Pelatihan Tahqiq Makhtutot Ma’had Aly Lirboyo Tuntas, Hasil Tahqiq Peserta Akan Diterbitkan
- account_circle M. Farid Mujiburrahman
- calendar_month 28/09/2026
- visibility 53
- comment 0 komentar
- label Berita
Kediri – Setelah melewati serangkaian sesi pelatihan tahqiq makhtutot bersama Nahdlotut Turats, rangkaian kegiatan tersebut akhirnya memasuki tahap akhir.
Selama dua hari, para peserta mendapat bimbingan langsung dari para pakar tahqiq dengan harapan ilmu yang diperoleh dapat terus dikembangkan dan diamalkan pada masa mendatang.
Baca Juga: Siapkan Kader Muhaqqiq, Ma’had Aly Lirboyo Gelar Pelatihan Tahqiq Makhtutot Bersama Nahdlotut Turots
Pelatihan resmi ditutup pada Ahad, (27/9/2026) pukul 18.30 WIB, seusai sesi praktik berakhir. Sejak awal hingga penutupan, Gedung Yayasan Pondok Pesantren Lirboyo menjadi lokasi utama seminar sekaligus praktik tahqiq makhtutot.
Hasil Tahqiq Peserta Akan Diterbitkan
Mengawali sesi penutupan, Gus Nanal Ainul Fauz menyampaikan bahwa hasil praktik tahqiq para peserta akan ditindaklanjuti hingga tahap penerbitan.
“Yang kurang nanti segera dilengkapi agar tahqiqan ini bisa segera terbit,” jelasnya.
Ia menuturkan, Nahdlotut Turats sebelumnya juga pernah menerbitkan hasil praktik peserta ketika menyelenggarakan pelatihan serupa di Kudus.
Karena itu, pihaknya berencana melakukan hal yang sama terhadap hasil tahqiq para mahasantri Lirboyo.
Seusai pengantar tersebut, kegiatan dilanjutkan dengan penilaian hasil tahqiq oleh Ust. Azro Abdul Halim, Lc., M.A., salah seorang perwakilan Nahdlotut Turats.
Pada sesi ini, peserta mengkaji naskah Suluk al-Jadah wa Izalah adz-Dzolamah wa al-Ma’anidah li Man Raghiba fi Iqamah al-Jumu’ah ma’a al-I’adah karya Syekh Nawawi Banten.
Naskah tersebut menjadi maqra’ yang telah ditahqiq para peserta selama sesi praktik.
Peserta terbagi ke dalam empat kelompok dengan pembahasan yang telah ditentukan.
Dalam proses evaluasi, Ust. Azro mengajukan sejumlah pertanyaan, mulai dari alasan pemilihan ta’bir, keterangan mengenai ulama yang menukil naskah ulama lain, hingga kesesuaian antara naskah asli atau makhtutot dengan hasil muqabalah.
Meski Ust. Azro menyampaikan pertanyaan dengan gaya santai dan sesekali diselingi humor, suasana evaluasi tetap terasa menegangkan bagi para peserta.
Sejumlah kelompok mampu menjawab pertanyaan sekaligus menyertakan argumentasi atas hasil tahqiq mereka.
Dari empat kelompok yang dievaluasi, Ust. Azro menilai sebagian besar peserta telah memahami materi dan cukup cakap dalam mempraktikkan metode tahqiq.
Catatan Penting bagi Seorang Muhaqqiq
Di sela-sela sesi tanya jawab, Ust. Azro turut menyampaikan sejumlah catatan penting yang perlu diperhatikan oleh seorang muhaqqiq. Salah satunya berkaitan dengan pencantuman tarjamah atau biografi ulama dalam proses tahqiq.
“Kita lihat dulu kitab yang ditahqiq dan siapa target pembacanya,” tuturnya saat mengomentari hasil salah satu kelompok.
Menurutnya, pemahaman terhadap konteks kitab dan sasaran pembaca akan membantu seorang muhaqqiq menentukan biografi ulama yang perlu dicantumkan dan yang tidak. Sebab, tidak semua biografi harus dimasukkan ke dalam catatan.
Pencantuman informasi yang terlalu panjang justru dapat memperluas ta’liq atau catatan kaki. Padahal, tahqiq menuntut ketelitian sekaligus kecermatan dalam memilih informasi yang benar-benar diperlukan untuk memperjelas pembahasan.
Ijazah “At-Ta’ahud” bagi Para Penuntut Ilmu
Rangkaian pelatihan kemudian ditutup dengan pembacaan Surat Al-Fatihah dan doa kafaratul majlis. Sebelum sesi foto bersama, Ust. Azro memberikan sebuah ijazah yang ia sebut sebagai “At-Ta’ahud”.
Ia menjelaskan, ijazah tersebut berupa perjanjian antarsesama penuntut ilmu agar tetap terikat dalam kebersamaan hingga kehidupan akhirat.
Melalui perjanjian itu, seseorang yang lebih dahulu memperoleh keselamatan diharapkan tidak melupakan sahabatnya.
“Ijazah ini didapatkan dari 40 orang waliyullah,” tutur Ust. Azro sembari menceritakan proses dirinya menerima ijazah tersebut dari sang guru.
Tumbuhkan Optimisme Mentahqiq Naskah Kuno
Pelatihan tahqiq makhtutot juga memberikan pengalaman tersendiri bagi para peserta. Salah satunya dirasakan Herlambang Setiardi, mahasantri Marhalah Ula Semester II asal Lampung Selatan, Provinsi Lampung.
Ia mengaku memperoleh banyak pengalaman baru selama mengikuti kegiatan tersebut.
“Bagi saya, ini suatu hal yang baru karena sebelumnya saya tidak pernah mengikutinya,” ungkapnya dengan raut wajah bahagia.
Herlambang juga merasa bersyukur dapat mengikuti pelatihan bersama para peserta terpilih dari berbagai jenjang.
Menurutnya, suasana pelatihan terasa menyenangkan karena para tutor mampu menyampaikan materi dengan mengalir dan mudah diikuti.
“Waktunya terasa begitu cepat, apalagi saat praktik. Tak terasa tiba-tiba sudah Maghrib,” ujarnya.
Semangat dan rasa ingin tahu membuatnya terus mengikuti setiap sesi dengan saksama.
Bagi Herlambang, pelatihan tersebut juga berhasil menumbuhkan optimisme untuk suatu saat ikut terlibat langsung dalam pentahqiqan karya-karya ulama.
“Suatu saat pasti saya bisa mentahqiq kitab, meski hanya kitab kecil,” pungkasnya. (ed. Erfin)

Saat ini belum ada komentar