Ibarat Bukan Sekadar Kutipan: Menjaga Konteks dan Amanah Penisbatan di Era AI
- account_circle Khabibur Rahman Syafi'i
- calendar_month 13/08/2026
- visibility 26
- comment 0 komentar
- label Artikel Mahasantri
Kesalahan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak melulu berupa teks fiktif. Dalam sejumlah kasus, teks yang ditampilkan memang benar dan sumbernya juga tepat.
Persoalan justru timbul tatkala teks itu dipisahkan dari konteks sehingga digunakan untuk mendukung kesimpulan yang sebenarnya tidak dimaksudkan oleh pengarang.
Dalam tradisi keilmuan Islam, konteks memiliki kedudukan penting dalam memahami suatu redaksi. Imam Al-Zarkasyi menjelaskan:
دَلَالَةُ السِّيَاقِ فَإِنَّهَا تُرْشِدُ إِلَى تَبْيِينِ الْمُجْمَلِ، وَالْقَطْعِ بِعَدَمِ احْتِمَالِ غَيْرِ الْمُرَادِ، وَتَخْصِيصِ الْعَامِّ، وَتَقْيِيدِ الْمُطْلَقِ، وَتَنَوُّعِ الدَّلَالَةِ، وَهُوَ مِنْ أَعْظَمِ الْقَرَائِنِ الدَّالَّةِ عَلَى مُرَادِ الْمُتَكَلِّمِ
“Petunjuk konteks dapat menjelaskan perkara yang masih global, memastikan bahwa makna yang tidak dimaksudkan tidak termasuk di dalamnya, mengkhususkan lafaz yang umum, membatasi lafaz yang mutlak, dan menunjukkan berbagai bentuk makna.
Konteks merupakan salah satu petunjuk terbesar yang menunjukkan maksud pembicara.” (Badruddin az-Zarkasyi, Al-Burhan fī ‘Ulum al-Qur’an [Kairo: Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, 1376 H/1957 M], vol. 2, h. 200)
Prinsip siyaq tidak hanya berlaku dalam memahami Al-Qur’an. Namun juga dinilai urgen ketika membaca teks fikih dan turats secara umum.
Sebuah kalimat dapat didahului ungkapan seperti qila (dikatakan), hukiya (telah dihikayatkan), fi wajhin (dalam satu pendapat), atau wa qala ba’duhum (sebagian ulama mengatakan).
Ungkapan-ungkapan ini menunjukkan bahwa pendapat yang disebutkan belum tentu menjadi pilihan pengarang.
Setelahnya, mushonif mungkin memberikan penilaian seperti wa huwa da’īfun (pendapat itu lemah), wa huwa syadz (pendapat itu ganjil), wa al-sahihu khilafuhu (pendapat yang sahih justru sebaliknya), atau wa al-mu’tamad (pendapat yang dijadikan pegangan).
Sebab itu, satu kalimat tidak selalu dapat berdiri sendiri.
Baca Juga: Ketika AI Mengarang Ibarat Kitab: Mengapa Verifikasi Sumber Itu Penting?
Jika AI hanya menampilkan potongan teks dan menghilangkan redaksi sebelum atau sesudahnya, maka pendapat yang sebenarnya dikutip untuk dibantah dapat berubah seolah-olah menjadi pendapat pilihan pengarang.
Di sinilah letak bahaya penggunaan ibarat tanpa konteks. Teksnya mungkin benar, namun kesimpulan yang ditarik darinya tetap dapat berpotensi keliru.
Menjaga Amanah Nisbat kepada Ulama
Di samping persoalan konteks, bahaya yang lebih serius muncul saat AI menisbatkan suatu perkataan kepada ulama yang sebenarnya tidak pernah mengatakannya. Imam Ibn ‘Abd al-Barr mengatakan:
فَلِذَلِكَمْ ذَكَرْتُهُ وَأَضَفْتُهُ إِلَى قَائِلِهِ؛ لِأَنَّهُ يُقَالُ: إِنَّ مِنْ بَرَكَةِ الْعِلْمِ أَنْ تُضِيفَ الشَّيْءَ إِلَى قَائِلِهِ
“Karena itulah aku menyebutkannya dan menisbatkannya kepada orang yang mengatakannya. Sebab, dikatakan bahwa termasuk keberkahan ilmu ialah engkau menisbatkan sesuatu kepada orang yang mengatakannya.” (Ibn ‘Abd al-Barr, Jami’ Bayan al-‘Ilm wa Fadlihi [KSA: Dar Ibn al-Jauzi, 1414 H/1994 M], vol. 2, h. 922–923)
Menisbatkan ilmu kepada pemiliknya merupakan bagian dari amanah ilmiah. Sebaliknya, menyandarkan kalimat buatan AI kepada seorang ulama berarti memberikan kepadanya perkataan yang tidak pernah ia ucapkan.
Kesalahan seperti ini dapat terjadi ketika seseorang menulis, misalnya, “Imam al-Ghazali berkata…,” padahal kalimat setelahnya sebenarnya merupakan rangkuman AI terhadap gagasan beliau.
