Beranda » Sirah Nabawiyah » Hijrah Nabi Dimulai pada Akhir Bulan Safar: Fakta Sejarah yang Jarang Diketahui

Hijrah Nabi Dimulai pada Akhir Bulan Safar: Fakta Sejarah yang Jarang Diketahui

Selain menjadi bulan berlangsungnya pernikahan Rasulullah SAW dengan Sayyidah Khadijah, bulan Safar ternyata menyimpan peristiwa besar lain dalam sejarah Islam.

Pada hari-hari terakhir bulan inilah perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah menuju Madinah mulai dilakukan.

Catatan dalam kitab Fath al-Mubin fi Sirah Sayyid al-Mursalin menjelaskan bahwa Rasulullah SAW tiba di Quba pada tanggal 2 Rabiul Awal. Sebelum melanjutkan perjalanan menuju Madinah, beliau bersama Abu Bakar As-Shiddiq bersembunyi selama tiga hari di Gua Tsur.

Apabila rangkaian waktu tersebut ditarik mundur, dapat diketahui bahwa perjalanan hijrah Rasulullah dimulai pada penghujung bulan Safar.

Fakta sejarah ini jarang disadari oleh sebagian masyarakat. Hijrah memang lebih sering dikaitkan dengan bulan Muharam karena ditetapkan sebagai awal penanggalan Hijriah.

Padahal, secara historis, keberangkatan Rasulullah SAW dari Makkah menuju Madinah berlangsung pada akhir Safar dan berlanjut hingga awal Rabiul Awal.

Keputusan besar untuk meninggalkan Makkah tidak muncul secara tiba-tiba. Langkah itu diambil setelah tekanan terhadap Rasulullah dan kaum Muslimin semakin berat. Mereka menghadapi pengucilan sosial, boikot ekonomi, intimidasi, hingga kekerasan fisik yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy.

Situasi semakin memuncak setelah para pemuka Quraisy mengetahui adanya kesepakatan politik dan keagamaan antara Rasulullah SAW dan penduduk Madinah melalui Baiat Al-‘Aqabah Ats-Tsaniyah.

Baiat tersebut diikuti oleh 72 laki-laki dan dua perempuan dari Madinah yang menyatakan kesiapan untuk melindungi Rasulullah serta mendukung dakwah Islam.

Tidak tega melihat umat Islam terus-menerus dikucilkan dan disakiti, Rasulullah SAW akhirnya memberikan izin kepada para sahabat untuk berhijrah.

Perpindahan tersebut bukan semata-mata upaya menyelamatkan diri, melainkan ikhtiar menjaga akidah sekaligus mempersiapkan lahirnya sebuah peradaban baru.

(Lihat: Lajnah Bahtsul Masail Madrasah Hidayatul Mubtadiin, Fath al-Mubin fi Sirah Sayyid al-Mursalin [Kediri: Dar al-Mubtadiin, 2021], h. 65)

Dar An-Nadwah, Markas Para Petinggi Quraisy

Dalam banyak peristiwa sejarah, kelompok minoritas kerap memperoleh perlakuan tidak adil dan dirugikan dalam berbagai aspek kehidupan. Kondisi serupa juga dialami oleh kaum Muslimin ketika masih menjadi kelompok minoritas di Kota Makkah.

Usai mendengar kabar bahwa Rasulullah SAW dan kaum Muslimin akan segera berhijrah, kaum Quraisy tidak tinggal diam. Mereka segera mengadakan rapat di Dar An-Nadwah, sebuah tempat yang menjadi pusat pertemuan para petinggi Quraisy.

Bangunan tersebut pada mulanya merupakan rumah Qushay bin Kilab. Dalam perkembangannya, Dar An-Nadwah menjadi tempat yang dianggap sakral dan penting bagi masyarakat Quraisy.

Di sanalah para pemimpin kabilah berkumpul untuk membahas berbagai persoalan serta merumuskan keputusan-keputusan besar yang berkaitan dengan kehidupan penduduk Makkah.

Pada suatu hari, ruangan Dar An-Nadwah dipenuhi suasana tegang dan penuh kekhawatiran. Para pemuka Quraisy berkumpul setelah mendengar kabar bahwa Rasulullah tengah mempersiapkan perjalanan menuju Madinah.

Mereka menyadari bahwa posisi Rasulullah akan semakin kuat apabila berhasil tiba di kota tersebut. Di Madinah, beliau telah memiliki barisan pendukung yang siap melindungi dakwah Islam dan memberikan perlawanan apabila kaum Quraisy kembali melakukan penindasan. (Lihat: Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyah, vol. 2, hal. 61)

Berbagai usulan kemudian disampaikan dalam pertemuan tersebut. Setelah melalui perdebatan panjang, para pemuka Quraisy akhirnya menyetujui pendapat yang diusulkan oleh Abu Jahal.

Ia mengusulkan agar setiap kabilah mengirimkan seorang pemuda yang gagah dan kuat. Masing-masing pemuda dibekali sebilah pedang tajam. Mereka kemudian diperintahkan untuk menyerang dan membunuh Rasulullah SAW secara bersamaan.

Dengan cara tersebut, darah Rasulullah akan menjadi tanggungan seluruh kabilah Quraisy. Bani Abdu Manaf diperkirakan tidak akan sanggup menuntut balas kepada seluruh kabilah.

