Home » Artikel » Artikel Mahasantri » Dzulhijjah: Bulan Yang Penuh Dengan Keutamaan dan Nilai Humanisme

Dzulhijjah: Bulan Yang Penuh Dengan Keutamaan dan Nilai Humanisme

Fuad Amin 03 Jun 2025 458

Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan yang sangat dimuliakan dalam Islam. Bulan ini dikenal sebagai Al-Asyhur Al-Hurum, yaitu bulan yang memberikan kesempatan bagi umat Muslim untuk memperbanyak amal ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Selain dimensi spiritualnya yang kuat, ibadah di bulan ini juga mengandung nilai-nilai humanisme yang sangat penting, seperti semangat berbagi, kepedulian sosial, dan penguatan hubungan antar sesama manusia.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), humanisme adalah aliran yang bertujuan menghidupkan rasa perikemanusiaan dan mencita-citakan pergaulan hidup yang lebih baik.

Dalam konteks Islam, nilai-nilai humanisme ini terwujud dalam ibadah yang tidak hanya bersifat vertikal (hablum minallah), yaitu hubungan manusia dengan Allah. Melainkan juga horizontal (hablum minannas), yaitu hubungan antar sesama manusia.

Di bulan Dzulhijjah, nilai-nilai kemanusiaan ini sangat jelas terlihat melalui dua ibadah utama, yaitu ibadah kurban dan ibadah haji. Berikut penjelasannya:

Kurban Sebagai Simbol Kepedulian Sosial

    Ibadah kurban yang dilaksanakan pada Hari Raya Idul Adha merupakan simbol nyata dari kepedulian sosial. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

    لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ، كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوْا اللّٰهَ عَلى مَا هَدَىكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ 

    Artinya: “Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin.” (Q.S. Al-Hajj: 37)

    Syekh Thahir Ibn ‘Asyur, seorang mufasir terkemuka menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan prinsip kepedulian sosial yang tinggi dalam ibadah kurban.

    Penyembelihan hewan dan pemotongan daging bukanlah tujuan utama, melainkan hanya sebagai sarana atau wasilah agar manusia dapat memanfaatkan hewan kurban tersebut untuk berbagi dengan sesama, terutama fakir miskin dan dhuafa:

    وفي قوله: لن ينال الله لحومها ولا دماؤها ولكن يناله التقوى منكم إيماء إلى أن إراقة الدماء وتقطيع اللحوم ليسا مقصودين بالتعبد ولكنهما وسيلة لنفع الناس بالهدايا إذ لا ينتفع بلحومها وجلودها وأجزائها إلا بالنحر أو الذبح وأن المقصد من شرعها انتفاع الناس المهدين وغيرهم

    Artinya: “Dalam firman-Nya: Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu, terdapat isyarat bahwa mengalirkan darah dan pemotongan daging bukanlah tujuan utama dalam beribadah. Kedua hal tersebut hanyalah sarana untuk memberikan manfaat kepada manusia melalui pemberian daging kurban. Sebab, daging, kulit, dan bagian-bagian hewan kurban hanya dapat dimanfaatkan melalui penyembelihan atau pemotongan. Oleh karena itu, maksud utama dari syariat ini adalah agar manusia yang menerima hadiah tersebut baik yang diberi kurban maupun yang lainnya dapat memperoleh manfaat.” (Muhammad At-Thahir Ibn ‘Asyur, At-Tahrir wa At-Tanwir (Tunisia: Ad-Dar Al-Arabiyah Al-Kitab), vol. 17, h. 267)

    Dengan demikian, daging dan darah hewan kurban tidaklah sampai kepada Allah SWT, karena Allah tidak membutuhkan keduanya. Yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan seorang Muslim, yaitu sikap melawan rasa cinta terhadap harta dan kikir dengan berkurban, peduli, dan berbagi kepada sesama sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperkuat solidaritas sosial.

    Haji Sebagai Simbol Kesetaraan dan Pengampunan

    Ibadah haji merupakan ritual yang melibatkan fisik dan materi secara langsung, sehingga para ulama menganggapnya sebagai ibadah yang paling utama. Syekh Qodli Husain menyatakan:

    هو أفضل العبادات لاشتماله على المال والبدن

    Artinya: “Haji adalah ibadah yang paling utama, karena mengandung aspek ritual secara materi dan fisik.” (Ibn Hajar Al-Haitami, Tuhfah Al-Muhtaj fi Syarh Al-Minhaj [Beirut: Dar Al-Fikr], vol. 2, h. 3)

    Imam Ibn Imad dalam kitabnya menjelaskan hikmah dari kata “haji” yang terdiri dari huruf ha’ dan jim. Huruf ha’ melambangkan sifat hilm (sabar/toleran), sedangkan huruf jim melambangkan jirm (dosa).

