Perluas Jejaring Internasional, Ma’had Aly Lirboyo Jajaki Kerja Sama Akademik dengan IIUM
- account_circle Muhammad Bagus Fatichur Ridlo
- calendar_month 7/08/2026
- visibility 101
- comment 0 komentar
- label Berita
Gombak, Selangor, Malaysia — Departemen Ushuluddin, Perbandingan Agama, dan Filsafat (RKUD) International Islamic University Malaysia (IIUM) menerima kunjungan resmi delegasi Ma’had Aly Lirboyo, Kediri, pada Rabu (5/7/2026), pukul 11.00 waktu setempat.
Kunjungan ini menjadi salah satu agenda dalam rangkaian lawatan Dewan Mudir Ma’had Aly Lirboyo di Malaysia.
Delegasi dipimpin langsung oleh Mudir ‘Am Ma’had Aly Lirboyo, KH. Atho’illah Sholahuddin Anwar, didampingi Mudir Dua K. M. Aminulloh Mahin, M.Pd., Mudir Tiga K. Arif Ridlwan Akbar, Mudir Empat Bpk. M. Rifa’i Bachrun, M.Ag., dan Mudir Enam Bpk. Syarif Subhan Arbani, M.Ag.
Turut menyertai rombongan sejumlah mahasantri program Double Degree Ma’had Aly Lirboyo yang saat ini tengah menempuh studi di Malaysia.
Kunjungan tersebut dikoordinasikan oleh Associate Professor Dato’ Dr. Ayman al-Akiti, Mufti Perak yang memiliki hubungan dekat dengan Lirboyo.
Atas nama RKUD, rombongan disambut oleh Ketua Departemen Dr. Majdan Alias, bersama Associate Professor Dr. Fatmir Shehu, Associate Professor Dr. Haslina Ibrahim, dan Assistant Professor Dr. Zainul Abidin.
Paparkan Tradisi Keilmuan Lirboyo
Dalam pertemuan tersebut, KH. Atho’illah Sholahuddin Anwar memaparkan perjalanan dan perkembangan Pondok Pesantren Lirboyo sejak awal berdiri hingga berkembang menjadi salah satu pusat kajian keislaman berbasis turats.
“Pada awalnya Pondok Lirboyo itu terkenal dengan pondok ilmu alat, sesuai dengan keahlian muassisnya, Almaghfurlah KH. Abdul Karim, yang merupakan murid dari Syaikhona Kholil Bangkalan,” tuturnya.
Seiring perkembangannya, menurut KH. Atho’illah, Pondok Pesantren Lirboyo mulai memperluas kajian ke berbagai disiplin ilmu keislaman, terutama fikih yang kini menjadi salah satu karakter utama keilmuan pesantren tersebut.
“Kemudian Pondok Pesantren Lirboyo semakin mengembangkan diri dalam berbagai cabang keilmuan lain, utamanya sekarang adalah ilmu fikih,” lanjutnya.
Mudir ‘Am Ma’had Aly Lirboyo itu menjelaskan bahwa pendalaman literatur turats di Pondok Lirboyo tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas. Tradisi tersebut juga hidup melalui berbagai kegiatan keilmuan di luar kelas.
“Ekosistem pendalaman turats di Lirboyo ini tidak hanya dilakukan di dalam kelas, namun juga di luar kelas lewat sorogan dan bandongan.
Di samping itu, juga ada forum musyawarah yaumiyyah hingga forum musyawarah kubro, musyawarah gabungan, Fathul Qarib, dan Al-Mahally,” paparnya.
Menurutnya, tradisi demikian semakin matang melalui forum Bahtsul Masail.
Santri tidak hanya belajar menemukan jawaban atas persoalan keagamaan berdasarkan teks, tetapi juga dilatih memahami metode dan kerangka berpikir yang mendasari sebuah ketentuan hukum.
“Pendalaman semacam ini semakin didalami dalam forum Bahtsul Masail, di mana penyelesaian masalah keagamaan tidak hanya dilakukan secara tekstual, namun juga secara metodologis dengan peran ilmu ushul fikih,” ujarnya.
Pengasuh Pondok Pesantren HM Antara Lirboyo tersebut juga menjelaskan bahwa tradisi pendidikan pesantren salaf itu kemudian berkembang secara kelembagaan.
