Siapkan Kader Muhaqqiq, Ma’had Aly Lirboyo Gelar Pelatihan Tahqiq Makhtutot Bersama Nahdlotut Turots
- account_circle M. Farid Mujiburrahman
- calendar_month 26/09/2026
- visibility 52
- comment 0 komentar
- label Berita
Kediri – Gedung Yayasan Pondok Pesantren Lirboyo tampak dipadati para peserta. Sejak pagi, mereka berdatangan untuk mengikuti pembukaan Pelatihan Tahqiq Makhtutot bersama Nahdlotut Turots pada Sabtu, (26/9/2026).
Turut hadir Mudir ‘Am Ma’had Aly Lirboyo, KH. Atho’illah Sholahuddin Anwar. Kehadirannya menjadi bentuk dukungan Ma’had Aly Lirboyo terhadap pelaksanaan pelatihan tersebut.
Sejumlah jajaran Mudir Ma’had Aly lainnya juga tampak mengikuti kegiatan, di antaranya K. M. Aminulloh Mahin, M.Pd., Bpk. M. Rifa’i Bachrun, M.Ag., Bpk. Syarif Subhan, M.Ag., Bpk. Fathur Rohman Mudhoffar, M.Ag., serta Bpk. A. Hafy Yasir, M.F.U.
Dari Nahdlotut Turots, hadir Ust. Nanal Ainul Fauz, Ust. Azro Abdul Halim, Lc., MA., Ust. Muhammad, dan Ust. Kholilurrahman.
Pembukaan kegiatan ditandai dengan penyerahan cendera mata dari Ma’had Aly Lirboyo oleh KH. Atho’illah Sholahuddin Anwar dan K. M. Aminulloh Mahin kepada perwakilan Nahdlotut Turots.
Diikuti Sekitar 60 Peserta
Pelatihan ini diikuti sekitar 60 peserta pilihan dari berbagai jenjang dan unsur lembaga. Mereka berasal dari kelas III Aliyah hingga jenjang Marhalah Tsaniyah.
Termasuk diantaranya Anggota Bidang Penelitian dan Penulisan Karya Ilmiah (BP2KI) Ma’had Aly, Pengurus Lajnah Bahtsul Masail Madrasah Hidayatul Mubtadiin (LBM-MHM), serta beberapa pengajar MHM dan Ma’had Aly.
Panitia sengaja membatasi jumlah peserta supaya proses pelatihan dapat berlangsung lebih efektif dan intensif.
Selama dua hari berturut-turut, peserta tidak hanya dibekali pemahaman mengenai tahqiq makhtutot secara teoretis, namun juga diarahkan untuk mempraktikkannya secara langsung.
Pada hari pertama, kegiatan dimulai pukul 07.00–11.00 WIB dengan seminar sesi pertama.
Kegiatan kemudian dilanjutkan pada pukul 13.00–15.00 WIB dengan seminar sesi kedua. Setelah itu, peserta langsung mengikuti praktik tahqiq hingga pukul 17.00 WIB.
Memasuki hari kedua, kegiatan akan kembali dimulai pukul 07.00–11.00 WIB dengan praktik tahqiq.
Sesi berikutnya berlangsung pukul 13.00–17.00 WIB dengan agenda lanjutan praktik tahqiq sekaligus penutupan.
Rangkaian yang cukup padat itu diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih utuh kepada peserta sekaligus pengalaman langsung dalam meneliti dan mengolah manuskrip kuno.
Ikhtiar Menyiapkan Kader Muhaqqiq
Dalam sambutannya, Mudir ‘Am Ma’had Aly Lirboyo, KH. Atho’illah S. Anwar, mengatakan bahwa pelatihan tersebut menjadi salah satu ikhtiar Pondok Pesantren Lirboyo dalam menyiapkan kader-kader muhaqqiq.
Karena itu, beliau berpesan agar seluruh peserta mengikuti rangkaian pelatihan dengan sungguh-sungguh dan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menggali sebanyak mungkin pengetahuan dari para pemateri.
“Harus betul-betul tahqiq. Jangan sungkan untuk bertanya agar paham,” tegas Mudir ‘Am Ma’had Aly Lirboyo tersebut.
Di akhir sambutannya, KH. Atho’illah berharap pelatihan itu mampu melahirkan generasi peneliti dan akademisi yang memiliki kepedulian terhadap khazanah keilmuan Islam.
Khidmah Merawat Manuskrip Ulama Nusantara
Selanjutnya, Gus Nanal Ainul Fauz selaku perwakilan Nahdlotut Turots turut menyampaikan sambutan.
Menurutnya, masih banyak manuskrip peninggalan ulama Nusantara yang perlu ditahqiq dan didigitalisasi.
Ia menyebut, hingga saat ini sekitar 4.000 naskah telah melalui proses tahqiq sekaligus digitalisasi. Di antaranya terdapat dua kitab karya Syekh Mahfudz Termas.
“Di antaranya adalah dua kitab milik Syekh Mahfudz Termas,” tuturnya.
Gus Nanal menjelaskan, proses pentahqiqan semacam ini merupakan salah satu bentuk khidmah kepada para ulama yang karya-karyanya tengah diteliti.
Sebab, mentahqiq sekaligus mendigitalisasi naskah berarti ikut menyebarluaskan dan menjaga khazanah keilmuan Islam yang berpotensi hilang apabila dibiarkan tanpa perawatan.
Di penghujung sambutannya, ia kemudian menceritakan kisah Imam Sya’rani bersama gurunya, Syekh Ali Al-Khawwas.
Kisah itu ia sampaikan untuk menggambarkan bahwa seorang murid juga dapat memiliki peran penting dalam mengenalkan dan menyebarluaskan keilmuan gurunya.
“Tidak semua murid terkenal karena gurunya. Ada sebagian murid yang justru menjadikan gurunya dikenal banyak orang. Imam Sya’rani salah satu contohnya,” tandasnya. (ed. Andi)

Saat ini belum ada komentar