Kiai M. Aminulloh Mahin: Kemajuan Akademik Jangan Sampai Menghilangkan Karakter Santri
- account_circle Muhamad Andi Suryono
- calendar_month 7/07/2026
- visibility 48
- comment 0 komentar
- label Artikel
Dalam Kuliah Umum yang berlangsung di Aula Al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo, Mudir II Ma’had Aly Lirboyo, Kiai M. Aminulloh Mahin, M.Pd., menyampaikan sambutan sekaligus pengantar sebelum penyampaian materi oleh narasumber.
Mengawali sambutannya, beliau menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT atas terselenggaranya Kuliah Umum Ma’had Aly Lirboyo. Beliau juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh tamu undangan, para masyayikh, dosen, serta mahasantri yang hadir.
Secara khusus, ia menyampaikan apresiasi dan rasa hormat kepada Dr. KH. Muhammad Faiz Syukron Makmun, Lc., M.A. yang telah berkenan memenuhi undangan sebagai narasumber kuliah umum.
Beliau mengungkapkan bahwa kehadiran narasumber merupakan suatu kehormatan bagi Ma’had Aly Lirboyo. Di tengah padatnya jadwal serta aktivitas yang dijalani, Kiai Faiz tetap menyempatkan diri hadir di Lirboyo sebelum kembali melanjutkan agenda berikutnya di Jakarta.
“Setelah acara ini beliau langsung bertolak ke Jakarta untuk memenuhi agenda lainnya. Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas kesediaan beliau hadir di tengah-tengah kita,” ungkapnya.
Silaturahmi Keilmuan yang Terjalin Antar Generasi
Lebih lanjut, Kiai Aminulloh Mahin menjelaskan bahwa hubungan Kiai Faiz dengan Pondok Pesantren Lirboyo bukanlah hubungan yang baru terjalin.
Menurutnya, kedekatan tersebut telah berlangsung sejak generasi ayahanda beliau, almaghfurlah KH. Syukron Makmun, yang dahulu kerap mengisi berbagai forum ilmiah di lingkungan Pondok Pesantren Lirboyo.
Ikatan ini, katanya, menjadi bagian dari silaturahmi dan tradisi keilmuan antarpesantren yang terus terpelihara hingga sekarang.
“Alhamdulillah, sekarang putranya juga dapat hadir dan menjadi pembicara di Lirboyo,” ujarnya saat menyampaikan pengantar kuliah umum di Aula Al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur pada Selasa (7/7/2026).
Perkembangan Ma’had Aly dan Komitmen Mencetak Kader Ulama
Suasana sambutan pun semakin hangat ketika beliau menyebut bahwa Ma’had Aly Lirboyo merupakan perguruan tinggi yang memiliki spesialisasi dalam bidang fikih wa ushuluhu.
“Jadi, seluruh hadirin di sini merupakan ahli ushul fikih,” katanya, disambut tawa dan tepuk tangan para peserta.
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Aminulloh Mahin juga memaparkan perkembangan kelembagaan Ma’had Aly Lirboyo.
Saat ini, jelasnya, Ma’had Aly telah menyelenggarakan dua jenjang pendidikan, yakni Marhalah Ula (M1) dan Marhalah Tsaniyah (M2), serta tengah mengajukan pembukaan Marhalah Tsalitsah (M3) yang setara dengan jenjang doktoral.
Beliau menjelaskan bahwa jumlah mahasantri Marhalah Ula saat ini mencapai 6.013 orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 4.000 mahasantri mengikuti perkuliahan secara aktif di Lirboyo.
Sedangkan, sisanya tengah menjalankan masa khidmah (pengabdian) di berbagai daerah di Indonesia. Adapun jumlah mahasantri Marhalah Tsaniyah saat ini telah mencapai lebih dari 300 orang.
Menurut Kiai Aminulloh Mahin, perkembangan tersebut menunjukkan komitmen Ma’had Aly Lirboyo dalam memperkuat pendidikan tinggi pesantren sekaligus memperluas kontribusinya bagi masyarakat.
Ia menegaskan bahwa sejak awal berdiri, Ma’had Aly Lirboyo mengemban misi menyiapkan kader ulama yang mampu menyebarkan ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin.
