Beranda » Berita » Kaji Hukum Penggunaan AI dalam Istinbat Fikih, Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo Raih Best Paper I Mu’tamad 2026

Kaji Hukum Penggunaan AI dalam Istinbat Fikih, Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo Raih Best Paper I Mu’tamad 2026

Kediri – Gelaran Al-Multaqa Ad-Dawli Lid Dirasat Al-Islamiyah Wal Hadariyah (Mu’tamad) 2026 diwarnai dengan rangkaian pengumuman Best Paper Mu’tamad 2026 yang berlangsung di Ma’had Aly Lirboyo, Kediri pada Jum’at malam Sabtu (30/10/2026).

Direktur Ma’had Aly Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama RI, Dr. H. Adib, M.Ag., menyampaikan pengumuman karya ilmiah terbaik di hadapan para panelis dan discussant.

Baca Juga: Para Pakar Bahas Pelestarian Turats hingga Daya Saing Global Ma’had Aly, dalam Sesi Pleno Mu’tamad

Adapun sejumlah karya yang memperoleh penghargaan Best Paper dan masuk dalam kategori Paper Terpilih Mu’tamad ialah sebagai berikut.

Riset AI dalam Istinbat Fikih Raih Best Paper I

Penghargaan Best Paper I diraih oleh Muhammad Athoillah dan Haizul Ma’ali, perwakilan Marhalah Tsaniyah Ma’had Aly Lirboyo.

Keduanya mengangkat penelitian mengenai hukum penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam proses penggalian hukum fikih atau istinbat.

Melalui penelitian tersebut, keduanya mengkaji penggunaan teknologi AI dalam proses penetapan hukum Islam dengan menelaah aspek hukum dan teknisnya berdasarkan perspektif literatur keislaman klasik.

Kajian ini menjadi salah satu contoh upaya mempertemukan metodologi keilmuan fikih yang berkembang dalam tradisi pesantren dengan kemajuan teknologi digital.

Pembahasannya memperlihatkan bagaimana persoalan kontemporer dapat dikaji melalui pendekatan keilmuan yang berpijak pada khazanah turats.

Sementara itu, penghargaan Best Paper II diraih oleh Ahmad Mughis Mabruri dari Pondok Pesantren Fadlun Minalloh.

Ia mengangkat gagasan mengenai model pesantren transformatif berbasis kurikulum adaptif untuk memperkuat kompetensi santri dalam penguasaan kitab kuning.

Penelitian tersebut menyoroti pentingnya pengembangan kurikulum pendidikan pesantren yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa mengabaikan penguasaan literatur keislaman klasik sebagai fondasi utama pembelajaran.

Adapun penghargaan Best Paper III diraih oleh tiga peneliti dari Universiti Pendidikan Sultan Idris, yakni Imvitahul Mawaddah, Azmil bin Hashim, dan Ahmad Alfin Rahmatullah.

Ketiganya mengangkat penelitian mengenai pengaruh kecemasan akademik (academic insecurity) terhadap tingkat kepercayaan diri santri dalam proses pembelajaran kitab kuning.

Kajian tersebut memberikan perhatian pada aspek psikologis dalam pendidikan pesantren, khususnya hubungan antara kondisi akademik peserta didik dan kepercayaan diri mereka ketika mempelajari literatur keislaman.

Ketiga karya penerima penghargaan Best Paper tersebut memperlihatkan keragaman pendekatan penelitian, mulai dari pemanfaatan teknologi dalam kajian hukum Islam, pengembangan kurikulum pesantren, hingga aspek psikologis dalam proses pembelajaran santri.

Enam Paper Terpilih Angkat Isu Digital, Toleransi, dan Tradisi Keilmuan Islam

Selain tiga penghargaan utama, forum Mu’tamad juga menetapkan sejumlah karya dalam kategori Paper Terpilih.

Penelitian-penelitian tersebut menghadirkan berbagai perspektif keilmuan yang berkaitan dengan persoalan hukum Islam, perkembangan teknologi, sejarah, pendidikan, dan kebudayaan.

Salah satunya karya Moh. Makinun Amin dari Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng yang mengangkat tema “Konstruksi Fikih Kerahasiaan Percakapan Digital: Batas Kewenangan Menyebarkan Informasi Perspektif Hadis Nabi”.

