Beranda » Berita » Syekh Yasir Al-‘Adni Isi Dauroh Ilmiah dan Sanadan Hadis Arba’in An-Nawawi di Ma’had Aly Lirboyo

Syekh Yasir Al-‘Adni Isi Dauroh Ilmiah dan Sanadan Hadis Arba’in An-Nawawi di Ma’had Aly Lirboyo

Kediri — Ma’had Aly Lirboyo kembali menggelar perhelatan akademik dalam rangkaian Dauroh Ilmiah sekaligus Sanadan Kitab Al-Arba’in An-Nawawiyyah pada Selasa, (28/07/2026).

Kegiatan tersebut mengusung tema Manhaj Ahlissunnah fi al-‘Amal bi al-Hadits ad-Dha’if yang berarti: “Metode Ahlussunnah dalam Mengamalkan Hadis Dhaif”.

Bertempat di Aula Al-Muktamar, kegiatan ini diikuti hampir seluruh mahasantri Marhalah Ula dan Marhalah Tsaniyah Ma’had Aly Lirboyo.

Tingginya jumlah peserta menunjukkan antusiasme mahasantri dalam mengikuti forum keilmuan tersebut.

Kegiatan ini juga dihadiri sejumlah tokoh penting dari lingkungan Pondok Pesantren Lirboyo dan Ma’had Aly. Tampak hadir Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus.

Turut hadir anggota Senat Ma’had Aly Lirboyo, KH. Yasin Mustafa Kamal, serta jajaran Ketua Pondok, di antaranya Dr. KH. Adibussholeh Anwar, M.Pd., dan K. Hasyim.

Dari unsur Ma’had Aly, hadir Mudir ‘Am KH. Atho’illah Sholahuddin Anwar, K. M. Aminulloh Mahin, M.Pd., Bpk. M. Rifa’i Bachrun, M.Ag., Bpk. Fathurrahman Mudhoffar, M.Ag., dan Bpk. M. Syarif Subhan, M.Ag.

Hadir pula sejumlah dosen Kuliah Takhassus dan Marhalah Ula, di antaranya KH. Ali Khidir dan K. Reza Zakariya Yusa’.

Sejumlah pendamping Syekh Yasir juga turut berada di bagian belakang panggung. Mereka bergabung bersama para tokoh Pondok Pesantren Lirboyo dan Ma’had Aly yang menghadiri kegiatan tersebut.

Giat dauroh tersebut berlangsung sepenuhnya menggunakan bahasa Arab. Agus Ahmad Mihyal Manutho Muhammad bertugas memandu jalannya acara sebagai pembawa acara.

Para mahasantri tampak menyimak setiap untaian kalimat yang disampaikan dengan penuh perhatian dan takzim. Penggunaan bahasa Arab secara penuh turut menghadirkan suasana akademik yang khas dalam forum tersebut.

Setelah pembukaan, pembawa acara mempersilakan KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus selaku Pengasuh Pondok Lirboyo dan Mudir ‘Am Ma’had Aly Lirboyo, KH. Atho’illah Sholahuddin Anwar, untuk menyampaikan sambutan.

Dalam bahasa Arab, beliau berdua memberikan pengantar singkat mengenai tema dauroh yang menjadi pembahasan pada sore itu.

Profil Singkat Narasumber

Dauroh Ilmiah ketiga ini menghadirkan Syekh al-Qadhi al-Musnid Dr. Yasir al-‘Adni bin Salim asy-Syahiri sebagai narasumber utama.

Beliau merupakan ulama asal Tarim, Hadramaut, Yaman, yang dikenal memiliki kepakaran dalam bidang fikih, akidah, dan ilmu hadis.

Lahir di Abyan, Yaman, pada 1972, Syekh Yasir menempuh pendidikan di Jami’ah Darul Ulum asy-Syar’iyyah Hudaidah. Beliau kemudian melanjutkan studi di Sudan hingga meraih dua gelar doktor dalam bidang ilmu hadis dan ilmu akidah.

Dalam perjalanan akademiknya, Syekh Yasir aktif mengajar di berbagai perguruan tinggi di Sudan, Aden, dan Seiyun. Beliau juga membina sejumlah halaqah keilmuan dan daurah hadis.

Syekh Yasir berguru kepada banyak ulama besar di Yaman, Tarim, dan Sudan. Melalui perjalanan tersebut, beliau memperoleh sanad keilmuan dalam bidang hadis, fikih, usul fikih, serta berbagai disiplin ilmu Islam lainnya.