Apabila tetap memaksakan diri, mereka harus berhadapan dengan semua kelompok Quraisy, sesuatu yang tentu sangat sulit dilakukan. (Lihat: Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyah, vol. 2, hal. 81)

Persiapan Perjalanan Hijrah

Di tengah rencana jahat kaum Quraisy, kabar menggembirakan datang kepada Abu Bakar As-Shiddiq. Rasulullah SAW memberitahukan bahwa dirinya telah dipilih untuk menemani perjalanan hijrah menuju Madinah.

Kabar itu membuat Abu Bakar merasa sangat bahagia. Sebelumnya, ia berkali-kali meminta izin kepada Rasulullah agar diperbolehkan berhijrah sebagaimana kaum Muslimin lainnya. Namun, Rasulullah selalu memintanya agar tidak terburu-buru.

“Jangan terburu-buru. Barangkali Allah sedang mencarikan seorang teman untukmu,” pesan Rasulullah kepadanya.

Mendengar jawaban itu, Abu Bakar berharap bahwa Rasulullah sendirilah yang kelak menjadi teman perjalanannya. Harapan tersebut akhirnya menjadi kenyataan ketika Nabi memberitahukan bahwa mereka akan berhijrah bersama.

Setelah menerima kabar tersebut, Abu Bakar segera menyiapkan dua ekor unta terbaik untuk menunjang perjalanan. Ia juga menyewa seorang penunjuk jalan yang andal dari Bani Ad-Dayl bin Bakr bernama Abdullah bin Uraiqith.

Meskipun pada saat itu belum memeluk Islam, Abdullah dikenal sebagai orang yang dapat dipercaya dan sangat menguasai jalur perjalanan di sekitar Makkah. Kedua kendaraan tersebut kemudian diserahkan kepadanya. Ia diperintahkan untuk membawa keduanya ke Gua Tsur setelah tiga hari.

Persiapan tersebut menunjukkan bahwa hijrah Rasulullah dilakukan dengan perencanaan yang matang. Tawakal kepada Allah tidak membuat beliau meninggalkan ikhtiar.

Setiap kebutuhan perjalanan dipersiapkan secara teliti, mulai dari kendaraan, penunjuk jalan, hingga strategi untuk menghindari pengejaran kaum Quraisy.

Taburan Segenggam Debu

Malam keberangkatan pun tiba. Para pemuda pilihan dari berbagai kabilah Quraisy telah berjaga-jaga di depan rumah Rasulullah SAW. Mereka menunggu beliau keluar melalui pintu rumah agar dapat segera melaksanakan rencana pembunuhan yang telah disepakati.

Pada malam yang sama, Rasulullah meminta Ali bin Abi Thalib, putra pamannya, untuk berbaring di atas tempat tidur beliau. Ali juga mengenakan selimut yang biasa digunakan oleh Rasulullah.

Siasat ini bertujuan untuk menghilangkan kecurigaan para algojo Quraisy. Dari luar rumah, mereka berulang kali mengintip melalui celah-celah pintu untuk memastikan bahwa Rasulullah masih berada di tempat tidurnya.

Meski rumah beliau dijaga dengan sangat ketat, Rasulullah SAW berhasil keluar dengan selamat tanpa diketahui oleh seorang pun. Saat melewati para penjaga, beliau membawa segenggam debu lalu menaburkannya di atas kepala mereka seraya membaca firman Allah:

وَجَعَلْنَا مِنْۢ بَيْنِ أَيْدِيْهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُوْنَ

Artinya: “Kami memasang penghalang di hadapan mereka dan di belakang mereka, sehingga Kami menutupi pandangan mereka. Mereka pun tidak dapat melihat.” (QS. Yasin: 9)

Atas pertolongan Allah, pandangan para penjaga dikaburkan. Tidak seorang pun di antara mereka menyadari bahwa Rasulullah SAW telah berjalan keluar dan melewati tempat mereka berjaga.

Para pemuda tersebut masih mengira bahwa Rasulullah berada di dalam rumah. Mereka baru mengetahui kekeliruannya ketika mendapati Ali bin Abi Thalib yang berbaring di tempat tidur beliau.

Sementara itu, Rasulullah telah bergerak menuju tempat yang telah direncanakan untuk menemui Abu Bakar As-Shiddiq. (Lihat: Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyah, vol. 2, hal. 160)

Peristiwa ini menjadi awal dari perjalanan panjang yang kelak mengubah arah sejarah umat manusia. Hijrah yang dimulai pada penghujung bulan Safar itu tidak sekadar menandai perpindahan Rasulullah SAW dari satu kota ke kota lainnya.

Lebih dari itu, hijrah menjadi titik peralihan dari masa penindasan menuju terbentuknya masyarakat Islam yang berdaulat di Madinah.

Karena itu, akhir bulan Safar menyimpan salah satu episode paling menentukan dalam sejarah Islam. Di tengah ancaman pembunuhan dan pengejaran kaum Quraisy, Rasulullah SAW menunjukkan bahwa perjuangan harus dijalankan dengan keberanian, perencanaan yang matang, ikhtiar maksimal, serta keyakinan penuh terhadap pertolongan Allah. (ed. Erfin)

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less