Beranda » Berita » Ma’had Aly Lirboyo dan NU Online Institute Gelar Bahtsul Masail, Bahas Emas Digital dan Kesehatan Haji

Ma’had Aly Lirboyo dan NU Online Institute Gelar Bahtsul Masail, Bahas Emas Digital dan Kesehatan Haji

Kediri — Ada pemandangan yang berbeda di Auditorium An-Nawawy Pondok Pesantren Lirboyo pada Ahad (28/06/2026). Jika selama ini forum Bahtsul Masail identik dengan pertemuan antarpesantren, kali ini suasananya terasa lebih akademis.

Ma’had Aly Lirboyo sukses menjadi tuan rumah Bahtsul Masail yang mempertemukan para mahasantri Ma’had Aly dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Forum bergengsi ini terselenggara melalui kolaborasi antara Ma’had Aly Lirboyo dan NU Online Institute, salah satu badan otonom NU Online yang bergerak di bidang pendidikan dan pelatihan.

Kolaborasi tersebut menghadirkan ruang diskusi ilmiah yang mempertemukan tradisi bahtsul masail pesantren dengan dinamika persoalan kontemporer yang terus berkembang.

Acara ini turut dihadiri para mushahih dan perumus senior, di antaranya KH. Zahro Wardi, K. Fauzi Hamzah Syams, K. Hamim Noer, serta K. Mubasysyarum Bih, S.H.

Hadir pula jajaran Dewan Mudir Ma’had Aly Lirboyo, seperti K. Arif Ridlwan Akbar, Bpk. M. Rifa’i Bachrun, M.Ag. dan Bpk. Fathurrohman Mudhoffar, M.Ag.

Dari unsur Lajnah Bahtsul Masail Ma’had Aly Lirboyo tampak hadir Agus H. A. Fayumi, M.Ag. dan Bpk. Masruhan Rizqi Makki, M.Ag.

Sementara itu, NU Online Institute diwakili langsung oleh Direkturnya, Bpk. A. Mundzir, M.Ag., beserta jajaran yang turut mengawal jalannya kegiatan.

Menyoroti Emas Digital dan Kesehatan Haji

Forum kali ini diikuti oleh sebelas delegasi Ma’had Aly dari berbagai daerah di Jawa Timur serta satu delegasi khusus dari Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Tema yang diangkat pun sangat dekat dengan realitas masyarakat modern, yakni: “Jual Beli Emas Digital dan Perlindungan Kesehatan Jamaah Haji.”

Dua isu tersebut menuntut para mahasantri untuk kembali membuka lembaran-lembaran kitab turats sekaligus menghubungkannya dengan perkembangan zaman.

Mereka ditantang menelaah berbagai pendapat ulama klasik, mengkajinya secara mendalam, lalu merumuskan jawaban hukum yang relevan dengan konteks kehidupan masa kini.

Di sinilah letak keistimewaan forum ini. Tradisi pesantren yang berakar pada kitab kuning bertemu langsung dengan problematika digital dan isu kesehatan modern.

Mauidzah Masyayikh: Menjaga Tradisi Bahtsul Masail

Di tengah suasana pembukaan yang berlangsung hangat, kehadiran Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, menghadirkan nuansa yang lebih khidmat.

Dalam mauidzatul hasanah yang beliau sampaikan, Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu menegaskan pentingnya menjaga tradisi bahtsul masail sebagai identitas pesantren.

“Ciri khas pesantren itu adalah Bahtsul Masail. Saya kira hanya di Indonesia yang mengadakan forum diskusi seperti ini,” tutur beliau.

Pernyataan tersebut disambut penuh perhatian oleh para peserta yang berasal dari berbagai daerah. Bagi mereka, forum ini bukan sekadar ajang intelektual, melainkan ruang untuk melestarikan tradisi istinbath hukum yang telah lama hidup di lingkungan pesantren.

Forum yang Dinamis dan Penuh Argumentasi

Memasuki sesi pembahasan, suasana auditorium berubah menjadi sangat dinamis. Moderator, Bpk. Fathurrohman Mudhoffar, memandu jalannya diskusi secara lugas dan terarah sehingga forum langsung bergerak menuju inti persoalan.

Argumen demi argumen bermunculan. Para peserta saling menyampaikan dalil, mengkritisi pendapat, serta mempertahankan analisis masing-masing. Ketegangan sesekali tampak mewarnai jalannya forum.

Namun, bagi tradisi bahtsul masail pesantren situasi seperti itu merupakan hal yang lumrah. Perdebatan ilmiah justru menjadi bumbu yang menghidupkan forum.

Menariknya, ketika sesi diskusi berakhir seluruh peserta kembali bercengkerama dengan penuh keakraban. Ketegangan yang muncul selama forum tidak meninggalkan sekat di antara mereka.

Delegasi Sarang Jadi Sorotan

Di antara para peserta, dua mahasantri Semester IV asal Ma’had Aly Iqna’ Ath-Thalibin Sarang, yakni Jauhari asal Kalimantan Barat dan A. Abdurrouf asal Tuban, menjadi perhatian tersendiri.

Keduanya merupakan satu-satunya delegasi dari luar Jawa Timur dan tampil cukup aktif dalam forum. Kelantangan argumentasi mereka membuat suasana diskusi semakin hidup.

Usai acara, Jauhari mengaku terkesan dengan atmosfer bahtsul masail di Ma’had Aly Lirboyo.

“Bahtsul Masail di Lirboyo ini terkenal dramatis. Pembahasannya sangat mendalam, ilmiah dan harus tuntas (tahqiq). Awalnya kami agak gugup. Kami kira ini forum biasa, ternyata yang datang pemain inti semua,” ujarnya sambil terkekeh.

Hal serupa juga disampaikan oleh Abdurrouf.

“Ini pertama kali saya ikut di Lirboyo, yang memang sarangnya ahli musyawarah. Agak grogi juga, karena lawan debat di sini punya tatapan mematikan,” ujarnya sambil bercanda.

Tetap Rendah Hati dalam Menuntut Ilmu

Di akhir perbincangan, Abdurrouf menyampaikan pesan yang ia peroleh dari gurunya, KH. M. Najih Maimoen. Menurutnya, status sebagai mahasantri tidak boleh membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada santri lainnya.

“Kalau kata guru kami, KH. M. Najih Maimoen, tidak ada bedanya antara santri dengan mahasantri. Semuanya sama-sama harus belajar. Jadi, jangan merasa hebat hanya karena status kita sudah menjadi mahasantri.”

Pesan tersebut seakan menjadi penutup yang menyejukkan dari forum yang penuh dinamika tersebut. Di tengah perdebatan ilmiah yang berlangsung sengit, kerendahan hati tetap menjadi ruh utama dalam tradisi keilmuan pesantren.

Melihat tingginya antusiasme peserta serta dampak positif yang ditimbulkan terhadap peningkatan kualitas akademik mahasantri, forum Bahtsul Masail Ma’had Aly ini direncanakan menjadi agenda tahunan dengan sistem tuan rumah bergilir.

Dari Lirboyo, tradisi bahtsul masail kembali membuktikan dirinya sebagai ruang intelektual yang tidak hanya menjaga warisan turats namun juga mampu menjawab persoalan-persoalan baru yang hadir di tengah masyarakat modern.

(ed. Erfin)

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less