    Ini menggambarkan bahwa orang yang berhaji datang kepada Allah sambil membawa dosa-dosanya untuk memohon ampunan dari-Nya yang Maha Penyabar dan Toleran. (Lihat: Sulaiman Al-Bujairami, Hasyiyah Al-Bujairami Ala Al-Khotib [Beirut: Dar Al-Fikr], vol. 2, h. 419)

    Salah satu ritual penting dalam ibadah haji adalah melaksanakan wukuf di Arafah, yang mengajarkan nilai kesetaraan derajat manusia di hadapan Allah SWT. Rasulullah SAW dalam khutbah di Arafah membacakan Surat Al-Hujurat Ayat 13:

    يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْناكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثى وَجَعَلْناكُمْ شُعُوبًا وَقَبائِلَ لِتَعارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

    Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (Q.S. Al-Hujurat: 13)

    Dalam salah satu hadits, Nabi Muhammad SAW juga menegaskan bahwa tidak ada keutamaan seseorang atas yang lain kecuali karena ketakwaannya:

    يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ، وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ، وَلَا لِأَعْجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ، وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ، وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى

    Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Tuhan kalian satu, dan nenek moyang kalian satu. Ketahuilah, tidak ada keutamaan Arab atas non-Arab, tidak pula non-Arab atas Arab, tidak pula orang berkulit merah atas yang hitam, atau sebaliknya, kecuali karena ketakwaan.” (H.R. Al-Baihaqi)

    Syekh Hasan bin Ali Al-Fayumi menjelaskan dalam kitab beliau bahwasanya hadits ini disampaikan untuk menegaskan larangan merendahkan atau menyombongkan diri berdasarkan nasab atau keturunan:

    قال الواحدي قال أهل العلم هذا في الازدراء بالناس والتحقير لهم والاستطالة بالنسب على من يكون خامل النسب

    Artinya: “Imam Al-Wahidi berkata: Para ahli ilmu berkata: Hadits tersebut disampaikan dalam rangka merendahkan, menghina orang yang menyombongkan nasab (garis keturunan) terhadap orang yang nasabnya tidak terkenal.” (Hasan bin Ali Al-Fayumi, Fath Al-Qorib Al-Mujib ‘ala At-Targhib wa At-Tarhib: 11/757).

    Oleh karena itu, bulan Dzulhijjah ini sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan yang sangat berharga. Semua nilai tersebut akan terasa dan bermakna jika seseorang mampu memahaminya dengan baik dan tidak bermalas-malasan dalam menjalankan ibadah dan kebaikan. Imam Az-Zamakhsyari mengingatkan:

    الكسلان محنة على نفسه، حيث حرمها ما ينفعها

    Artinya: “Sifat malas adalah bencana bagi diri seseorang, karena menghalanginya dari hal-hal yang bermanfaat.” (Mahmud bin Umar Az-Zamakhsyari, Tafsir Al-Kasyaf [Riyadh: Maktabah Obekan], vol. 4, h. 170)

    Akhir kata, Dzulhijjah bukan hanya bulan ibadah spiritual, tetapi juga bulan yang mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan seperti kepedulian sosial, kesetaraan, dan solidaritas. Melalui ibadah kurban dan haji, umat Islam diajak untuk memperkuat hubungan dengan Allah dan sesama manusia secara seimbang.


    Editor: A. Zaeini Misbaahuddin Asyuari

    Penulis: Fuad Amin (Mahasantri Marhalah Tsaniyah Ma’had Aly Lirboyo)

    Kontributor

    Comments are not available at the moment.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked*

    *

    *

    Postingan Terkait
    Adab, Bukan Kultus: Menjawab Framing Negatif terhadap Tradisi Penghormatan di Pesantren

    Ahmad Mihyal Manutho Muhammad

    19 Okt 2025

    Fenomena terbaru menunjukkan penilaian sepihak terhadap pesantren. Artikel ini hadir untuk menjawab tuduhan miring tersebut

    Etika Keilmuan Qur’ani: Refleksi Nilai Adab Guru-Murid dalam Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir

    Muhammad Afin

    19 Okt 2025

    Tulisan ini merefleksikan adab penuntut ilmu dalam Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir, sebuah telaah tafsir

    Berislam dengan Bermazhab: Ikhtiar Menjaga Keabsahan Pengamalan Syariat

    Redaktur

    08 Okt 2025

    Artikel ini membahas tentang urgensi bermazhab bagi umat Islam

    Serba-Serbi Maulid Nabi, Mulai dari Keutamaan, Batasan dan Hukumnya: Kajian Maulid Nabi dalam Kitab At-Tanbihat Karya KH. Hasyim Asy’ari

    Fuad Amin

    04 Sep 2025

    Budaya Maulid Nabi menurut Pandangan Hadrotussyekh KH. Hasyim Asy’ari dalam kitabnya

    Meluruskan Arah Pembaruan Hukum Islam: Dari Rekonstruksi Menuju Kontekstualisasi

    Redaktur

    19 Agu 2025

    Membedakan antara rekonstruksi dan kontekstualisasi hukum Islam

    Semangat Memanusiakan Manusia di Hari Kemerdekaan: Interpretasi Sila Kedua Pancasila Perspektif Islam

    Redaktur

    17 Agu 2025

    Merenungi makna Sila Kedua Pancasila di Hari Kemerdekaan RI ke-80