Kini, Ma’had Aly Lirboyo menyelenggarakan jenjang Marhalah Ula (S1) dan Marhalah Tsaniyah (S2) serta sedang proses pengajuan Marhalah Tsalisah (S3).
Buka Peluang Riset dan Studi Lanjut
Ketua Departemen RKUD, Dr. Majdan Alias, menyampaikan apresiasi atas kunjungan delegasi Ma’had Aly Lirboyo. Ia turut mengapresiasi kemampuan para ulama dan santri Lirboyo dalam menguasai literatur turats.
Dalam kesempatan ini, Dr. Majdan juga membuka peluang bagi lulusan Ma’had Aly Lirboyo untuk melanjutkan pendidikan doktoral di departemennya.
Pertemuan kemudian berkembang menjadi pembahasan mengenai sejumlah peluang kerja sama akademik.
Kedua lembaga mendiskusikan kemungkinan penyelenggaraan lokakarya riset manuskrip dalam bidang kodikologi dan filologi, lokakarya perbandingan agama, serta kelas metodologi penelitian secara daring.
Rencana itu mempertemukan kekhasan masing-masing lembaga.
Ma’had Aly Lirboyo memiliki tradisi dan kekayaan sumber-sumber klasik pesantren, sementara RKUD IIUM memiliki pengalaman dalam pengembangan metodologi akademik kontemporer.
Delegasi Ma’had Aly Lirboyo menyambut baik berbagai peluang tersebut.
Mudir Dua Ma’had Aly Lirboyo, K. M. Aminulloh Mahin, menilai kerja sama dengan IIUM dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat kemampuan akademik dan kepenulisan.
“Terima kasih kami sampaikan atas berbagai tawaran kerja sama yang diberikan. Kami berharap bisa belajar tentang kepenulisan dengan IIUM,” tandasnya.
Senada dengan hal tersebut, Mudir Tiga Ma’had Aly Lirboyo, K. Arif Ridlwan Akbar, menyoroti tantangan pesantren dalam menyampaikan khazanah pemikiran ulama kepada masyarakat masa kini.
“Tantangan terbesar bagi kami adalah menyajikan pemikiran-pemikiran ulama dalam konteks dan bahasa kekinian. Maka peluang kerja sama ini merupakan kesempatan yang sangat baik bagi kami,” katanya.

Mudir dan Mahasantri Double Degree Berfoto Bersama di IIUM
Fiqh Muwathanah dan Kontekstualisasi Turats
Dalam forum tersebut, delegasi Ma’had Aly Lirboyo turut memperkenalkan Fiqh Muwathanah atau fikih kebangsaan sebagai salah satu mata kuliah yang dikembangkan di Ma’had Aly Lirboyo.
Kajian tersebut menekankan pentingnya kehidupan berdampingan secara damai atau ta‘ayusy as-silmi di tengah keragaman etnis, agama, dan mazhab dalam konteks kehidupan masyarakat Indonesia.
Pembahasan kemudian menemukan titik temu dengan konsep Tanzil yang dipaparkan Assistant Professor Dr. Zainul Abidin.
Konsep tersebut menekankan upaya kontekstualisasi khazanah turats agar dapat berdialog dengan realitas kehidupan masa kini.
Delegasi Ma’had Aly Lirboyo menaruh perhatian terhadap gagasan itu sebab memiliki korelasi dengan tantangan yang selama ini dihadapi pesantren.
Yakni, bagaimana khazanah keilmuan klasik tetap memiliki pijakan kuat sekaligus mampu menjawab persoalan kontemporer.
Momen tersebut sekaligus membuka kemungkinan kolaborasi antara tradisi turats Ma’had Aly Lirboyo dengan pendekatan akademik kontemporer yang dikembangkan RKUD IIUM.
Pertemuan ditutup dengan harapan terjalinnya kerja sama yang produktif dan hubungan akademik jangka panjang antara kedua lembaga.
Kunjungan ke IIUM ini melengkapi rangkaian lawatan Dewan Mudir Ma’had Aly Lirboyo di Malaysia setelah sehari sebelumnya mengunjungi Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI).
Melalui lawatan tersebut, Ma’had Aly Lirboyo terus memperluas jejaring akademik internasional sekaligus membuka peluang kolaborasi dalam bidang penelitian, pengembangan metodologi keilmuan, dan studi lanjut bagi para mahasantri.
(ed. Zaeini)

Saat ini belum ada komentar