Bidang Penelitian Ma’had Aly Gelar Pelatihan Penulisan Jurnal Berbasis Turats bersama Prof. Agus Maimun
- account_circle Erfin Surya Kurniawan
- calendar_month 26/07/2026
- visibility 36
- comment 0 komentar
- label Berita
Kediri — Ma’had Aly Lirboyo terus berkomitmen meningkatkan kualitas dan keterampilan literasi para mahasantri.
Melalui Bidang Penelitian dan Penulisan Karya Ilmiah (BP2KI), Ma’had Aly Lirboyo mengadakan seminar kepenulisan jurnal dan karya ilmiah bertema “Pelatihan Penulisan Jurnal Berbasis Turats ” pada Sabtu, (25/07/2026).
Lebih dari 500 mahasantri dari jenjang Marhalah Ula dan Marhalah Tsaniyah tampak antusias memadati lokasi kegiatan.
Peserta dari Marhalah Ula terdiri atas Tim Forum Kajian Ilmiah (FKI), Tim Kodifikasi, peserta Kursus Jurnal Bidang Ekstrakurikuler, serta mahasantri pilihan dari setiap angkatan mulai Semester I-V.
Seminar tersebut menghadirkan Direktur Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. H. Agus Maimun, M.Pd., sebagai narasumber utama.
Turut hadir mendampingi narasumber, Mudir Dua Ma’had Aly Lirboyo K. M. Aminulloh Mahin, M.Pd., Mudir Empat Bpk. M. Rifa’i Bachrun, M.Ag., serta jajaran pengurus Bidang Penelitian dan Penulisan Karya Ilmiah Ma’had Aly Lirboyo.
Jalannya kegiatan dipandu secara interaktif oleh Bpk. Asrar selaku moderator. Atmosfer keakraban langsung terasa ketika Prof. Agus Maimun menyapa para peserta dengan penuh kegembiraan.
Tradisi Riset dalam Khazanah Islam
Dalam paparan awalnya, Prof. Agus Maimun menekankan bahwa riset ilmiah bukanlah sesuatu yang asing dalam tradisi keilmuan Islam.
Para ulama terdahulu telah mempraktikkan berbagai metode penelitian untuk merumuskan hukum dan menghasilkan karya ilmiah.
“Ulama terdahulu sebenarnya sudah mempraktikkan metode penelitian lapangan (field research). Contohnya Imam Syafi’i yang melakukan studi lapangan hingga 15 hari untuk memetakan hukum fikih terkait masa haid,” ujarnya.
Menurutnya, tradisi meneliti menjadi kunci agar para pencari ilmu tidak hanya mengutip pendapat orang lain melalui ungkapan qala atau qila, tetapi juga berani melahirkan gagasan sendiri melalui qultu.
Namun, gagasan itu harus berdiri di atas bukti riset yang kuat dan mujahadah atau kesungguhan dalam belajar.
Selain mengulas tradisi riset para ulama, Prof. Agus Maimun juga turut membagikan pengalamannya saat menempuh pendidikan di Universitas Leiden, Belanda.
Ia mengaku kagum melihat kelengkapan manuskrip dan kitab asal Indonesia yang tersimpan rapi di perpustakaan universitas tersebut.
Menurutnya, kondisi demikian menjadi cermin bahwa penjajahan pada masa lalu tidak hanya mengincar kekayaan alam Indonesia, tetapi juga khazanah intelektual bangsa.
Karena itu, generasi pesantren perlu kembali menggali, meneliti, dan mengembangkan warisan keilmuan yang telah ditinggalkan para ulama.
Mengolah Turats Menjadi Karya Ilmiah
Memasuki sesi utama, narasumber mengajak para peserta membedah berbagai metode penelitian, mulai dari library research atau studi pustaka hingga penelitian lapangan.
Prof. Agus Maimun memaparkan cara memilih referensi yang berkualitas, menentukan fokus objek kajian, melakukan riset filologi terhadap naskah kuno, hingga menyusun strategi untuk memilih topik yang relevan dengan perkembangan zaman.
Suasana semakin hidup ketika kegiatan memasuki sesi diskusi. Dalam kesempatan itu, Prof. Agus Maimun menggarisbawahi pentingnya ketajaman analisis dibandingkan sekadar mengandalkan kutipan teks kitab.
“Yang paling kita butuhkan sebenarnya bukan sekadar bukunya, melainkan ketajaman analisis interdisiplinernya,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa kajian terhadap kitab-kitab turats memiliki peran penting dalam menjembatani pemikiran masa lalu dengan berbagai fenomena modern.
Menurutnya, tulisan ilmiah yang baik lahir dari kemampuan penulis dalam menghubungkan teks klasik dengan konteks masa kini secara kritis, sistematis, dan ilmiah.
Kajian berbasis turats tidak cukup berhenti pada pemindahan kutipan dari kitab ke dalam tulisan.
Penulis perlu membaca latar belakang lahirnya pendapat, memahami metode berpikir ulama, serta mengaitkannya dengan persoalan kontemporer melalui pendekatan yang relevan.
“Mengikat ilmu itu dengan cara ditulis, bil-kitabah, bukan hanya disampaikan melalui lisan, bil-lisan.
Apalagi permintaan dari luar negeri untuk menerjemahkan pemikiran ilmu umum ke dalam bahasa Arab cukup tinggi. Ini menjadi kesempatan bagi santri untuk mengkaji turats lebih dalam bersama para ilmuwan,” tambahnya.
Melalui pesan di atas, ia mendorong para mahasantri agar tidak hanya menjadi pembaca kitab semata, namun juga mampu mengolah kandungan turats menjadi karya ilmiah yang aktual, argumentatif, serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Kenangan Bersama Pondok Lirboyo
Yang menarik, di sela-sela penyampaian materi, Prof. Agus Maimun turut membagikan kisah nostalgianya bersama Pondok Pesantren Lirboyo. Ia mengaku telah akrab dengan suasana pesantren tersebut sejak kecil.
Bahkan, tatkala berusia empat tahun, ia pernah diajak pamannya menghadiri resepsi pernikahan almaghfurlah KH. A. Idris Marzuqi.
Kenangan tersebut membuat kehadirannya dalam seminar kali ini terasa seperti kembali mengunjungi lingkungan yang telah dikenalnya sejak lama.
Rangkaian pelatihan kepenulisan kemudian diakhiri dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Mudir Dua Ma’had Aly Lirboyo, K. M. Aminulloh Mahin.
Setelah itu, dilanjutkan dengan penyerahan cenderamata kepada pemateri sebagai bentuk apresiasi dan terima kasih atas ilmu, pengalaman, serta wawasan kepenulisan yang telah dibagikan kepada para mahasantri.
Dengan adanya pelatihan semacam ini, harapannya para mahasantri semakin terampil mengolah khazanah kitab klasik menjadi karya ilmiah yang berkualitas.
Sekaligus menjadi upaya untuk memperkuat tradisi literasi pesantren agar terus berkembang dan mampu menjawab berbagai persoalan pada masa kini. (ed. Zaeini)

Saat ini belum ada komentar