Beranda » Artikel » KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus Isi Kuliah Umum Tasawuf, Ungkap Orientasi Akhirat dalam Pola Pikir Kaum Sufi

KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus Isi Kuliah Umum Tasawuf, Ungkap Orientasi Akhirat dalam Pola Pikir Kaum Sufi

“Zuhud tujuannya untuk akhirat.”

Demikian penggalan dawuh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus saat mengawali pemaparan materi dalam Kuliah Umum Marhalah Tsaniyah Ma’had Aly Lirboyo.

Menurutnya, zuhud sejati merupakan laku spiritual yang murni berorientasi pada kepentingan akhirat. Prinsip inilah yang melandasi pola pikir sekaligus perilaku kaum sufi dalam menjalani kehidupan.

Abuya Kafabihi menegaskan bahwa tasawuf merupakan tsamratul ‘ulūm, yakni buah dari segala ilmu. Tasawuf juga menjadi benteng spiritual yang mutlak dibutuhkan oleh setiap orang yang mendalami ilmu agama.

“Para ahli fikih, hadis, hingga tafsir harus berpegang teguh pada ilmu tasawuf agar dirinya selamat,” ungkapnya saat memaparkan materi di Aula An-Nawawy Ma’had Aly Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis (16/7/2026).

Untuk memperkuat penjelasan tersebut, Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu mengutip salah satu ungkapan masyhur dalam kajian tasawuf:

مَنْ تَفَقَّهَ وَلَمْ يَتَصَوَّفْ فَقَدْ تَفَسَّقَ، وَمَنْ تَصَوَّفَ وَلَمْ يَتَفَقَّهْ فَقَدْ تَزَنْدَقَ، وَمَنْ جَمَعَ بَيْنَهُمَا فَقَدْ تَحَقَّقَ

“Barang siapa mendalami fikih tanpa bertasawuf, maka ia menjadi fasik. Barang siapa bertasawuf tanpa mendalami fikih, maka ia terjerumus pada penyimpangan. Adapun barang siapa menggabungkan keduanya, maka ia telah mencapai hakikat kebenaran,” terangnya.

Para Sahabat Juga Menjalani Tasawuf

Abuya Kafabihi menuturkan bahwa para ulama terdahulu pada hakikatnya merupakan sosok-sosok yang turut menekuni tasawuf.

Hanya saja, dalam perjalanan keilmuan mereka, terdapat disiplin tertentu yang lebih menonjol dan dikenal oleh masyarakat, seperti halnya fikih, hadis, tafsir, maupun cabang keilmuan lainnya.

Hal serupa juga tampak dalam kehidupan para sahabat Nabi Muhammad SAW. Kendati istilah tasawuf belum dikenal sebagai disiplin ilmu tersendiri, mereka telah menjalankan nilai-nilai dan laku spiritual yang menjadi fondasi ajaran tasawuf.

Pada masa Rasulullah SAW, para sahabat hidup dalam atmosfer spiritual yang begitu kuat.

Setiap langkah mereka jalani dengan penuh kehati-hatian dan sikap wara’. Mereka menyadari bahwa seluruh perbuatannya senantiasa berada dalam pengawasan Allah SWT.

“Mereka berada di bawah pengawasan langsung Ilahi. Sewaktu-waktu, Allah dapat menurunkan teguran melalui Nabi-Nya,” katanya.

Kesadaran demikian, lanjutnya, menjadi salah satu fondasi penting dalam ilmu tasawuf, yaitu sikap iḥtiyāṭ atau berhati-hati dalam segala hal.

Seorang sufi tidak hanya mempertimbangkan halal dan haram, tetapi juga menjaga diri dari perkara yang berpotensi menjauhkan hatinya dari Allah.

Menyeimbangkan Hak Ilahi dan Hak Sesama

Selain menanamkan kehati-hatian, tasawuf juga mengajarkan keseimbangan antara hak Allah, hak pribadi, dan hak sesama manusia. Abuya Kafabihi menjelaskan prinsip tersebut melalui kisah persaudaraan antara Abu Darda’ dan Salman al-Farisi.

Kala itu, Abu Darda’ dikenal sebagai sahabat yang sangat tekun beribadah. Ia berpuasa pada siang hari dan menghabiskan malamnya dengan salat.

Kesibukannya dalam beribadah membuatnya kurang memberikan perhatian kepada dirinya sendiri dan keluarganya.

