghubungkan popularitas perayaan Maulid secara besar-besaran dengan Raja al-Muzoffar Abu Sa’id, penguasa Irbil di wilayah Irak.
Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Quddus al-Makki dalam Kanzun Najah wa al-Surur menyebut al-Muzoffar sebagai salah satu penguasa yang mengadakan peringatan Maulid dengan sangat meriah.
Al-Muzoffar sendiri dikenal sebagai sosok pemimpin yang gagah berani, adil, serta memiliki kecintaan besar kepada Rasulullah.
Pada masa pemerintahannya, peringatan Maulid diselenggarakan secara besar-besaran setiap bulan Rabiul Awal. Kegiatan itu bahkan tidak hanya menghadirkan masyarakat dalam skala yang besar, melainkan pula melibatkan para ulama dan para tokoh keagamaan.
Besarnya perhatian al-Muzaffar terhadap sejarah maupun kelahiran Nabi SAW juga terlihat dari penghargaan yang ia berikan kepada al-Hafizh Ibn Dihyah.
Ibn Dihyah merupakan seorang ulama penyusun kitab al-Tanwir fi Maulid al-Siraj al-Munir, sebuah karya yang secara khusus membahas kelahiran Rasulullah SAW secara komprehensif.
Al-Muzaffar dikisahkan memberikan hadiah sebesar seribu dinar kepada Ibn Dihyah atas karya tersebut.
Sejak fase inilah, peringatan Maulid semakin dikenal luas sebagai salah satu ekspresi kecintaan umat Islam kepada Rasulullah SAW. (Lihat: Kanzun Najah wa al-Surur [Mesir: Dar al-Hawi], h. 131)
Lihat pula: Jalaluddin al-Suyuthi, Al-Hawi li al-Fatawi [Beirut: Dar al-Fikr], vol. 1, h. 222)
Tokoh Lain dalam Perkembangan Tradisi Maulid
Selain beberapa nama yang telah disebutkan, sebagian literatur sejarah juga mencatat Syekh Umar bin Muhammad al-Malla sebagai salah seorang tokoh yang berperan dalam perkembangan awal peringatan Maulid.
Tokoh sufi dari Kota Mosul ini disebut telah mengadakan peringatan Maulid sebelum tradisi tersebut berkembang secara lebih luas pada masa Raja al-Muzaffar.
Imam Abu Syammah al-Maqdisi menyinggung keberadaan tokoh ini dalam karyanya yang berjudul Al-Ba’its ‘ala Inkar al-Bida’ wa al-Hawadits.
Catatan demikian semakin menunjukkan bahwa cukup sulit menunjuk satu figur secara mutlak sebagai orang pertama yang memulai seluruh bentuk peringatan Maulid.
Satu sumber mungkin berbicara mengenai penyelenggaraan di lingkungan pemerintahan/dinasti tertentu, sumber lain berkenaan dengan tradisi masyarakat, sedangkan sumber lainnya mencatat perkembangan Maulid secara besar-besaran dan terbuka.
Karena itu, istilah pelopor Maulid perlu dipahami sesuai konteks masing-masing catatan sejarah, apakah yang dimaksud ialah orang pertama yang mendorong peringatan kelahiran Nabi SAW, dinasti pertama yang menjadikannya agenda resmi, atau penguasa yang memopulerkannya dalam skala besar.
Perkembangan bentuk perayaan Maulid lantas semakin beragam. Dalam berbagai wilayah Islam, peringatan ini terdapat corak kebudayaan yang berbeda, mulai dari pembacaan sirah, syair pujian, pengajian, pemberian makanan, hingga berbagai ekspresi sosial lainnya.
Inti Maulid: Mengenal untuk Mencintai
Di luar silang pendapat perihal siapa yang pertama kali menyelenggarakannya, terdapat satu pesan yang lebih penting untuk direnungkan, yaitu peringatan Maulid tidak semestinya berhenti pada kemeriahan acara semata.
Prof. Muhammad Quraish Shihab, sebagaimana dikutip NU Online, dalam pembahasan mengenai sejarah Maulid, menekankan bahwa salah satu inti penting peringatan tersebut adalah mengenalkan sosok Nabi Muhammad kepada setiap generasi.
Mengenal merupakan salah satu pintu menuju cinta. Seseorang akan sulit meneladani Rasulullah SAW jika ia tidak mengenal perjalanan hidup, akhlak, perjuangan, maupun ajaran beliau.
Sehingga, Maulid idealnya menjadi momentum untuk membaca kembali sirah Nabi SAW.
Umat Islam tidak hanya mengingat tanggal kelahirannya, tetapi juga mempelajari bagaimana beliau membangun masyarakat, memperlakukan keluarga, menghadapi lawan, mengasihi kaum lemah, menegakkan keadilan, serta menjaga hubungan dengan Allah.
Sehingga, ukuran keberhasilan peringatan Maulid tidak hanya terletak pada seberapa meriah suatu acara diselenggarakan, tetapi juga pada sejauh mana kecintaan kepada Nabi SAW melahirkan keinginan untuk mengikuti akhlak dan petunjuk beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Maulid dalam Keragaman Tradisi Umat Islam
Perjalanan sejarah menunjukkan bahwa bentuk peringatan Maulid Nabi terus mengalami perkembangan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial serta budaya masyarakat Muslim.
Tradisi yang tumbuh di Mesir tentu memiliki corak yang berbeda dengan tradisi di Irak, Syam, Hijaz, maupun wilayah-wilayah Islam lainnya.
Saat Islam berkembang di Nusantara, ekspresi Maulid pun berinteraksi dengan budaya masyarakat setempat. Dari proses itu lahirlah ragam tradisi yang memiliki bentuk berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.
Ada masyarakat yang menekankan pembacaan sirah dan sholawat, ada pula yang mengiringinya dengan pengajian, sedekah makanan, kegiatan sosial, maupun ekspresi budaya lainnya.
Keragaman bentuk ini memperlihatkan bahwa Maulid telah mengalami proses panjang dalam sejarah umat Islam.
Baca Juga: Sebelum Menghukumi Maulid Nabi, Pahami Dulu Hakikat, Tujuan, dan Dalilnya (2)
Dari kegiatan yang dinisbatkan kepada penguasa, tokoh agama, maupun masyarakat, tradisi demikian senantiasa berkembang menjadi salah satu ekspresi keagamaan yang dikenal luas.
Meski begitu, di balik keragaman tersebut, muaranya tetap dapat diarahkan kepada satu tujuan: menjaga ingatan kolektif umat terhadap Rasulullah.
Makna peringatan kelahiran Nabi justru tumbuh tatkala Maulid menjadi jalan untuk mengenal Rasulullah SAW secara lebih dekat, mempelajari perjuangannya, menghidupkan ajarannya, memperbanyak bacaan sholawat, serta menumbuhkan kecintaan yang berbuah pada keteladanan.
Dengan demikian, perdebatan terkait siapa yang pertama kali mengadakan Maulid biarlah menjadi bagian penting dari kajian sejarah.
Justru, pelajaran yang lebih besar terletak pada bagaimana umat Islam di masa kini menjadikan momentum maulid sebagai sarana untuk semakin mengenal, mencintai, dan mengikuti Nabi Muhammad dalam segala aspek.
Editor: Erfin Surya Kurniawan
Penulis: M. Rosi
(Mahasantri Marhalah Ula Smt. V)

Saat ini belum ada komentar