Ketika AI Mengarang Ibarat Kitab: Mengapa Verifikasi Sumber Itu Penting?
- account_circle Khabibur Rahman Syafi'i
- calendar_month 11/08/2026
- visibility 21
- comment 0 komentar
- label Artikel Mahasantri
Dahulu kala, seorang santri harus membuka berlembar-lembar kitab untuk menemukan satu ibarat yang sesuai dengan persoalan yang sedang dibahas.
Ia perlu mencari bab yang relevan, membaca redaksi sebelum dan sesudahnya, lalu memastikan kedudukan pendapat tersebut, apakah termasuk pendapat mu’tamad, pendapat lemah, atau sekadar pendapat yang dikemukakan untuk kemudian dibantah.
Hari ini, pekerjaan yang dahulu membutuhkan waktu dan ketelitian itu seakan dapat diselesaikan hanya dalam hitungan detik. Seseorang cukup memberikan perintah kepada kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), misalnya:
“Carikan ibarat kitab tentang masalah ini, lengkap dengan teks Arab, nama kitab, jilid, dan halamannya.”
Tidak lama kemudian, AI akan menyajikan teks Arab yang tampak fasih. Nama kitabnya terkenal, pengarangnya dikenal, bahkan nomor jilid dan halamannya dicantumkan secara meyakinkan.
Namun, ketika kitab aslinya dibuka dan diperiksa, teks itu justru tidak ditemukan.
Pada kasus lain, teks yang disebutkan memang kadang terdapat dalam kitab, tetapi dinisbatkan kepada pengarang yang keliru.
Baca Juga: Qana’ah di Era Digital: Solusi Syekh Nawawi Al-Bantani Menghadapi Tren FOMO dan Flexing
Ada pula teks yang benar dan sumbernya tepat, akan tetapi kutipannya dipotong dari konteks sehingga menghasilkan kesimpulan yang berbeda dari maksud pengarang.
Fenomena semacam inilah yang dapat disebut sebagai AI “mengarang” ibarat.
Bukan karena AI memiliki niat berdusta sebagaimana manusia, melainkan karena sistem tersebut dapat menghasilkan susunan bahasa yang menyerupai teks turats tanpa menjamin bahwa susunan itu benar-benar valid berasal dari kitab yang disebutkan.
Persoalannya menjadi serius saat hasil keluaran AI langsung disalin mentah-mentah ke dalam makalah, konten dakwah, artikel ilmiah, maupun rumusan Bahtsul Masail tanpa terlebih dahulu memeriksa kitab aslinya.
Teks Arab yang Fasih Belum Tentu Ibarat Kitab
AI generatif memang bekerja dengan mengenali pola bahasa dan memperkirakan rangkaian kata yang sesuai dengan pertanyaan pengguna.
Akibat mekanisme tersebut, AI dapat menghasilkan teks Arab yang terdengar menyerupai redaksi kitab fikih, tafsir, hadis, maupun ushul fikih.
Namun, kefasihan bahasa tidak sama dengan kebenaran ilmiah. Sebuah jawaban tidak dapat diterima hanya karena redaksinya terdengar meyakinkan. Imam Asy-Syafi’i menegaskan:
فَلَيْسَ لِأَحَدٍ أَبَدًا أَنْ يَقُولَ فِي شَيْءٍ حَلَّ وَلَا حَرُمَ إِلَّا مِنْ جِهَةِ الْعِلْمِ، وَجِهَةُ الْعِلْمِ الْخَبَرُ فِي الْكِتَابِ أَوِ السُّنَّةِ أَوِ الْإِجْمَاعِ أَوِ الْقِيَاسِ
“Tidak seorang pun diperkenankan mengatakan tentang sesuatu bahwa ini halal atau haram kecuali berdasarkan jalur ilmu. Jalur ilmu itu ialah keterangan dalam Al-Qur’an, sunah, ijmak, atau qiyas.” (Imam al-Baihaqi, Manaqib Asy-Syafi’i [Kairo: Maktabah Dar al-Turath, 1390 H/1970 M.], vol. 1, h. 371)
Pernyataan Imam Asy-Syafi’i di atas menunjukkan bahwa sebuah hukum maupun pendapat harus memiliki jihah al-‘ilm, yakni jalur pengetahuan yang jelas serta dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, teks Arab yang muncul dari AI belum dapat otomatis dapat disebut sebagai ta’bir kitab. Sebuah teks baru layak dinisbatkan sebagai kutipan kitab setelah benar-benar ditemukan dan diverifikasi dalam sumber aslinya.
Dalam hal ini, terdapat perbedaan besar antara dua pernyataan berikut:
“AI mengatakan bahwa teks ini terdapat dalam kitab tertentu.” dan “Saya telah menemukan teks ini dalam kitab tertentu.”
Pernyataan pertama hanya berisi informasi awal yang masih membutuhkan verifikasi.
Sementara, pernyataan kedua mengandung pertanggungjawaban ilmiah bahwa penulis benar-benar telah membuka, menemukan, dan memeriksa teks tersebut dalam kitab yang dimaksud.
Seorang peneliti tidak boleh mengubah pernyataan pertama menjadi pernyataan kedua hanya karena jawaban AI tampak lengkap dan meyakinkan.
Nama kitab, nomor jilid, halaman, maupun susunan bahasa Arab yang fasih tetap tidak dapat menggantikan proses pengecekan terhadap sumber primer.
AI sebagai Alat Bantu, Bukan Sumber Primer
Dengan demikian, AI tidak dapat ditempatkan sebagai sumber primer dalam kajian keislaman. Ia bukan kitab, muhaqqiq, mufti, maupun pengarang.
AI hanya dapat berfungsi sebagai alat bantu untuk menemukan kata kunci, memperkirakan kitab yang relevan, atau menunjukkan bab yang perlu ditelusuri lebih lanjut.
Setelah memperoleh petunjuk dari AI, peneliti tetap harus kembali kepada kitab aslinya. Ia perlu memastikan redaksi teks, nama pengarang, letak pembahasan, konteks sebelum dan sesudah kutipan, serta kedudukan pendapat yang disebutkan.
Langkah tersebut penting dilakukan, terlebih dalam kajian fikih dan Bahtsul Masail.
Baca Juga: Judi Online dalam Kajian Tafsir Al-Qur’an: Dari Janji Kekayaan hingga Dampak Kehancuran
Sebab, kesalahan satu kata, kekeliruan nisbat, atau pemotongan konteks bisa mengubah pemahaman terhadap suatu pendapat, bahkan berpengaruh terhadap kesimpulan hukum yang dihasilkan.
Karenanya, kemudahan teknologi seharusnya tidak menghilangkan tradisi tatsabbut (cek validitas) dan ketelitian ilmiah.
AI memang dapat mempercepat proses pencarian, akan tetapi ia tidak menggantikan tanggung jawab peneliti untuk memeriksa dan memastikan sumber.
Sehingga, sumber ilmiah tetaplah kitab yang harus dibuka dan ditelaah secara langsung.
Karena, dalam tradisi keilmuan pesantren sebuah ta’bir tidak dinilai benar hanya sebab terdengar fasih dan meyakinkan, melainkan lantaran dapat dilacak, dibaca dalam konteksnya, dan dipertanggungjawabkan kepada sumber aslinya.
(ed. Erfin)

Saat ini belum ada komentar