Penelitian tersebut menyoroti persoalan kerahasiaan komunikasi dalam ruang digital melalui pendekatan hadis Nabi, khususnya perihal batas kewenangan seseorang dalam menyebarkan informasi atau percakapan.

Kajian lain datang dari Muhamad Abror dan Sufyan Syafi’i, perwakilan Ma’had Aly Sa’idussiddiqiyah Jakarta.

Keduanya menelusuri sejarah jaringan fatwa yang menghubungkan pesantren di Nusantara dengan pusat-pusat keilmuan Islam di Haramain dan Kairo pada awal abad ke-20.

Penelitian ini mengangkat hubungan intelektual antarpusat keilmuan Islam sebagai bagian dari sejarah perkembangan tradisi fatwa dan transmisi keilmuan pesantren.

Sementara itu, Akhmad Zaeni dan Ahmad Fatoni dari Ma’had Aly Assunniyyah mengangkat kajian mengenai dialog intra-Islam melalui tradisi hadis, khususnya titik temu antara pemikiran Sunni dan Syiah Itsna ‘Asyariyyah dalam pembahasan fikih air.

Melalui penelitian tersebut, keduanya mengkaji kemungkinan konvergensi pemikiran dari dua tradisi keilmuan Islam serta kontribusinya bagi pengembangan dialog dan peradaban Islam dunia.

Dari bidang pendidikan Al-Qur’an, Dr. H. Muhammad Ulinnuha, Lc., M.A., dari Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta, menghadirkan penelitian mengenai penanaman nilai moderasi beragama (wasathiyah) melalui metode pembelajaran Al-Qur’an.

Kajian ini menggunakan analisis isi Qā’idah Baghdadiyah dan pengalaman pembelajar dalam tradisi ngaji Turutan untuk menelaah nilai-nilai moderasi yang terkandung dalam praktik pembelajaran Al-Qur’an.

Pembahasan mengenai identitas dan kebudayaan turut diangkat oleh Akhmad Kholily Kholil Gml dari Ma’had Aly Lirboyo. Melalui penelitiannya, ia mengulas konsep wandering santri sebagai bagian dari proses pembentukan identitas kebudayaan nasional.

Penelitian itu menempatkan pengalaman dan mobilitas santri dalam kaitannya dengan pembentukan identitas budaya yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Adapun karya terpilih lainnya datang dari Fitriah Raudhatul Jannah, S.F.U., perwakilan Ma’had Aly Al-Munawwarah, Riau.

Melalui penelitiannya, Fitriah mempertemukan konsep maslahah mursalah dalam ushul fikih dengan pendekatan literasi statistik modern.

Ia mengkaji bagaimana bukti empiris dapat digunakan untuk memperkuat proses verifikasi kemaslahatan dalam pertimbangan hukum Islam.

Kajian di atas menunjukkan adanya ruang pengembangan metodologi ushul fikih melalui pendekatan penelitian berbasis data, khususnya dalam memahami persoalan kemaslahatan yang berkaitan dengan realitas masyarakat.

Memperkuat Kontribusi Keilmuan Pesantren di Era Modern

Beragam karya yang memperoleh penghargaan dalam Mu’tamad 2026 memperlihatkan luasnya cakupan kajian yang dikembangkan oleh kalangan akademisi dan peneliti berbasis pesantren.

Penelitian-penelitian tersebut tidak hanya berfokus pada penguasaan literatur klasik, namun juga menghubungkannya dengan persoalan kontemporer, mulai dari perkembangan AI, komunikasi digital, pembaruan pendidikan, hingga hubungan sosial dan kebudayaan.

Baca Juga: Sesi Paralel Mu’tamad Berlanjut, Panelis Dalam dan Luar Negeri Presentasikan Paper Ushul Fikih hingga Isu Kemanusiaan

Capaian para panelis sekaligus memperlihatkan potensi pengembangan tradisi keilmuan pesantren melalui pendekatan akademik yang lebih luas, tanpa meninggalkan landasan metodologis dan khazanah intelektual yang telah diwariskan para ulama.

Penghargaan ini diharapkan dapat mendorong para akademisi dan mahasantri untuk senantiasa mengembangkan penelitian yang berakar pada tradisi keilmuan Islam sekaligus mampu memberikan kontribusi nyata bagi pendidikan, kehidupan masyarakat, dan peradaban dunia. (ed. Zaeini)

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less