Walaupun maknanya dianggap sejalan dengan pemikiran al-Ghazali, rangkuman itu tidak boleh ditampilkan sebagai kutipan langsung.
Redaksi yang lebih aman ialah: “Gagasan tersebut dapat dipahami sejalan dengan penjelasan Imam al-Ghazali mengenai….”
Setelahnya, penulis perlu menampilkan teks asli yang menjadi dasar kesimpulannya.
Pembedaan semacam ini tampak sederhana, tetapi sangat penting. Ada perbedaan antara mengutip perkataan seorang ulama dan merangkum pemikirannya.
Kutipan langsung menuntut kesesuaian redaksi dengan sumber, sedangkan rangkuman merupakan hasil pemahaman penulis terhadap sumber tersebut.
Sehingga, tanggung jawab ilmiah tetap berada pada manusia. Seorang penulis tidak dapat membebaskan dirinya dengan alasan, “Saya hanya mengambilnya dari AI.”
Pembaca tidak berhadapan dengan mesin yang digunakan selama proses penulisan, melainkan dengan nama penulis yang tercantum pada naskah tersebut.
Lima Langkah Memverifikasi Ibarat dari AI
Berdasarkan prinsip-prinsip keilmuan turats di atas, ibarat yang ditemukan melalui AI setidaknya perlu melewati lima tahap verifikasi.
- Periksa keberadaan kitab
Pastikan judul kitab dan nama pengarang yang disebutkan memang benar-benar ada. Jangan langsung menganggap sebuah bibliografi benar hanya karena AI menampilkannya secara lengkap.
- Temukan teks dalam sumber asli
Gunakan beberapa kata unik dari kutipan untuk menelusurinya dalam kitab. Percakapan dengan AI sebaiknya hanya menjadi petunjuk awal, bukan tempat mengutip teks final.
- Cocokkan identitas cetakan
Periksa penerbit, pentahqiq, tahun cetakan, nomor jilid, dan halaman. Hal ini penting karena nomor halaman dapat berbeda antara satu edisi dan edisi lainnya.
- Baca konteksnya terlebih dahulu
Jangan berhenti pada satu kalimat. Baca beberapa redaksi sebelum dan sesudahnya untuk mengetahui apakah pengarang sedang menetapkan, menukil, membantah, membatasi, atau justru melemahkan pendapat tersebut.
- Periksa kedudukan dan relevansinya
Pastikan apakah pendapat tersebut termasuk mu’tamad, sahih, dhaif, atau syadz. Selain itu, cocokkan pula tasawwur al-masalah atau gambaran persoalannya dengan kasus yang sedang dibahas.
Baca Juga: AI Bisa Keliru Mengutip Kitab, Muqabalah Jadi Kunci Verifikasi Keabsahan Sumber
Tahapan terakhir ini sangatlah penting. Sebuah ibarat dapat sahih secara teks, benar secara nisbat, dan tepat secara konteks, tetapi belum tentu relevan dengan persoalan yang hendak dijawab apabila konstruksi masalahnya berbeda.
AI Sebagai Asisten, Bukan Menggantikan Pembacaan Kitab
Pada akhirnya, persoalannya bukan menerima AI secara mutlak atau menolaknya secara mutlak. Teknologi ini dapat membantu proses penelitian apabila ditempatkan sesuai fungsinya.
- AI boleh membantu menunjukkan rak tempat sebuah kitab mungkin berada. Namun, seorang santri tetap harus mengambil dan membuka kitab aslinya.
- AI boleh memberikan kata kunci, tetapi seorang peneliti tetap harus membaca pembahasannya.
- AI boleh menawarkan terjemahan awal, tetapi penulis tetap harus memeriksa redaksi dan maknanya.
- AI juga dapat membantu memetakan kemungkinan pendapat, tetapi peneliti tetap berkewajiban memastikan kedudukannya dalam mazhab.
Dengan demikian, teknologi dapat mempercepat penelusuran, tetapi tidak serta merta menghapus tanggung jawab ilmiah.
Menjaga turats bukan hanya berarti memastikan kitab-kitab fisik tetap tersimpan di rak perpustakaan.
Lebih daripada itu, menjaga turats juga bisa diimplementasikan dengan menjaga ketepatan redaksinya, memahami konteksnya, mengetahui kedudukan pendapatnya, serta tidak menisbatkan kepada ulama perkataan yang sebenarnya tidak pernah mereka ucapkan.
Di tengah kemudahan teknologi kini, keberanian mengatakan, “Saya belum menemukan sumbernya,” justru lebih bernilai ilmiah ketimbang menampilkan ta’bir yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Lantaran, teks Arab yang fasih belum tentu ibarat. Di sisi lain, nama kitab yang lengkap belum tentu sumber. Nomor halaman yang disebutkan belum tentu bukti.
Bukti baru dimulai ketika kitab aslinya dibuka, teksnya ditemukan, konteksnya dibaca, dan nisbatnya dapat dipertanggungjawabkan.
(ed. Erfin)

Saat ini belum ada komentar