Beranda » Berita » 4 Mahasantri Double Degree Ma’had Aly Lirboyo Presentasikan Riset di ICIED 2026 Malaysia

4 Mahasantri Double Degree Ma’had Aly Lirboyo Presentasikan Riset di ICIED 2026 Malaysia

Kedah, Malaysia — Empat mahasantri Marhalah Tsaniyah Ma’had Aly Lirboyo yang tengah menempuh program double degree bersama Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Malaysia, turut berpartisipasi dalam International Conference on Islamic Education (ICIED) 2026 yang diselenggarakan di Universiti Utara Malaysia (UUM), Kedah, pada Kamis, (27/8/2026).

Keempat mahasantri tersebut ialah Mochammad Dzinnun Al Mishry, M. Yusuf Fadlulloh, Moh. Nurul Azhar, dan Muhammad Bagus Fatichur Ridlo.

Mereka berkontribusi melalui karya ilmiah yang mengangkat beragam persoalan pendidikan Islam, mulai dari pengembangan teks kurikulum pesantren, kesejahteraan guru Pendidikan Islam, tradisi argumentasi dalam Bahtsul Masail, hingga etika intelektual dan integritas akademik dalam khazanah Islam.

Baca Juga: Membanggakan, Mahasantri Double Degree Ma’had Aly Lirboyo Jadi Narasumber Forum Fatwa Malaysia

ICIED 2026 mengusung tema “Transforming Islamic Education for Global Excellence and Sustainable Future”. Konferensi internasional tersebut diselenggarakan oleh Persatuan Intelektual Muslim Malaysia (PIMM) bersama Universiti Utara Malaysia (UUM) dan diikuti akademisi, pendidik, peneliti, serta mahasiswa dari berbagai negara.

Dalam rangkaian konferensi, Mochammad Dzinnun Al Mishry, M. Yusuf Fadlulloh, dan Moh. Nurul Azhar mempresentasikan penelitian masing-masing dalam sesi akademik ICIED 2026.

Sementara itu, karya ilmiah Muhammad Bagus Fatichur Ridlo turut menjadi bagian dari kontribusi akademik mahasantri Ma’had Aly Lirboyo dalam forum tersebut.

Angkat Tradisi Pesantren ke Forum Akademik Internasional

Mochammad Dzinnun Al Mishry mempresentasikan penelitian berjudul “Translation and Tashih in Establishing the Scholarly Suitability of Pesantren Curricular Texts: A Case Study of Fiqh al-Muwatanah at Ma’had Aly Lirboyo.”

Penelitian ini mengkaji proses penerjemahan, tashih, deliberasi keilmuan, dan otoritas akademik dalam menetapkan kelayakan Fiqh al-Muwatanah sebagai salah satu teks kurikuler di Ma’had Aly Lirboyo.

Analisis itu menunjukkan bahwa kelayakan ilmiah sebuah teks pesantren tidak lahir dari proses individual, melainkan melalui mekanisme kolektif yang tetap bertumpu pada hierarki kompetensi, kekuatan argumentasi, pengakuan keilmuan, dan mandat kelembagaan.

Di sisi lain, M. Yusuf Fadlulloh mempresentasikan penelitian bertajuk “Understanding the Well-Being of Islamic Education Teachers Through the Job Demands-Resources Model.”

Penelitian tersebut mengambil guru Pendidikan Islam alumni Pondok Pesantren Lirboyo sebagai objek kajian. Melalui kerangka Job Demands-Resources Model, penelitian itu menganalisis berbagai faktor yang memengaruhi kesejahteraan guru.

Temuannya menegaskan pentingnya pengelolaan tuntutan kerja serta dukungan sumber daya institusional dalam menunjang efikasi diri, kompetensi pedagogis, dan kesejahteraan para pendidik.

Moh. Nurul Azhar menulis penelitian berbahasa Arab berjudul: “Al-Itiradh fi Taqlid Bahts al-Masail: Iadah Bina Mafhumiyyah li Mumarasah Hijajiyyah Muqayyadah bi an-Nash wa Qimatiha at-Talimiyyah.”

