Panelis Mu’tamad Bahas Transformasi Pesantren hingga Isu Kemanusiaan dalam Sembilan Ruang Diskusi Parallel
- account_circle Erfin Surya Kurniawan
- calendar_month 29/10/2026
- visibility 79
- comment 0 komentar
- label Berita
Kediri – Usai pembukaan dan sidang pleno utama, rangkaian Konferensi Internasional Al-Multaqa Ad-Dawli Lid-Dirasah Al-Islamiyah Wal Insaniyah Wal Hadariyah (Mu’tamad) 2026 berlanjut ke sesi diskusi paralel I dan II pada Kamis (29/10/2026) malam.
Forum ini menjadi ruang bagi para akademisi dan peneliti untuk mempresentasikan karya ilmiah sekaligus memperoleh tanggapan dan masukan dari para penelaah dan Discussant.
Baca Juga: Konferensi Internasional Mu’tamad 2026 Resmi Dibuka di Ma’had Aly Lirboyo, Hadirkan 200 Panelis
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Rusunawa, Gedung An-Nawawi, dan kawasan Aula Al-Muktamar, Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, ini menghadirkan ragam pembahasan, mulai dari transformasi pendidikan pesantren, perkembangan teknologi, hingga persoalan kemanusiaan dan peradaban dunia.
Sesi paralel I berlangsung pukul 19.00–20.45 WIB. Setelah jeda istirahat selama 15 menit, kegiatan berlanjut ke sesi paralel II pada pukul 21.00–23.00 WIB. Adapun sesi paralel III dijadwalkan berlangsung pada Jumat (30/10/2026) pagi.
Sembilan Ruang Diskusi dengan Beragam Tema Keilmuan
Guna efisiensi waktu dan kemudahan jalannya presentasi maupun diskusi, panitia membagi peserta ke dalam sejumlah ruang berdasarkan tema penelitian masing-masing.
Di Gedung Rusunawa lantai I, ruang 1 dan 2 membahas tema “Pesantren Transformatif: Kurikulum, Pedagogi, dan Standar Mutu”.
Sementara itu, ruang 3 dan 4 yang berada di lantai II mengangkat tema “Islam Wasathiyah dan Pendidikan Islam Moderat”.
Pembahasan berlanjut di Gedung An-Nawawi lantai II yang menyediakan empat ruang diskusi, yakni ruang 5 hingga 8.
Masing-masing mengangkat tema transformasi digital dan inovasi pesantren, kajian Islam dan kemanusiaan, jaringan keilmuan pesantren di tingkat internasional, serta penyelarasan kurikulum dan akreditasi pendidikan.
Adapun Aula An-Nawawi menjadi lokasi presentasi lainnya yang membahas upaya menjaga warisan dan identitas Islam Indonesia melalui diplomasi budaya di tingkat global.
Sejak sesi dimulai, para peserta tampak memenuhi ruangan sesuai dengan pembagian tema yang telah ditentukan.
Satu per satu pemakalah mendapat kesempatan mempresentasikan hasil penelitian mereka di hadapan para panelis dan peserta aktif.
Setiap pemakalah tidak hanya mendapat kesempatan menyampaikan gagasan, namun juga menerima tanggapan dan masukan dari para Discussant sebagai bagian dari proses diskusi akademik.
Dari Tradisi Keilmuan Pesantren hingga Toleransi Antaragama
Di antararagam karya yang dipresentasikan, salah satu pembahasan datang dari M. Faurok Tsabat, peserta asal Ma’had Aly Besuk.
Melalui papernya, ia mengangkat hubungan antara tradisi syarah-hasyiyah serta pengembangan pemahaman santri di lingkungan pesantren.
Tradisi syarah-hasyiyah berkaitan dengan penjelasan dan ulasan terhadap kitab-kitab yang menjadi bagian dari khazanah keilmuan Islam.
Pembahasan tersebut menempatkan tradisi literatur klasik sebagai salah satu aspek penting dalam pengembangan pemahaman keilmuan santri.
Sementara itu, Mia Fitriah El Karimah, peserta asal Universitas Indraprasta PGRI Jakarta, mengangkat persoalan yang berangkat dari isu di kampung halamannya.
Ia mempresentasikan makalah berjudul “Dari Kampung Sawah Menuju Pesantren Transformatif: Hermeneutika Ḥudud Syahrur, Martabat Kemanusiaan, dan Toleransi Antaragama sebagai Sumbangan Islam Indonesia bagi Peradaban Dunia”.
Melalui karya itu, Mia membawa persoalan sosial dan kehidupan antarumat beragama ke dalam ruang diskusi akademik.
Pembahasannya menjadi salah satu contoh luasnya cakupan penelitian yang diangkat para peserta Mu’tamad 2026.
Kedua makalah tersebut memperlihatkan keragaman pendekatan dan persoalan yang dibahas dalam forum.
Kajian yang dipresentasikan tidak hanya berfokus pada pendidikan dan tradisi keilmuan pesantren, tetapi juga menjangkau isu kemanusiaan, kebudayaan, serta hubungan antarumat beragama.
Baca Juga: Mu’tamad 2026 di Ma’had Aly Lirboyo Himpun 653 Abstrak, Pesantren Transformatif Jadi Subtema Favorit
Selain kedua pemakalah tersebut, sejumlah peserta dari Ma’had Aly dan berbagai lembaga pendidikan di dalam maupun luar negeri turut mempresentasikan hasil penelitian mereka baik secara luring maupun daring.
Setiap karya menghadirkan sudut pandang serta persoalan berbeda guna dikaji serta didiskusikan bersama.
Adanya keragaman pembahasan demikian sekaligus memperlihatkan bagaimana tradisi keilmuan pesantren dapat terus berkembang dan berdialog dengan berbagai persoalan kontemporer, entah dalam lingkup pendidikan Islam maupun isu kemanusiaan dan peradaban dunia. (ed. Zaeini)

Saat ini belum ada komentar