Bedah Buku Fikih Birokrasi, Mutakhorrijin Anfa’ Ma’had Aly Lirboyo Kaji Tata Kelola Pemerintahan Perspektif Fikih
- account_circle Muhamad Andi Suryono
- calendar_month 14/09/2026
- visibility 152
- comment 0 komentar
- label Berita
Kediri — Mutakhorrijin Anfa’ Ma’had Aly Lirboyo Tahun Akademik 2026-2027. menggelar bedah buku Fikih Birokrasi: Refleksi Fikih terhadap Sistem Pemerintahan di Indonesia dalam kegiatan seminar ilmiah dan bedah buku yang diselenggarakan Badan Pengelola (BP) Ekstrakurikuler Ma’had Aly Lirboyo pada Senin, (14/9/2026).
Kegiatan berlangsung di Aula An-Nawawy mulai pukul 14.00 WIB dan terbuka untuk umum. Panitia mencatat peserta berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai siswa kelas I Aliyah hingga mahasantri Ma’had Aly Semester VI.
Baca Juga: Fikih Birokrasi: Ketika Turats Membaca Ulang Tata Kelola Pemerintahan Modern
Giat bedah buku tersebut menghadirkan tiga perwakilan penulis selaku narasumber, yakni Bpk. Ahmad Baihaqi Khoiron, Bpk. Arfan Ahwadzy dan Bpk. Bayazid Albusthomi.
Turut hadir sejumlah dewan dosen dan jajaran Mudir Ma’had Aly Lirboyo. Tampak hadir Bpk. Ihsanuddin Ishaq, M.Ag., Bpk. Mirza Afiqi, M.Ag., serta Bpk. Fathurrahman Mudhoffar, M.Ag., yang mewakili jajaran Mudir.
Buku Fikih Birokrasi sendiri telah diluncurkan pada Januari 2026. Karya tersebut lahir dari kajian mutakhorrijin Anfa’ Ma’had Aly Lirboyo dengan mengusung konsenterasi kajian fikih kebangsaan, ke dalam pembahasan tata kelola pemerintahan.
Membaca Birokrasi melalui Perspektif Fikih
Buku Fikih Birokrasi mengulas sistem pemerintahan modern, khususnya di Indonesia, melalui perspektif fikih.
Pembahasannya juga membandingkan praktik tata kelola pemerintahan Islam dari masa ke masa.
Dalam proses penyusunannya, KH. Zahro Wardi, selaku anggota Komisi Fatwa MUI Jawa Timur, turut menjadi salah satu pembimbing.
Bpk. Ahmad Baihaqi, salah satu penyusun buku sekaligus pemateri, menegaskan bahwa Islam memiliki keluwesan dalam urusan tata kelola pemerintahan. Ia mencontohkan sistem birokrasi pada masa Sayyidina Umar yang menurutnya bersifat adaptif.
Artinya, sistem pemerintahan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan kondisi wilayah tempat ia diterapkan.
Ia memberikan contoh ketika pemerintahan Islam berkembang di Persia. Sistem yang diterapkan tidak sepenuhnya sentralistik dengan seluruh urusan terpusat di ibu kota, tetapi dibagi ke dalam sejumlah distrik dengan menyesuaikan pola tata kelola yang berlaku di wilayah tersebut.
Menurut pandangan Ahmad Baihaqi, fleksibilitas tersebut menunjukkan bahwa tata kelola pemerintahan dalam Islam tidak hadir dalam satu bentuk yang kaku, melainkan dapat menyesuaikan konteks tanpa melepaskan prinsip-prinsip dasarnya.
Penyusunan Buku Libatkan Wawancara Lapangan
Sementara itu, pembicara kedua, Bpk. Arfan Ahwadzy, yang juga merupakan salah satu penyusun buku, memaparkan sejumlah proses di balik penyusunan Fikih Birokrasi.
Ia menjelaskan bahwa tim penulis tidak hanya mengandalkan kajian pustaka. Mereka juga melakukan wawancara langsung dengan sejumlah pihak, di antaranya Kementerian Agama RI di Jakarta, Dewan Perwakilan Rakyat RI, serta beberapa akademisi yang memiliki perhatian pada bidang birokrasi dan siyasah.
Langkah ini dilakukan supaya pembahasan dalam buku itu tidak hanya relevan bagi kalangan santri, tetapi juga dapat dibaca dan dipahami masyarakat secara lebih luas.
Bedah Buku Difokuskan pada Dialog Ilmiah
Kendati bertajuk bedah buku, kegiatan kali ini juga tetap membuka ruang dialog ilmiah.
Moderator memberikan waktu sekitar 30 menit kepada pemateri untuk menyampaikan pokok-pokok pembahasan buku. Setelah itu, forum dilanjutkan dengan sesi dialog bersama peserta selama sekitar 90 menit.
Sesi ini tidak hanya menjadi ruang tanya jawab, namun juga diarahkan untuk mengkritisi isi buku.
Para peserta diberi ruang luas untuk menyampaikan tanggapan, koreksi, maupun masukan yang nantinya dapat menjadi bahan evaluasi bagi penyusun.
Sejumlah peserta menyampaikan tanggapan secara rinci dan disertai data. Hal demikian membuat forum berlangsung cukup dinamis.
Moderator bahkan memberikan apresiasi kepada salah seorang penanya dari kelas II Aliyah yang menyampaikan kritik dengan argumentasi terstruktur.
“Tanggapannya bagus. Bukan sekadar klaim atau pendapat pribadi, tetapi berangkat dari data dan punya dasar yang jelas,” ujar moderator.
Stan Buku Ramai Dikunjungi Peserta
Selain forum diskusi dan bedah buku, BP Ekstrakurikuler Ma’had Aly juga memberi ruang kepada mutakhorrijin untuk memperkenalkan dan memasarkan karyanya melalui stan resmi yang didirikan di sebelah gedung acara.
Baca Juga: Wisudawan Ma’had Aly Lirboyo Bedah Buku Memorial KH. Mahrus Aly di Muktamar Literasi Santri
Sejak kegiatan dimulai, stan buku terlihat ramai dikunjungi para peserta. Panitia juga menyediakan ringkasan materi Fikih Birokrasi sebanyak enam lembar guna memudahkan peserta yang belum memiliki bukunya supaya tetap dapat mengikuti pembahasan dengan baik.
Antusiasme terhadap buku tersebut juga terlihat dari sejumlah peserta yang telah membelinya sebelum acara digelar.
Kegiatan berakhir sekitar pukul 17.00 WIB dan ditutup dengan doa. Seusai acara, sebagian peserta masih terlihat mendatangi stan dan menunjukkan ketertarikan terhadap beberapa karya yang dipajang dalam rangkaian bedah buku tersebut. (ed. Zaeini)

Saat ini belum ada komentar