Di bidang kepenulisan, Syekh Yasir telah menghasilkan puluhan karya ilmiah. Beberapa di antaranya ialah Al-‘Aqidah al-Mustathabah, Taudhih al-Lathif, Syarh al-Baiquniyyah, As-Sanad al-Musalsal, dan At-Thuruq al-Mardhiyyah.

Saat ini, Syekh Yasir menjabat sebagai Rektor Institut Darul Hadits li Irtsi an-Nabawi, Tarim, Yaman.

Sebelumnya, Syekh Yasir juga pernah mengemban amanah sebagai qadhi Mahkamah Aden sejak 2001 dan menjadi penasihat Kementerian Agama Yaman.

Membahas Metode Ahlussunnah dalam Mengamalkan Hadis Dhaif

Dalam pemaparannya, Syekh Yasir menjelaskan dasar-dasar ilmu hadis, perkembangan disiplin tersebut, serta sejumlah tokoh yang berperan dalam penyusunan dan pengembangannya.

Beliau juga menguraikan metode Ahlussunnah dalam menyikapi dan mengamalkan hadis dhaif.

Pembahasan tersebut memberikan pemahaman kepada para peserta bahwa penggunaan hadis dhaif memiliki kaidah, batasan, dan ketentuan yang telah dirumuskan oleh para ulama.

Setelah menyampaikan materi utama, Syekh Yasir membuka sesi dialog ilmiah. Beliau mempersilakan seluruh peserta untuk mengajukan berbagai pertanyaan mengenai persoalan dan problematika yang berkaitan dengan ilmu hadis.

Melalui pembawa acara, tiga peserta memperoleh kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan secara bergantian.

Sesi tersebut berlangsung interaktif dan memberikan ruang kepada mahasantri untuk memperoleh penjelasan langsung berdasarkan landasan keilmuan hadis. Sesi tanya jawab berlangsung selama kurang lebih 30 menit.

Ijazah Sanad Al-Arba’in An-Nawawiyyah

Selain membahas persoalan ilmiah, dauroh ini juga menjadi momentum penyampaian sanad Kitab Al-Arba’in An-Nawawiyyah.

Sebelum memberikan ijazah, Syekh Yasir menyebutkan rangkaian guru yang menjadi mata rantai sanad keilmuannya.

Beliau kemudian memberikan ijazah umum atau ijazah ‘ammah kepada seluruh peserta yang hadir. Para mahasantri menerima pemberian ijazah tersebut dengan mengucapkan “qabiltu” secara serentak.

Ucapan itu menjadi bentuk penerimaan atas sanad dan ijazah keilmuan yang diberikan. Suasana aula terasa semakin khidmat ketika seluruh peserta mengikuti rangkaian sanadan dengan penuh perhatian.

Setelahnya, pembawa acara mempersilakan Syekh Yasir untuk memimpin doa penutup. Para mahasantri sesekali mengucapkan “amin” secara serentak untuk mengiringi setiap untaian doa yang dipanjatkan.

Suasana Aula dipenuhi kekhusyukan dan harapan agar ilmu serta sanad yang diperoleh membawa keberkahan. Pembawa acara kemudian mengumumkan berakhirnya seluruh rangkaian kegiatan.

Acara ditutup dalam suasana penuh rasa syukur. Para peserta berharap ilmu dan sanad yang telah mereka terima dapat menjadi bekal untuk melanjutkan dan menjaga tradisi keilmuan Islam.

Menjadi Kesempatan Berharga bagi Mahasantri

Salah seorang peserta, Saiful Bahri, mengaku memperoleh banyak manfaat dari dauroh tersebut.

Mahasantri Semester III Bagian F03 asal Jakarta itu merasa bersyukur karena tidak hanya mendapatkan pendalaman materi ilmu hadis, tetapi juga memperoleh sanad Kitab Al-Arba‘in An-Nawawiyyah yang bersambung hingga Rasulullah.

Menurutnya, kesempatan belajar secara langsung kepada seorang ulama dari Yaman menjadi pengalaman berharga, terutama bagi mahasantri yang sebelumnya belum memiliki sanad kitab tersebut.

“Saya sangat senang bisa mengikuti dauroh yang menghadirkan langsung Syekh Dr. Yasir al-‘Adni.

Kegiatan ini benar-benar membuka wawasan saya tentang ilmu hadis. Terlebih lagi, bagi mahasantri yang sebelumnya belum memiliki sanad, acara ini menjadi kesempatan berharga untuk memperolehnya,” ungkap Saiful Bahri. (ed. Zaeini)

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less