KH. Atho’illah Sholahuddin Anwar: HIMASAL Malaysia Harus Menjaga Tradisi Ta’lim wa Ta’allum
- account_circle Muhammad Bagus Fatichur Ridlo
- calendar_month 4/08/2026
- visibility 43
- comment 0 komentar
- label Berita
Nilai, Negeri Sembilan — Mudir ‘Am Ma’had Aly Lirboyo, KH. Atho’illah Sholahuddin Anwar, menggelar pertemuan bersama anggota Himpunan Alumni Santri Lirboyo (HIMASAL) Malaysia pada Senin malam, (3/8/2026).
Bertempat di kediaman Ustaz Mohd Noor di Kampung Jijan, Nilai, pertemuan tersebut menjadi ajang silaturahmi sekaligus ruang pembinaan rohani bagi para alumni Lirboyo yang kini berkiprah di Malaysia.
Dalam agenda tersebut, KH. Atho’illah didampingi oleh Mudir Dua Ma’had Aly Lirboyo, K. M. Aminulloh Mahin, M.Pd., dan Mudir Tiga, K. Arif Ridlwan Akbar.
Para alumni dari berbagai penjuru Malaysia turut menghadiri pertemuan tersebut, mulai dari Kedah di kawasan utara, Selangor di wilayah tengah, hingga perwakilan dari Sarawak.
Kehadiran mereka dari berbagai wilayah menunjukkan kuatnya ikatan para santri dengan almamater dan para masyayikh Lirboyo.
Rawat Silaturahmi dan Pegang Manhaj Masyayikh
Dalam suasana kekeluargaan, Pengasuh Pondok Pesantren HM Antara Lirboyo tersebut menyampaikan mauizah hasanah yang memuat sejumlah pesan penting bagi anggota HIMASAL Malaysia.
“Para alumni Lirboyo di Malaysia hendaknya terus merawat tali silaturahmi secara rutin, setidaknya satu atau dua kali dalam setahun.
Pertemuan tersebut dapat dilaksanakan pada momentum tertentu, seperti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW atau bulan Syawal,” pesannya dalam forum tersebut.
Menurutnya, pertemuan rutin penting untuk mempererat ukhuwah sekaligus menjadi sarana saling memantau perkembangan dan kiprah para alumni di berbagai daerah.
“Dalam menjalankan pengabdian di tengah masyarakat, para alumni harus tetap berpegang teguh pada manhaj para masyayikh Lirboyo.
Nilai-nilai yang diperoleh selama menuntut ilmu di pesantren hendaknya terus dijadikan pijakan dalam berdakwah, mengajar, dan menjalani kehidupan sosial,” tuturnya.
Terkait bentuk pengabdian, ia juga mengarahkan agar alumni yang belum memiliki wadhifah atau tugas mengajar setelah menyelesaikan masa belajarnya dapat dikoordinasikan untuk membantu pondok-pondok pesantren rintisan alumni di berbagai daerah.
“Langkah ini tidak hanya membuka ruang pengabdian bagi para alumni, tetapi juga dapat memperkuat jaringan lembaga pendidikan yang dirintis oleh santri-santri Lirboyo,” ungkapnya.
Perhatian Masyayikh terhadap Kiprah Alumni
KH. Atho’illah turut menegaskan besarnya perhatian para guru terhadap kiprah santrinya setelah kembali ke masyarakat.
Para masyayikh, menurutnya, merasa bahagia ketika mendengar para alumni mengajar atau merintis lembaga pendidikan agama di daerah masing-masing.
“Para masyayikh sangat senang jika mendengar santri kemudian merintis lembaga pendidikan agama di rumah.
Almaghfurlah KH. Mahrus Ali, ketika bepergian dan mendengar bahwa di daerah tersebut terdapat lembaga pendidikan milik alumni, beliau akan mengunjunginya,” katanya.
Beliau juga mencontohkan perhatian Almaghfurlah KH. Marzuki Dahlan kepada para alumni setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren.
“Begitu juga KH. Marzuki Dahlan yang aktif menanyakan keadaan para alumni setelah lulus dari pondok. Jika mendengar bahwa alumni tersebut mengajar atau mendirikan lembaga pendidikan, beliau akan sangat bahagia,” lanjutnya.
Kisah di atas menunjukkan bahwa keberhasilan seorang santri tidak hanya diukur dari keluasan ilmu semata, lebih daripada itu juga dari sejauh mana ilmu itu diamalkan dan disebarkan kepada masyarakat.
Ta’lim wa Ta’allum sebagai Jalan Utama Santri
Memasuki inti nasihatnya, Mudir ‘Am Ma’had Aly Lirboyo itu menegaskan bahwa tarekat terbaik bagi seorang santri ialah ta‘lim wa ta‘allum, yakni mengajar dan belajar.
Menurutnya, jalan tersebut menjadi prinsip utama yang diajarkan dan dipegang teguh oleh para masyayikh Lirboyo. Hal itu sebagaimana ungkapan:
أَفْضَلُ الطُّرُقِ إِلَى اللهِ التَّعْلِيْمُ وَالتَّعَلُّمُ
“Sebaik-baik jalan menuju Allah adalah mengajar dan belajar.”
Prinsip ini menjadi fondasi utama bagi kehidupan santri, terlepas dari berbagai amalan tarekat lain yang mungkin dijalankan para masyayikh secara pribadi.
Dengan terus belajar dan mengajarkan ilmu, santri dapat menjaga keberlangsungan tradisi keilmuan sekaligus memberikan manfaat nyata kepada umat.
Hindari Politik Praktis dan Patuhi Regulasi
KH. Atho’illah juga memberikan arahan mengenai kehidupan bermasyarakat di Malaysia. Beliau mengingatkan agar nama dan atribut organisasi HIMASAL tidak digunakan untuk kepentingan politik praktis.
Menurutnya, HIMASAL harus tetap menjadi wadah silaturahmi, pengabdian, dan pengembangan dakwah para alumni tanpa terseret ke dalam kepentingan politik tertentu.
Pengasuh Pondok Pesantren HM Antara Lirboyo itu juga mengingatkan para alumni agar mematuhi birokrasi dan hukum yang berlaku di Malaysia.
Hal ini dirasa penting mengingat negara tersebut Malaysia regulasi yang ketat terkait aktivitas keagamaan dan penyelenggaraan pengajian.
Para alumni yang hendak mengajar agama atau menyelenggarakan majelis ilmu perlu mengurus tauliah atau izin resmi mengajar.
Kepatuhan terhadap ketentuan demikian diperlukan guna menjaga ketertiban sekaligus menghindari persoalan hukum pada kemudian hari.
Rangkaian pertemuan kemudian ditutup dengan doa bersama. Para peserta memanjatkan permohonan bagi kesejahteraan, persatuan, dan kelancaran dakwah seluruh alumni.
Melalui pertemuan tersebut, hubungan antara Pondok Pesantren Lirboyo dan HIMASAL Malaysia diharapkan terus terpelihara dengan baik.
Silaturahmi ini sekaligus menjadi penguat bagi para alumni agar tetap berpegang pada manhaj masyayikh, menjaga tradisi ta’lim wa ta’allum, serta berkiprah secara bijaksana di tengah masyarakat.
(ed. Zaeini)

Saat ini belum ada komentar