Kajian tersebut merekonstruksi i’tirad dalam tradisi Bahtsul Masail sebagai praktik argumentatif yang terikat pada teks sekaligus memiliki nilai pedagogis.

Tinjauan itu menunjukkan bahwa i’tirad melalui bentuk al-man’u, al-naqd, dan al-mu’aradah dapat dibaca sebagai mekanisme pengujian argumentasi sekaligus bentuk keterlibatan intelektual tingkat tinggi dalam tradisi pembelajaran pesantren.

Adapun Muhammad Bagus Fatichur Ridlo turut berkontribusi melalui penelitian berjudul: “Al-Akhlaq al-Fikriyyah wa al-Amanah al-Ilmiyyah fi at-Turats al-Islami: Risalah al-Fariq baina al-Musannif wa as-Sariq li as-Suyuthi bi Wasfiha Naqdan li as-Sariqah al-Ilmiyyah al-Akadimiyyah.”

Penelitian tersebut mengkaji etika intelektual dan integritas akademik melalui risalah Imam as-Suyuthi, al-Fariq bayna al-Musannif wa al-Sariq.

Kajian itu menawarkan perspektif bahwa plagiarisme tidak hanya berkaitan dengan persoalan administratif atau kepemilikan intelektual saja, namun juga menyangkut amanah, karakter ilmiah, dan tanggung jawab moral seorang penuntut ilmu.

Dihadiri Pakar Keilmuan dari Berbagai Perguruan Tinggi

Selain sesi presentasi makalah, ICIED 2026 menghadirkan sejumlah keynote speaker dari berbagai perguruan tinggi.

Di antaranya Prof. Dr. Zaharrah Binti Hussin dari Universiti Malaya, Associate Prof. Dr. Niloh Wae-U-Seng dari Prince of Songkla University, Thailand, serta Prof. Dr. Saparudin dari Universiti Islam Mataram, Indonesia.

Kehadiran akademisi dari sejumlah negara menjadikan konferensi tersebut sebagai ruang pertemuan berbagai gagasan mengenai pengembangan pendidikan Islam, baik yang berangkat dari tradisi keilmuan lokal maupun pendekatan akademik kontemporer.

Peserta ICIED 2026 di Malaysia

ICIED 2026 Ditutup di Universiti Utara Malaysia

Rangkaian ICIED 2026 kemudian ditutup secara resmi di Dewan Tan Sri Othman, Universiti Utara Malaysia.

Seremoni penutupan diawali dengan penyampaian Closing Remarks oleh Associate Prof. Dr. Mardzelah Makhsin selaku Ketua Panitia ICIED 2026. Setelah itu, Prof. Dr. Azmil Bin Hashim selaku Presiden Persatuan Intelektual Muslim Malaysia (PIMM) secara resmi menutup rangkaian konferensi.

Kegiatan ini juga ditandai dengan peluncuran E-Prosiding ICIED 2026 serta penyerahan penghargaan kepada sejumlah presenter terbaik.

Baca Juga: Kiprah Global Mahasantri Ma’had Aly di Forum Pemimpin Muda Dunia iFUTURE Summit 2025

Keterlibatan empat mahasantri dalam ICIED 2026 sekaligus menjadi bagian dari proses pengembangan akademik melalui program double degree Ma’had Aly Lirboyo dan UPSI.

Pengalaman itu memperlihatkan bahwa tradisi turats, Bahtsul Masail, adab keilmuan, serta pendidikan pesantren tidak hanya dapat dipertahankan sebagai warisan, tetapi juga dikaji, dirumuskan, dan dikomunikasikan melalui forum ilmiah internasional.

Partisipasi ini diharapkan dapat mendorong lebih banyak mahasantri untuk mengembangkan penelitian yang berakar pada kekayaan tradisi pesantren sekaligus terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan kontemporer.

Dengan demikian, khazanah keilmuan pesantren Indonesia dapat semakin aktif mengambil bagian dalam kontestasi akademik global. (ed. Zaeini)

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less