Oleh sebab itu, proses pendidikan tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu fikih dan ushul fikih semata, tetapi juga membentuk mahasantri agar siap menjadi sosok dai dan muallim yang mengabdikan ilmunya kepada umat.
Menguatkan Tradisi Keilmuan dan Budaya Menulis
Menjawab tantangan perkembangan zaman, Mudir Dua Ma’had Aly Lirboyo itu mengungkapkan bahwa Ma’had Aly Lirboyo juga terus mengembangkan budaya kepenulisan di kalangan mahasantri.
Menurutnya, tradisi menulis menjadi salah satu sarana penting untuk memperluas kontribusi pesantren melalui karya-karya ilmiah yang berkualitas.
Beliau menambahkan bahwa seluruh pengembangan keilmuan di Ma’had Aly tetap berpijak pada kitab kuning sebagai rujukan utama dengan konsentrasi kajian Fikih Kebangsaan.
Pendekatan ini diharapkan mampu melahirkan pemikiran keislaman yang tetap berakar pada khazanah turats sekaligus relevan dalam menjawab berbagai persoalan kebangsaan dan kemasyarakatan.
Pendidikan Karakter sebagai Pilar Utama Mahasantri
Sejalan dengan tema besar kuliah umum, Asesor Majelis Masyayikh Kementerian Agama RI itu menegaskan bahwa pendidikan karakter harus menjadi perhatian utama dalam proses pembinaan mahasantri.
Menurut pandangan beliau, teladan para masyayikh Lirboyo merupakan sumber inspirasi yang tidak pernah habis untuk diteladani.
Beliau secara khusus menyebut sosok almaghfurlah KH. Abdul Karim, KH. Marzuki Dahlan, dan KH. Mahrus Aly sebagai figur yang dikenal memiliki ketawadhuan luar biasa.
Di samping itu, ia juga mengajak para mahasantri meneladani Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, yakni KH. M. Anwar Manshur dan KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus, yang memadukan keluasan ilmu dengan keluhuran akhlak.
Menurut beliau, akhlak merupakan modal utama seorang mahasantri ketika nantinya terjun mengabdi di tengah masyarakat. Tanpa akhlak yang baik, ilmu yang dimiliki akan sulit diterima dan memberi manfaat.
“Jangan sampai akhlak hilang di kalangan mahasantri maupun santri,” pesannya.
Akhlak sebagai Landasan Kemanfaatan Ilmu
Pengasuh Pondok Pesantren Unit Darussalam Lirboyo tersebut menambahkan bahwa masyarakat akan lebih dahulu menilai akhlak seorang dai, guru, maupun lulusan pesantren sebelum melihat keluasan ilmunya.
Karena itu, pembinaan karakter harus terus dijaga dan diwariskan sebagaimana dicontohkan oleh para masyayikh Lirboyo.
Untuk menguatkan pesannya, beliau mengutip sabda Rasulullah SAW:
أَفْضَلُ النَّاسِ الْمُؤْمِنُ الْعَالِمُ، الَّذِي إِنِ احْتِيجَ إِلَيْهِ نَفَعَ، وَإِنِ اسْتُغْنِيَ عَنْهُ أَغْنَى نَفْسَهُ
Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah seorang mukmin yang berilmu. Apabila ia dibutuhkan, ia memberikan manfaat. Dan apabila tidak dibutuhkan, ia mampu mencukupi dirinya sendiri.” (HR. Al-Baihaqi)
“Hadis di atas, mengajarkan bahwa sebelum mampu memberikan manfaat kepada masyarakat, seorang penuntut ilmu harus terlebih dahulu membangun kualitas dirinya melalui pembinaan akhlak dan karakter.” jelasnya.
Harapan Melahirkan Kader Ulama Berilmu dan Berakhlak
Menutup sambutannya, Kiai Aminulloh Mahin berharap Ma’had Aly Lirboyo terus melahirkan generasi penerus ulama yang tidak hanya unggul dalam keluasan ilmu, tetapi juga dihiasi akhlak mulia sehingga mampu menjadi teladan serta menghadirkan kemanfaatan bagi umat.
“Semoga melalui pendidikan di Ma’had Aly Lirboyo lahir generasi ulama yang kuat keilmuannya, kokoh akhlaknya, dan mampu meneruskan perjuangan para masyayikh dalam membimbing masyarakat,” pungkasnya. (ed. Zaeini)

Saat ini belum ada komentar