Tatkala Salman al-Farisi berkunjung, ia melihat Ummu Darda’ mengenakan pakaian yang kurang terawat. Salman kemudian bertanya, “Mengapa engkau berpenampilan seperti ini?”

Ummu Darda’ menjawab dengan nada pasrah, “Saudaramu, Abu Darda’, sudah tidak memiliki keinginan terhadap dunia. Siang hari ia selalu berpuasa, sedangkan sepanjang malam ia selalu mendirikan shalat.”

Melihat keadaan demikian, Salman menasihati Abu Darda’ agar tidak berlebihan dalam beribadah hingga mengabaikan hak-hak lainnya.

“Sesungguhnya Tuhanmu memiliki hak atas dirimu, dirimu sendiri memiliki hak atasmu, dan keluargamu juga memiliki hak atasmu. Maka, berikanlah kepada setiap pemilik hak itu haknya masing-masing,” tutur Abuya Kafabihi mengutip nasihat Salman al-Farisi.

Abu Darda’ yang masih ragu terhadap tindakan Salman lantas mengadukan peristiwa tersebut kepada Rasulullah SAW. Mendengar penuturannya, Rasulullah SAW justru membenarkan nasihat Salman seraya bersabda, “Salman benar.”

Melalui kisah ini, Abuya Kafabihi hendak menegaskan bahwa tasawuf tidak mengajarkan seseorang mengasingkan diri dari kehidupan atau mengabaikan tanggung jawab sosial.

Sebaliknya, tasawuf membimbing manusia agar mampu menempatkan setiap hak secara proporsional.

Memahami Pola Pikir Kaum Sufi

Dalam pandangan lahiriah, pola pikir dan tindakan kaum sufi terkadang sulit dipahami oleh masyarakat awam. Hal itu terjadi lantaran mereka menempatkan pencapaian ukhrawi sebagai prioritas utama dalam menjalani kehidupan.

“Kacamata kaum sufi terkadang sulit dipahami secara lahiriah karena orientasi utama mereka adalah akhirat,” tandasnya.

Untuk menggambarkan kedalaman pola pikir tersebut, Abuya Kafabihi mengisahkan pengalaman Ibrahim bin Adham. Suatu ketika, seseorang bertanya kepadanya, “Di manakah keramaian?”

Ibrahim bin Adham kemudian menunjuk ke arah kuburan. Jawaban itu membuat sang penanya merasa jengkel hingga memukulnya.

Namun, alih-alih membalas dengan amarah atau mendoakan keburukan, Ibrahim bin Adham justru menengadahkan tangan ke langit dan berdoa, “Semoga Allah mengampunimu.”

Melihat respons tersebut, orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu merasa heran. Mereka lalu bertanya, “Wahai Abu Ishaq, orang ini telah menzalimi dan melukaimu. Mengapa engkau justru memohonkan ampun untuknya?”

Ibrahim bin Adham kemudian menjawab, “Aku memperoleh pahala dari kesabaranku atas pukulannya. Tidak adil apabila aku memperoleh keuntungan, sedangkan dia merugi karena telah memukulku.

Karena itu, aku memohon agar Allah mengampuninya sehingga kelak di akhirat kami berdua sama-sama beruntung tanpa ada yang dirugikan.”

Menurut KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus, kisah di atas membuka tabir pola pikir kaum sufi yang begitu memukau sekaligus melampaui kebiasaan berpikir manusia pada umumnya.

Cara pandang semacam itu membuat sejumlah laku spiritual kaum sufi kerap dianggap aneh atau “nyeleneh” oleh masyarakat.

Padahal, boleh jadi bukan tindakan mereka yang menyimpang dari kelaziman. Kapasitas dan jangkauan pemikiran manusialah yang terkadang belum mampu mengejar kedalaman samudra spiritual mereka.

Sepanjang kuliah umum berlangsung, Abuya Kafabihi menyampaikan berbagai kisah para tokoh sufi.

Melalui kisah-kisah itu, beliau tidak sekadar menggambarkan perjalanan spiritual mereka, namun juga membedah pola pikir yang melandasi setiap sikap dan tindakan kaum sufi.

“Untuk memahami perilaku kaum sufi, seseorang harus terlebih dahulu memahami orientasi akhirat yang menjadi dasar pola pikir mereka,” pungkasnya.

(ed. Zaeini)

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less