Konferensi Internasional Mu’tamad 2026 Resmi Ditutup di Ma’had Aly Lirboyo, Perkuat Tradisi Keilmuan Pesantren
- account_circle Erfin Surya Kurniawan
- calendar_month 30/10/2026
- visibility 83
- comment 0 komentar
- label Berita
Kediri – Acara Al-Multaqa Ad-Dawli Lid Dirasat Al-Islamiyah Wal Hadariyah (Mu’tamad) 2026 resmi ditutup di Aula Al-Muktamar, Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jumat (30/10/2026) malam.
Setelah mengikuti rangkaian kegiatan selama dua hari, para panelis dan peserta kembali berkumpul untuk menghadiri acara penutupan yang dimulai pukul 19.30 WIB.
Baca juga: Konferensi Internasional Mu’tamad 2026 Resmi Dibuka di Ma’had Aly Lirboyo, Hadirkan 200 Panelis
Antusiasme peserta masih terasa kendati berbagai agenda konferensi telah berlangsung sejak hari sebelumnya.
Acara penutupan ini menjadi momentum untuk menyampaikan apresiasi, refleksi, serta harapan terhadap keberlanjutan pengembangan keilmuan pesantren melalui forum akademik berskala internasional.
Sejumlah tokoh dan pimpinan pesantren turut menghadiri kegiatan tersebut. Di antaranya Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, KH. An’im Falahuddin Mahrus, Direktur Ma’had Aly Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama RI, Dr. H. Adib, M.Ag.
Direktur Bina Dakwah Pesantren dan Pendidikan Nonformal, Dr. Mahrus El-Mawa, M.Ag, Mudir ‘Am Ma’had Aly Lirboyo, KH. Atho’illah Sholahuddin Anwar.
Ketua Umum Pondok Pesantren Lirboyo, KH. Adibussoleh Anwar, serta Ketua Asosiasi Ma’had Aly, Dr. KH. Nur Salikin, M.A.
Turut hadir jajaran pengurus Pondok Pesantren Lirboyo, keluarga besar dzuriah Lirboyo, serta para panelis dan peserta Mu’tamad.
Rangkaian penutupan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang diikuti seluruh hadirin.
Suasana khidmat dan semangat kebangsaan menyelimuti Aula Al-Muktamar sebelum acara berlanjut dengan pembacaan surah Al-Fatihah dan penyampaian sambutan.
Apresiasi Panelis dan Harapan bagi Pengembangan Keilmuan Pesantren
Mewakili para peserta, Dr. Abi H. Zahrul Mubarak HB, M.Pd., Mudir Ma’had Aly MUDI Mesjid Raya Samalanga, menyampaikan kesan dan pesan selama mengikuti rangkaian Mu’tamad di Ma’had Aly Lirboyo.
Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia atas pelayanan, fasilitas, serta sarana dan prasarana yang telah disediakan selama konferensi berlangsung.
Ia juga mengucapkan terima kasih atas kerja keras seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut.
“Semoga semuanya dibalas kebaikan,” ucapnya seraya mendoakan para panitia dan penyelenggara.
Sementara itu, KH. An’im Falahuddin Mahrus selaku perwakilan tuan rumah menyoroti pentingnya penyelenggaraan konferensi ilmiah di lingkungan pesantren.
Menurutnya, forum semacam Mu’tamad dapat menjadi sarana guna mempertemukan ketelitian tradisi keilmuan santri dengan kebebasan berpikir dalam dunia akademik.
Ia menjelaskan bahwa santri sejak kecil terbiasa menjalani proses pembelajaran dengan bimbingan guru secara intensif.
Tradisi tersebut membentuk karakter yang teliti dan berhati-hati dalam memahami persoalan keilmuan.
Namun, menurutnya, para santri belum banyak memperoleh ruang untuk mengembangkan kebebasan berpikir sebagaimana yang umumnya tersedia dalam lingkungan perguruan tinggi.
Karena itu, Kiai An’im berharap forum akademik seperti Mu’tamad dapat mempertemukan kedua karakter tersebut, yakni ketelitian dalam memahami ilmu dan keberanian mengembangkan pemikiran secara terbuka.
“Jika keduanya, ketelitian dan pemikiran bebas, disatukan, pasti luar biasa. Namun, masih tetap dalam batasan-batasan syariat,” tuturnya.
