Wisudawan Ma’had Aly Lirboyo Bedah Buku Memorial KH. Mahrus Aly di Muktamar Literasi Santri
- account_circle M. Jihad Al-Khoiri
- calendar_month 31/08/2026
- visibility 28
- comment 0 komentar
- label Berita
Tambakberas, Jombang — Di tengah kemeriahan Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35, wisudawan Ma’had Aly Lirboyo menggelar bedah buku Memorial Perjalanan Hidup KH. Mahrus Aly: Sejarah, Kiprah, dan Jejak Intelektual pada Sabtu, (29/8/2026).
Kegiatan berlangsung di SMK Kreatif Hasbullah, Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang.
Forum ilmiah itu mengupas perjalanan hidup, kiprah, dan jejak intelektual KH. Mahrus Aly. Kegiatan ini menjadi salah satu ruang refleksi bagi para muktamirin dan santri untuk mengenal lebih dekat sosok ulama kharismatik Lirboyo tersebut.
Bedah buku digagas oleh Dzaween Naja, wisudawan Ma’had Aly Lirboyo Tahun Akademik 2025–2026, bekerja sama dengan panitia Muktamar Literasi Santri.
Baca Juga: Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo Gelar Bedah Buku di Malang, Bahas Ekonomi Islam dan Istilah Fikih
Giat ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Ust. Muhammad Hafidz, S.F.U., dan Ust. M. Kholilur Rohman, S.F.U., yang juga terlibat dalam penulisan buku.
Jalannya diskusi dimoderatori oleh Ust. Endang Permana, S.F.U., anggota Perumus LBM PP HMC Lirboyo Kediri. Puluhan peserta dari berbagai daerah tampak antusias memadati forum tersebut.
Buku Memorial Perjalanan Hidup KH. Mahrus Aly tidak hanya merangkum perjalanan hidup KH. Mahrus Aly, tetapi juga merekam dinamika keilmuan, kepesantrenan, dan kebangsaan yang menyertai kiprahnya.
KH. Mahrus Aly dan Empat Tipologi Kiai
Dalam pemaparannya, Muhammad Hafidz menjelaskan bahwa KH. Mahrus Aly merupakan sosok ulama dengan peran yang sangat kompleks. Menurutnya, Mbah Mahrus merepresentasikan empat tipologi kiai yang pernah dirumuskan Gus Dur.
Pertama, Kiai Tandur, yakni kiai yang tekun menanamkan nilai keilmuan dan mendidik santri di pesantren. Kedua, Kiai Sumur, yakni sosok yang menjadi sumber ilmu bagi masyarakat.
Ketiga, Kiai Sembur, yaitu kiai yang menjadi tempat masyarakat meminta doa dan keberkahan spiritual. Keempat, Kiai Catur, yakni sosok yang piawai membaca situasi dan mengambil langkah strategis dalam kehidupan sosial-politik.
“Keempat peran tersebut melekat kuat pada diri KH. Mahrus Aly. Beliau mampu menyeimbangkan pengabdian di dalam pesantren sekaligus kepemimpinan di tengah masyarakat luas,” jelas Muhammad Hafidz.
Ta’lim wa Ta’allum sebagai Fondasi Perjuangan
Melengkapi pemaparan di atas, M. Kholilur Rohman menyoroti dasar kehidupan yang menurutnya menjadi salah satu sumber kebesaran KH. Mahrus Aly.
Ia menegaskan bahwa di balik keluasan kiprah Mbah Mahrus, terdapat kedisiplinan dalam menjaga prinsip-prinsip dasar kehidupan pesantren, terutama ta’lim wa ta’allum serta shalat berjamaah.
“Di balik kejayaan KH. Mahrus Aly yang melalang buana, beliau tetap berpegang teguh pada prinsip hidupnya, yaitu ta’lim wa ta’allum atau mengajar dan belajar serta menjaga shalat berjamaah.
Dua hal inilah yang menjadi sumber keberkahan bagi diri beliau, masyarakat, dan khususnya para santri,” pungkasnya.
Baca Juga: Ma’had Aly Lirboyo Bedah Buku Nasionalisme Religius, Uraikan Sinergi Agama dan Negara
Perwakilan wisudawan Ma’had Aly Lirboyo menyampaikan bahwa penyusunan sekaligus pembedahan buku tersebut menjadi salah satu bentuk khidmah dan rasa takzim mahasantri terhadap sosok almaghfurlah KH. Mahrus Aly.
Melalui karya tersebut, generasi muda NU diharapkan tidak hanya mengenal KH. Mahrus Aly melalui nama besarnya semata, namun juga memahami pemikiran, keistiqamahan, dan nilai-nilai perjuangan yang diwariskannya.
Bedah buku ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kembali warisan intelektual ulama pesantren kepada khalayak yang lebih luas dalam rangkaian Muktamar NU ke-35. (ed. Zaeini)

Saat ini belum ada komentar