Beranda » Artikel » KH. Abdullah Kafabihi Mahrus: Bahtsul Masail adalah Ciri Khas Pesantren yang Harus Dijaga

KH. Abdullah Kafabihi Mahrus: Bahtsul Masail adalah Ciri Khas Pesantren yang Harus Dijaga

Kehadiran KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus dalam forum Bahtsul Masail Ma’had Aly se-Jawa Timur yang diinisiasi oleh Ma’had Aly Lirboyo bersama NU Online Institute menjadi keberkahan tersendiri bagi seluruh peserta.

Kehadiran beliau tidak hanya menambah khidmat suasana, tetapi juga memberikan warna khusus dalam pembukaan forum ilmiah tersebut.

Pada kesempatan itu, beliau berkenan menyampaikan mau’izhah hasanah sekaligus pengantar Bahtsul Masail yang sarat dengan pesan, motivasi, serta refleksi sejarah keilmuan pesantren.

Nasihat tersebut menjadi bekal penting bagi para mahasantri dan peserta dalam mengikuti rangkaian forum yang berlangsung selama beberapa hari.

Perjuangan Panjang di Balik Tradisi Bahtsul Masail

Mengawali penyampaiannya, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus menegaskan bahwa Bahtsul Masail merupakan salah satu identitas sekaligus ciri khas pesantren salaf.

Menurut beliau, tradisi intelektual ini tidak lahir secara instan, melainkan melalui perjuangan panjang para kiai Nusantara yang dengan penuh kesungguhan menjaga dan mewariskannya dari generasi ke generasi.

Beliau menjelaskan bahwa khazanah turats Islam menyimpan kekayaan intelektual yang sangat luas. Menukil keterangan dalam kitab Mizan al-Kubra, beliau menyebut bahwa para ulama terdahulu memberikan ruang yang luas bagi perbedaan pendapat dan argumentasi.

Menariknya, banyak persoalan yang dianggap baru pada masa sekarang sesungguhnya telah dibahas dan dikaji secara mendalam oleh para ulama salaf. Karena itu, menurut beliau, para penuntut ilmu harus senantiasa merujuk kepada warisan keilmuan tersebut.

Perbedaan Ulama sebagai Solusi

Dalam penyampaiannya, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo itu menegaskan bahwa seseorang memiliki kebebasan dalam memilih pendapat selama tetap memiliki landasan dan referensi yang jelas. Beliau mencontohkan persoalan haji dan qunut yang memiliki ragam pendapat di dalam mazhab-mazhab fikih.

Menurut beliau, seluruh pendapat tersebut dapat diamalkan selama memiliki pijakan keilmuan yang kuat. Pesan ini sekaligus mengajarkan para mahasantri untuk bersikap bijak dan tidak kaku dalam menyikapi perbedaan amaliah di tengah masyarakat.

Ada penjelasan menarik yang beliau sampaikan mengenai adagium yang sering dikutip dalam berbagai forum, yakni ikhtilaf al-ulama rahmah. Menurutnya, rahmat yang dimaksud dalam ungkapan tersebut dapat dimaknai sebagai solusi.

“Perbedaan ulama adalah rahmat atau solusi,” tegas beliau.

Dengan merujuk kitab Mizan al-Kubra, beliau menjelaskan bahwa pendapat-pendapat ulama pada dasarnya kembali kepada dua tingkatan, yaitu martabah takhfif (keringanan) dan martabah tasydid (kehati-hatian atau pemberatan).

Menurut beliau, kedua tingkatan tersebut memiliki ruang penerapannya masing-masing. Pendapat yang ringan dapat menjadi solusi bagi orang-orang yang memiliki keterbatasan, sedangkan pendapat yang lebih berat diperuntukkan bagi mereka yang mampu menjalankannya.

Beliau kemudian mencontohkan persoalan aurat laki-laki. Pendapat mayoritas ulama menyatakan bahwa aurat laki-laki berada antara pusar hingga lutut. Sementara, sebagian ulama lain membatasi aurat pada dua kemaluan (sauatain).

Perbedaan ini, menurut beliau dapat menjadi solusi sesuai dengan kondisi masyarakat. Misalnya, pekerja pencari pasir di sungai yang mengalami kesulitan apabila harus mengenakan pakaian tertentu ketika bekerja.

Sebaliknya, beliau mengingatkan bahwa seorang kiai atau tokoh agama justru dituntut memilih pendapat yang lebih hati-hati. Karena itu, martabah tasydid lebih layak diambil oleh mereka yang menjadi panutan masyarakat.

Indonesia Menjaga Tradisi Khataman Kitab

KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus juga menyoroti tradisi khas pesantren Indonesia, yaitu mengaji kitab secara runtut hingga khatam. Menurut beliau, tradisi ini menjadi kekayaan tersendiri yang tidak selalu ditemukan di negeri asal kitab-kitab tersebut.

Beliau mencontohkan kitab Fath al-Wahhab karya ulama Mesir. Di negeri asalnya, kitab itu tidak selalu dikaji secara lengkap dari awal hingga akhir. Sebaliknya, di pesantren-pesantren Indonesia kitab tersebut justru dikaji secara tuntas.

Beliau juga menyebut sejumlah kitab turats lain seperti Syarh Ibnu Aqil, Jam’ al-Jawami’, dan Syarh Minhaj al-Mahalli yang hingga kini tetap dipelajari secara intensif di pesantren salaf.

“Ibnu Aqil itu dikarang di luar negeri. Akan tetapi di sana jarang dikaji secara runtut. Kalau di Indonesia, saking banyaknya sampai tidak bisa dihitung,” ungkap beliau.

Menurutnya, tradisi membaca kitab hingga khatam merupakan amanat keilmuan yang harus dijaga. Sebab apabila mata rantai tersebut terputus, maka akan sangat sulit menyambung kembali tradisi transmisi ilmu yang telah diwariskan para ulama.

Bahtsul Masail Harus Berjalan Bersama Ngaji Kitab

Lebih lanjut, Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu menyampaikan bahwa membaca kitab secara utuh dari awal hingga akhir bukanlah perkara mudah.

Sehingga, Bahtsul Masail tidak boleh dipisahkan dari tradisi ngaji kitab yang istiqamah.

Tanpa fondasi tersebut, menurut beliau kualitas Bahtsul Masail justru akan menurun. Kemampuan berdiskusi dan berargumentasi harus ditopang dengan penguasaan kitab, nahwu, dan ushul fikih.

Beliau menjelaskan bahwa ilmu nahwu diperlukan untuk memahami maksud ta’bir dalam kitab-kitab rujukan, sedangkan ushul fikih berfungsi menganalisis kesesuaian ibarat dengan persoalan yang sedang dibahas.

Karena itu, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus sangat menekankan pentingnya ngaji kitab sebagai metode klasik para ulama dalam mentransmisikan ilmu. Tradisi tersebut telah berlangsung turun-temurun dan wajib dijaga agar tidak terputus.

Menutup mau’izhahnya, beliau memimpin doa bersama. Seluruh peserta menengadahkan kedua tangan sekaligus mengamini doa dengan penuh khusyuk.

Suasana yang hening dan penuh harap itu menjadi penutup yang mengesankan bagi pembukaan Bahtsul Masail Ma’had Aly se-Jawa Timur. (ed. Zaeini)

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less