Melalui konferensi ini, ia juga berharap Ma’had Aly dapat terus menjadi wadah pengembangan tradisi intelektual pesantren yang tidak hanya mempertahankan kedalaman kajian keislaman, tetapi juga memberikan ruang bagi tumbuhnya gagasan-gagasan akademik.
Dalam kesempatan yang sama, Kiai An’im turut mengusulkan agar kitab Bahjatul Mardliyah yang terdiri atas sekitar 8.000 bait dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari kurikulum pendidikan Ma’had Aly.
Kemenag Tekankan Peran Strategis Santri dan Penguatan Pendidikan Pesantren
Rangkaian penutupan berlanjut dengan penyampaian laporan Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama RI, Dr. H. Basnang Said, M.Ag., yang mengikuti kegiatan secara daring dari Jakarta.
Dalam kesempatan tersebut, Basnang juga menyampaikan laporan mengenai rangkaian kegiatan peringatan Hari Santri yang berlangsung di Masjid Istiqlal, Jakarta, di hadapan ribuan santri putri.
Ia menegaskan bahwa santri memiliki kedudukan penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi keilmuan Islam sekaligus memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa.
“Santri bukan hanya sebagai penerus para kiai dan ulama, tetapi juga kekuatan strategis bangsa untuk menciptakan generasi yang unggul di zaman sekarang,” ujarnya.
Menurutnya, bangsa Indonesia senantiasa membutuhkan kontribusi santri dalam menjaga kesinambungan tradisi keilmuan yang telah diwariskan para ulama dari generasi ke generasi.
Basnang yang saat itu berada di Jakarta bersama Menteri Agama RI, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A., juga menyoroti pentingnya implementasi kebijakan yang berpihak pada pengembangan pendidikan pesantren.
Dalam penyampaian tersebut, ditegaskan bahwa keberadaan Undang-Undang Pesantren tidak boleh berhenti pada tataran regulasi, tetapi perlu diwujudkan melalui program-program yang memberikan manfaat nyata bagi lembaga pendidikan pesantren dan para santri.
“Undang-Undang Pesantren tidak hanya berhenti sebagai dokumen saja, namun harus direalisasikan melalui program-program yang mampu mengembangkan mutu pendidikan serta kemakmuran para santri.”
Penguatan mutu pendidikan dan kesejahteraan santri menjadi bagian penting dari upaya pemerintah dalam mendukung keberlanjutan pendidikan pesantren.
Program-program yang dikembangkan diharapkan mampu menjawab kebutuhan santri sekaligus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
KH. Kafabihi Mahrus Dorong Santri Berkhidmah bagi Bangsa
Menjelang akhir acara, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, menyampaikan pesan kepada para santri dan peserta konferensi mengenai pentingnya pengabdian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam arahannya, ia berharap para santri tidak hanya berkiprah dalam lingkungan pendidikan dan keagamaan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk berkhidmah melalui berbagai bidang, termasuk pemerintahan.
Menurutnya, keterlibatan santri yang memiliki bekal keilmuan dan nilai-nilai keagamaan dalam pemerintahan diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi kehidupan masyarakat dan negara.
“Jika pejabatnya baik, maka akan menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi para peserta mengenai pentingnya memadukan penguasaan ilmu pengetahuan dengan akhlak dan tanggung jawab dalam menjalankan amanah.
Selain menyampaikan nasihat, KH. Kafabihi Mahrus juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah mengikuti rangkaian Mu’tamad.
Dengan penuh kerendahan hati, ia menyampaikan permohonan maaf apabila terdapat kekurangan dalam pelayanan dan penyelenggaraan kegiatan selama konferensi berlangsung.
“Hanya ini penghormatan yang bisa kami lakukan, adanya cuma begini,” pungkasnya.
Rangkaian penutupan kemudian diakhiri dengan pembacaan doa yang dipimpin langsung oleh KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, dilanjutkan dengan lantunan sholawat Thibbil Qulub secara bersama-sama.
Dengan berakhirnya kegiatan tersebut, maka rangkaian Konferensi Internasional Mu’tamad 2026 resmi ditutup.
Forum yang mempertemukan para akademisi, peneliti, dan mahasantri dari berbagai lembaga pendidikan ini menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai pengembangan keilmuan Islam, pendidikan pesantren, kemanusiaan, dan peradaban dunia.
(ed. Zaeini)

Saat ini belum ada komentar